Menu
Fatma Saifullah Yusuf Raih Penghargaan Certified Public Speaker Kehormatan

Fatma Saifullah Yusuf Raih Pengharg…

Surabaya-KoPi| Istri Waki...

Dari yang tersimpan

Dari yang tersimpan

Catatan Ugo Untoro atas P...

Petugas pingsan, Gus Ipul ikut panik

Petugas pingsan, Gus Ipul ikut pani…

Tuban-KoPi| Wakil Gubernu...

Muhammadiyah mendukung proses penegakkan hukum terhadap Setya Novanto

Muhammadiyah mendukung proses peneg…

Jogja-KoPi|Ketua umum PP ...

Peneliti : Mayoritas usaha persusuan dikelola secara tradisional

Peneliti : Mayoritas usaha persusua…

Jogja-KoPi| Peneliti Bida...

Gus Ipul : Industri pariwisata memerlukan infrastruktur yang memadai

Gus Ipul : Industri pariwisata meme…

Surabaya-KoPi| Pembanguna...

Alumni UAJY Raih Piala Citra FFI 2017

Alumni UAJY Raih Piala Citra FFI 20…

Jogja-KoPi| Bayu Prihanto...

Australia kabulkan gugatan Petani Rumput Laut

Australia kabulkan gugatan Petani R…

Kupang-KoPi|Pengadilan Fe...

Sektor pekerja informal tantangan terbesar target BPJS Kesehatan di 2019

Sektor pekerja informal tantangan t…

Jogja-KoPi|Pakar Jaminan ...

Prev Next

Pameran Seni Rupa Seni Preeet: So Go On Person

Pameran Seni Rupa Seni Preeet: So Go On Person

Bantul-KoPi| Putri penyair Chairil Anwar, Evawani Chairil Anwar, akan membuka Pameran Seni Preeet: So Go On Person, sekaligus peluncuran Jurnal Preeet, 25 November 2017 pada pukul 19.00WIB di Galeri SMSR, Jl. PG Madukismo, Kasihan, Bantul, Yogyakarta.

Sebagaimana “aku ingin hidup seribu tahun lagi” dan merasakan semangat Chairil Anwar menyatu dalam aura pameran, bagaimana mengalami apa yang kita suka dan orang lain membencinya dan sebaliknya, atau tentang apa yang kita harapkan tidak sesuai jauh dengan kenyataan dan itu bagian dari Preeet.

Seperti seniman yang mengadopsi persoalan-persoalan di dalam diri dan dari sekitarnya dalam penciptaan karya. Ada yang diekspresikan langsung, ada juga yang diolah lagi, melalui berbagai tahapan, tergantung kepentingan seniman, tergantung skill seniman, tergantung pemahanan dan kecerdasan seniman dalam meramu, memasak dan menyajikan karyanya serta bagaimana memanfaatkan momentnya.

Seni Preeet adalah seni menghalau macam persoalan-persoalan yang muncul diakibatkan kekuatan politik, ekonomi global, sampai pada masalah ideologi yang menjadi isu-isu atau berita bohong terorganisir, sistemik sehingga tak berhenti mengacau publik termasuk seniman.

Isu dan berita bohong menyebar begitu cepat dan serentak karena kecanggihan media komunikasi dan berbagai bentuk media sosial yang sudah mencapai pelosok serta meliputi tingkatan status sosial.

Tentu saja persoalan ini mengganggu keamanan, kenyamanan, ketentraman, hingga kesejahteraan pun terganggu. Akibat isu dan berita bohong yang disebar dan tersebar, simpang siurnya menjadikan saling curiga, saling menyerang, saling mengejek sampai pada ancaman fisik, kemudian menimbulkan perpecahan.

Ruang yang tidak terkontaminasi secara langsung atau terlibat dalam macam persoalan yang seringkali diisukan atau dalam berita bohong tersebut hal ini yang dimanfaatkan Preeet.

Hal ini pula yang dijadikan alasan mengapa menjauh atau mengisolasi dari berbagai macam isu dan berita bohong yang sudah menyangkut paut secara kompleks seperti diorganisir.

