Menu
Mendesa RI bersama Rektor UGM melepas 5.992 Peserta KKN PPM 2018 ke 34 Provinsi.

Mendesa RI bersama Rektor UGM melep…

 Sleman-KoPi| Rektor UG...

Basarnas Fokuskan Pengamanan Wisata Pantai Selatan

Basarnas Fokuskan Pengamanan Wisata…

Jogja-KoPi| Tim Search An...

PBB:Serangan Lanjut ke Hudaida Yaman berdampak ke Bencana Kemanusiaan yang Lebih Besar

PBB:Serangan Lanjut ke Hudaida Yama…

Yaman-KoPi| Persatuan Ban...

Tahun 2018 Kasus Demam Berdarah Cenderung Turun.

Tahun 2018 Kasus Demam Berdarah Cen…

Sleman-KoPi| Memasuki per...

Mahasiswa UGM Inovasikan Limbah Cangkang Udang Menjadi Closet Sanitizer Berbahan 100% non Alkohol.

Mahasiswa UGM Inovasikan Limbah Can…

Sleman-KoPi| Lima Mahasis...

Gubernur DIY: Jalan Alternatif Gunung Merapi tidak di tutup Tapi kalau naik Gunung harap Waspada

Gubernur DIY: Jalan Alternatif Gunu…

Sleman-KoPi| Gubernur Dae...

Operasi Ketupat 2018, Polda DIY Berfokus Pada 4 Potensi Kerawanan saat Lebaran.

Operasi Ketupat 2018, Polda DIY Ber…

Sleman-KoPi| Kepolisian D...

Tamu di Yogyakarta Lebih Gemar Menghabiskan Malam di  Hotel Berbintang Ketimbang di Hotel Melati.

Tamu di Yogyakarta Lebih Gemar Meng…

Bantul-KoPi| Badan Pusat ...

Donald Trump Pastikan Tanggal Gelaran Pertemuan Dengan Kim Jong.

Donald Trump Pastikan Tanggal Gelar…

Washington-KoPi| Presid...

Polda DIY Gagalkan Operasi Peredaran Tembakau Gorila di Yogyakarta.

Polda DIY Gagalkan Operasi Peredara…

Sleman-kopi| Direktorat R...

Prev Next

Pameran Tunggal I Gede Oka Astawa: “I+DIALOG+I”

Pameran Tunggal I Gede Oka Astawa:  “I+DIALOG+I”

Yogyakarta-KoPi, “I+DIALOG+I” adalah tema pameran tunggal yang ke 3 I Gede Oka Astawa. Pameran akan dibuka oleh Suwarno Wisetrotomo 11-12 Maret 2014 di Taman Budaya Yogyakarta. Pameran ini dikuratori Hendra Himawan dengan penulis Sujud Dartanto.

Pameran ini mepunyai Tim inti yang terdiri dari 10 orang dan beberapa teman yang membantu diluar Tim seperti komunitas seni, saya mengajak empat komunitas seni untuk kerja kolaborasi membuat karya kolaborasi merespon tema pameran, komunitas itu antara lain komunitas Kukomikan, komunitas Tangan Reget, komunitas Giginyala dan Komunitas Perupa Indonesia Timur.

 

Acara terbagi menjadi 2 bagian, acara utama dan acara pendukung. Acara utama adalah pembukaan pameran seni rupa I Gede Oka Astawa. Acara pendukung pameran ini adalah 1. pemutaran video dokumentasi “Holiday Art Sharing” wawancara dengan Made Wianta, Pande Gede Supada dan Nyoman Erawan. 2. Diskusi Komunitas Seni “Jejaring Komunitas”, 3. Pameran Instalasi, Open Studio dan Performing Art, 4. Diskusi Seni “Ketika Orang Bali Merantau” Pembicara Entang Wiharso dan Gede Arya Sucitra dan I Gede Oka Astawa. 5. Pemutaran film dokumenter Oka Art Project 2014.

 

I+dialog+I : ‘ apa dan bagaimana seni rupa saya!'

Setiap seniman mempunyai tarikan tersendiri dengan lingkungannya. Sebagai bagian dari masyarakat dengan akar tradisi yang ketat, Oka Astawa tidak dapat melepaskan diri dari ikatan-ikatan norma yang telah dibebankan sejak lahir. Pergulatannya sebagai seniman muda dalam ruang kultural masyarakat asal, menuntunnya pada dua kutub persoalan : antara ‘subjektivitas diri’ dan ‘tuntutan adat’. Tarik menarik keduanya kemudian membawanya dalam persoalan bagaimana menjadi ‘seniman hari ini’. Ketika persoalan sikap mental yang menjadi landasan lahirnya idealism seniman dihadap-hadapkan pada tuntutan sebagai anak tunggal yang harus kembali kedaerah asal untuk menunaikan kewajiban adat.

 

Pergulatan inilah yang kemudian membawa pemikiran Oka untuk mengkaji apa dan bagaimana sikap mental dari seniman itu seharusnya diasah dan diperjuangkan. Ini memang pertanyaan yang bisa jadi sangat subjektif, namun apa yang ditawarkan oleh Oka sesungguhnya menguji para penatap tentang seberapa penting ideologi yang dimiliki oleh seniman.

Andaikata wacana seni yang bergulir menyatakan bahwa tidak ada karya seni yang tidak politis, dalam arti- ia merupakan bagian dari sistem wacana yang lebih besar, bersifat responsive (kausalitas) dan menjadi satu tawaran perspektif dari sebuah fenomena, dan mempunyai tujuan tertentu, lantas apakah kemudian kita abai dengan ideologi yang melatar belakangi lahirnya ‘seni’ itutadi?

 

Tentu setiap karya seni tidak semata-mata tercipta karena komposisi desain elementer semata, namun ada nilai-nilai yang diperjuangkan didalamnya. Kontekstualitas menjadi kanon utama dalam seni rupa kontemporer hari ini. Setiap seniman menghadirkan konsep kekaryaannya sebagai bagian dari keberpihakan dirinya atas fenomena yang ada. Setiap bahasa visual yang tercipta, setiap aktivitas seni muncul tentu bukan tanpa substansi ideologi, tersemat nyata ataupun samar-samar, inilah sejatinya yang diperjuangkan oleh setiap seniman, jauh melampaui eksistensi atau keterbutuhan materi.

 

Hal inilah yang setidaknya menjadi lontaran dialog yang ingin sampaikan oleh Oka Astawa melalui aktivitas seninya : OKA ART PROJECT 2014. Mencari ‘diri’ sekiranya adalah kata kunci yang dapat menuntun setiap individu yang terlibat dalam project ini, untuk terus bertanya pada diri, melakukan otokritik dan mungkin koreksi atas definisi ‘ apa dan bagaimana seni rupa saya!'

 

Kurator: Hendra Himawan

Reporter: Sar lee

 

 

back to top