Menu
Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu Evakuasi Korban Bencana di Sulteng

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu …

Sulawesi Tengah-KoPi|&nbs...

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar Tiban karya Anne Avantie

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar …

Surabaya-KoPi| Ketua Umum...

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi dalam Tantangan Kemajuan Ekonomi Digital

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi…

Jogja-KoPi| Fakultas Ekon...

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mulai Makan Korban

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mula…

Jogja-KoPi| Lembaga Konsu...

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Thailand

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Tha…

Bantul-KoPi| Universitas ...

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo Serukan Damai dan Berbudaya di Ranah Maya

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo S…

Jogja-KoPi|  – Selas...

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Politik Bahas Perkembangan Politik Nasional

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Po…

Jogja-KoPi| Fakultas Ilmu...

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan Solusi​ Online​ untuk UKM

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan …

Jogja-KoPi| Setelah sukse...

Doa bersama Memperingati Hari Kesaktian Pancasila di Masjid Al-Jihad Akmil Magelang

Doa bersama Memperingati Hari Kesak…

KoPi-Lembah Tidar. Minggu...

Prev Next

Penonton dibuat jijik pada pementasan Metamorfosa karya Franz Kafka

Penonton dibuat jijik pada pementasan Metamorfosa karya Franz Kafka
Jogja-KoPi| Pementasan drama hari kedua teater 'pandora' sastra Inggris adaptasi prosa Metamorfosis ,penonton dibuat terkejut dengan perwujudan 'makhluk' ikonik dalam karya Franz Kafka ini. 
 
Dalam pementasan berdurasi kurang lebih 1 Jam, prosa Metamorfosis ini diubah menjadi naskah drama berjudul Metamorfosa oleh Sutradara Wilda Khoiriyah dan dimainkan 14 teman aktor mahasiswa sastra inggris. Dari 14 pemain,salah satu pemain bernama Luthfi Bahrul Anwari yang memainkan peran Gregor Samsa,adalah salah satu peran yang mencolok dibandingkan peran lainnya pada pementasan.
 
Pasalnya,Gregor ini merupakan salah satu tokoh dalam karya Franz Kafka yang berperan besar dalam alur dan jiwa dari Prosa Metamorfosis. Gregor sendiri yang merupakan seorang anak emas keluarga Samsa berubah layaknya menjadi 'makhluk' menjijikan seperti yang didiskripsikan Franz Kafka. 
 
Luthfi pun menampilkan tokoh Gregor dengan gesture dan olah tubuh seperti makhluk menggeliat yang tak menunjukkan bahwa dirinya manusia. Spontan penonton terkejut melihat penampilan Gregor yang berbeda dari ekspetasi mereka. 
 
Mahasiswa muda semester 3 jurusan sastra dari salah satu Universitas ternama di DIY, Fania (20) mengungkapkan dirinya terkejut melihat penampilan Grepor yang berbeda dari pemikirannya setelah membaca novel Franz Kafka. Melihat wujud Gregor yang serba absurd dan aneh ini pun yang membuatnya apresiatif pada persembahan hari kedua.
"Aku sebenarnya sudah membaca Kafka satu kali,dan ini sangat berbeda dari gambaran saya saat melihat Gregor ,aku kira akan ada figur kostum kecoa untuk menunjukkan perubahan Gregor sehingga memunculkan pertanyaan 'apa itu?' 'apa itu?',"ujarnya usai Pementasan di Depan Gedung Societet TBY, ditulis pada Rabu (13/9). 
 
Salah satu sarjana muda Sastra Inggris (22) yang baru saja lulus bernama Kanza juga senada dengan Fania dalam mengapresiasi pementasan perdana mahasiswa sastra inggris. Ia yang sudah meneliti dan membedah karya Franz Kafka menjelaskan memang dalam prosa metamorfosis sang penulis tidak mendeskripsikan secara rinci makhluk menjijikan ala Kafka. 
"Menurut saya ,sebagian besar alur cerita dalam prosa Metamorfosa sudah tersampaikan pada pementasan malam ini. Memang dalam karya Franza Kafka yang saya bedah itu, ia(Kafka) hanya menyebutkan Gregor sebagai makhluk bodoh dan menjijikan. Deskripsi serangga seperti kecoa atau kumbang kotoran mungkin ditunjukkan dari karakter dan suara Gregor yang menunjukkan wujud  semacam makhluk serangga,"jelas Kanza.
Sementara beberapa kalangan penonton yang belum membaca prosa metamorfosis merasa kesulitan dalam menerka perubahan makhluk Gregor.Usti Mappuji (24) menuturkan bahwa peran yang dibawa aktor Luthfi lebih menyerupai manusia cacat dibandingkan hewan atau makhluk serangga. 
" Mirip kaya orang cacat, sehingga saya sulit menebak makhluk apa yang dibawa oleh Aktor,"tutur Usti.
Dari kalangan penggiat teater ,Nawawi (24) dari teater Eska justru menerangkan dirinya sudah mendapatkan gambaran perubahan Gregor sebagai Kecoak dalam pementasan ini. Menurutnya,wujud kecoak ini ditunjukkan dengan pembawaan karakter Gregor yang selalu bersembunyi ditempat tertutup seperti dibawah dipan kasur. 
 
"Saya menangkap ide kecoak itu saat pemain menunjukkan insting serangga yang bersembunyi dibawah ranjang, itu mirip sekali dengan kecoak yang merespon kehadiran manusia dengan cara bersembunyi dan masuk ke kolong ranjang,"ucap Nawawi.
 
Tak hanya itu,ia juga menyampaikan bahwa dirinya terkejut dan aprsiatif dengan adanya perubahan perspektif saat grup teater Pandora membawakan prosa karya Franz Kafka diatas panggung. Ia melihat adanya perubahan sisi pandangan atau angle cerita yang sebelumnya Gregor Samsa mendominasi alur cerita ,berubah saat pementasan dimana tokoh-tokoh lainnya mengarahkan alur dengan cara respon kejutan pada perubahan Gregor.
 
Terlepas dari permainan akting  13 pemain lainnya,yang terbilang cukup apik,namun peran Gregor Samsa sudah mampu membuat penonton merasa jijik,takut dan iba melihat nasibnya. 
 
Meski demikian beberapa penonton juga mengeluhkan seperti pada beberapa bagian dialog,seolah olah vokal pemain tidak sampai ke beberapa kursi penonton. Namun secara garis besar penonton sudah merasa puas pada adaptasi unik Teater Pandora pada karya Fenomenal buatan Franz Kafka.
 
Pementasan pun berlanjut menuju puncaknya, drama adaptasi Prosa muram nan mencekam The Black Cat karya Edgar Allan Poe dijadwalkan tampil pada tanggal 13 September 2017. Seperti pementasan-pementasan sebelumnya, Pintu societet TBY sudah terbuka pada pukul 18.30. Penonton diharapkan tiba tepat waktu dengan tujuan agar kebagian mendapatkan kursi penonton. 
 
Pasalnya merefleksi pada pementasan dua hari sebelumnya, banyak penonton tidak mendapatkan kursi karena datang terlambat dan terpaksa harus duduk dibawah.| Syidiq Syaiful Ardli
 
back to top