Menu
Gunung Merapi Berpeluang Alami Letusan Efusif Yang Aman.

Gunung Merapi Berpeluang Alami Letu…

Jogja-KoPi| Kepala Balai ...

BPPTKG: Merapi Masih Sangat Awal di Proses Magmatisnya.

BPPTKG: Merapi Masih Sangat Awal di…

Jogja-KoPi| Balai Penyeli...

Pakde Karwo : Terima Kasih Atas Empati dan Duka Cita AS kepada Korban dan Dampak Terorisme di Jatim

Pakde Karwo : Terima Kasih Atas Emp…

Jatim-KoPi| Gubernur Jati...

Pemerintah Bangun Industri Digital untuk Kurangi Kesenjangan Ekonomi

Pemerintah Bangun Industri Digital …

Sleman-KoPi| Pemerintah s...

Pakde Karwo: Dual Track Pendidikan Strategi Jatim Songsong Bonus Demografi  2019

Pakde Karwo: Dual Track Pendidikan …

Jatim-KoPi| Berbagai lang...

BPPTKG: Merapi Belum Menunjukkan Adanya Gejala Erupsi Seperti di Tahun 2010 dan 2006.

BPPTKG: Merapi Belum Menunjukkan Ad…

Jogja-KoPi| Balai Pen...

UGM Mewisuda 1354 Lulusan Sarjana dan Diploma

UGM Mewisuda 1354 Lulusan Sarjana d…

Sleman-KoPi| Universitas ...

Peneliti Gula UGM Soroti Penyimpangan Distribusi Gula Rafinasi

Peneliti Gula UGM Soroti Penyimpang…

Sleman-KoPi| Pasar gula d...

Gerakan Filantropi Islam Sebagai Deradikalisasi

Gerakan Filantropi Islam Sebagai De…

Sleman-KoPi| Dewasa ini, ...

Prev Next

Pekan Film Yogyakarta 2014

Pekan Film Yogyakarta 2014

Siaran Perss Dinas Kebudayaan Yogyakarta


Film merupakan karya seni budaya yang merupakan pranata social dan media komunikasi massa yang dibuat berdasarkan kaidah sinematografi dengan atau tanpa suara dan dapat dipertunjukkan.(UU 33/2009 tentang Perfilman)

Definisi membawa pemahaman bahwa film bukan hanya hiburan tetapi juga merupakan institusi/ pranata sosial. Film bukan hanya berhenti pada deskripsi sebagai seni budaya populer dan karya artistik multidisiplin yang lahir dari kerja teknis sutradara, penulis skenario, kameramen, editor, maupun aktor. Lebih dari itu, film mempresentasikan kembali realitas kehidupan sosial-budaya masyarakat dimana nilai/makna/ emosinya dipertukarkan kembali oleh pembuat film kepada penonton/ publik (Gans, 1957, Real, 1977 dalam Jowett dan Linton, 1988). Kekuatan tersebut membuat film dianggap memiliki kekuatan makna dan nilai yang cair terhadap penontonnya untuk dicerap, dicerna, diterima, diyakini atau ditolak.

Film kini mengalami konvergensi  sehingga tidak lagi identik dengan bioskop, maupun layar tancepsebagai ruang eksibisi. Teknologi homevideo sejak betamax, vhs, laserdisc, vcd, dvd hingga alih media menggunakan usb flashdisk atau hardisk ukuran terrabyte membuat film semakin dekat di ruang keluarga melalui proyeksi perangkat televisi. Televisi swasta Indonesia dan televisi kabel/ satelit berbayar juga menjadi media distribusi film-film di ruang keluarga. Distribusi-eksibisi film saat ini dipermudah/diperkaya/dipertukarkan/ lantas dapat digantikan dengan kehadiran Youtube,Vimeo atau video on demandbagi rumah tangga yang memiliki akses internet.jam tayang. Ketika film masuk ke dalam wilayah siar televisi di Indonesia yang mayoritas dikuasai sektor privat, kebijakan rating atau jam tayang menjadi hal yang sumir dan sulit dikendalikan.

Penetrasi film yang tidak lagi seragam dan konvensional menjadi tantangan tersendiri bagi keluarga Indonesia. Institusi film pada era demokrasi teknologi ini kemudian masuk secara cair di institusi keluarga. Film yang memasuki ruang keluarga menghadirkan dilema bagi ayah, ibu dan anak dalam mengelola tontontan secara bijak. Dilema tersebut dapat hadir dari sisi konten, rating/ pembatasan usia dan upaya swa-sensor. Tema keluarga jarang menjadi isi yang utuh dan memberi nilai positif bagi penonton yang dapat dicerap dari film maupun sinema elektronik. Kelenturan jam tayang dan pola konsumsi juga perlu disikapi dengan pembatasan usia maupun sensor mandiri yang dilakukan oleh keluarga penonton, selain kehadiran negara melalui Lembaga Sensor Film.

Isu kedua pranata sosial Film dan Keluarga tersebut lantas mewujud dalam “Film Keluarga” sebagai pilihan tema yang diangkat dalam kompetisi Festival Film Indie Yogyakarta dan akan dipresentasikan pada Pekan Film Yogyakarta 2014 8-14 November 2014. Festival Film Indie Yogyakarta 2014 diikuti tidak kurang 103 film dari seluruh penjuru Nusantara hingga batas pengiriman karya pada 20 Oktober 2014. Sejumlah film yang masuk berangkat dari kategori umum (53 film) dan kategori pelajar (50 film). Film-film bertema keluarga tersebut akan diseleksi oleh tim juri dan diharapkan dapat diperoleh film-film terbaik. Film-film nominasi akan dieksibisikan dan dianugerahi trofi bergengsi dari Gubernur DIYbagi yang terbaik dalam Pekan Film Yogyakarta 2014 yang berlangsung di Taman Budaya Yogyakarta.  Selain pemutaran film dan penganugerahan film terbaik, Pekan Film Yogyakarta selama 8-14 November 2014 menghadirkan pula pameran potensi perfilman daerah “Wajah Sinema Yogyakarta” dan seminar/ workshop perfilman.

Dalam kesempatan ini pula, kami ingin mengajak masyarakat Yogyakarta untuk turut hadir meramaikan, menonton, mengapresiasi dan merayakan kegembiraan sinema Yogyakarta dalam Pekan Film Yogyakarta 2014 bersama keluarga, pasangan, anak, ibu, ayah, kakek, nenek dan cucu-cicit. Demikian terimakasih. Salam.


Yogyakarta, 7 November 2014

Erlina Hidayati S, MM
(Kepala Seksi Film Dinas Kebudayaan DIY)

 

 

 

back to top