Untuk itu Seni Preeet fokus kepada persoalan yang ada dalam diri seniman, pada realitas kemanusiaannya, realitas lingkungan hidup menuju cita-cita luhur bersama dalam kebersamaan dan keberlangsungan hidup yang madani dengan menisbikan isu-isu atau berita bohong itu.

Kembali kepada diri sendiri kembali kepada kesadaran bahwa setiap mahluk itu unik, perlu saling menjaga kehidupannya, saling menghargai antara sesamanya.

Seni Preeet memaksimalkan seniman dengan mengolah dan menggali keunikan dalam diri seniman melalui pengalaman estetiknya menuju cita-cita luhur kebersamaan dan keberlangsungan hidup yang madani itu turut memelihara akar tradisi dan budayanya. Bukan golongan seniman yang mengolah isu-isu atau mengembangkan berita-berita bohong.

Seni Preeet menjadi pilihan seniman yang mempercayakan kemampuan skillnya sendiri, bahwa seni milik dari cita rasa pribadi. Tidak dapat diwakilkan proses penciptaannya yang sangat prinsip.

Dengan begitu Seni Preeet adalah harapan yang telah diimpikan dan didapat, sehingga muncul dalam ungkapan spirit berkarya dan mewakili ekspektasi seni.

Bagaimana seni Preeet Indonesia bisa hadir di hiruk pikuk seni yang membuat semakin kikuk. Yang dimaksud kikuk, seperti seni yang sedang kau pikirkan kini, kemudian berubah-ubah dan pada akhirnya menjadi Preeet. Sementara Preeet tidak bisa dipreeetkan karena Preeet adalah Preeet itu sendiri.

Bagaimana mengenali Preeet?: Apa yang kau inginkan sesuai dengan kata hati kau ciptakan dan disepakati oleh pikiran. Maka Preeet menjadi nyata, bisa dinikmati panca indra, mungkin bisa dimakan, mungkin menjadi barang pakai, mungkin berkolaborasi diantara semua itu supaya dapat menikmatinya.

Preeet bukan seni anti dengan Ideologi, Agama, Pasar atau artisan, tapi justru Preeet bisa saja anti dengan kau sendiri. Kualitas Preeet bergantung kepada pemahaman Preeet itu sendiri, pemahaman terhadap ilmu pengetahuan. Preeet mengeksplore daya dalam diri penciptanya, betul-betul menunjukkan total dirinya dan kretivitasnya.

Mengapa Preeet menjadi kata atau nama atau istilah yang mampu mewakili kesetaraan inspirasi seniman dalam memerdekakan ekspresinya? Kalau sampai waktuku/ Kumau tak seorang kan merayu tidak juga kau, kata Chairil Anwar dalam puisi Aku, Maret, 1943.

Preeet mengungkapkan seperti ini, “kita tidak pikirkan apa yang orang pikir, kita pikir apa yang kita masalahkan”. Maka inilah Preeet yang egois menjadi dirinya sendiri muncul bersamaan dengan senimannya. Perlu diketahui bahwa kebenaran Preeet itu akan semakin nyata ketika semakin banyak yang membencinya dan Preeet menjadi hidup dalam bayangan mereka.

Pada umumnya orang kita mengenal kata Preeet itu dari bunyi dan dari mana berasal bunyi tersebut itu bukan pada maknanya. Sebetulnya kata Preeet itu tidak seperti kita kira selama ini, seperti guyon, meledek, mencemooh, atau rasa tidak percaya.

Preeet itu dimiliki oleh bahasa dari beberapa negara, belanda, india, rumania, dan masih ada lagi, artinya berbeda dengan Preeet di negeri kita.

Preeet dalam bahasa Belanda: Pujian. Pret dalam bahasa Rumania: Kesenangan. Preeet dalam bahasa gaul anak muda Indonesia sebagai ungkapan rasa kurang percaya, terasa konyol, lucu dan seperti merendahkan atau melecehkan.

Untuk menuju Preeet yang lebih baik dan mendekat pada kesempurnaan adalah proses yang dilalui serta kritik dan saran yang membuat hidup.
Gagasan Preeet tidak datang begitu saja seperti bunyi Preeet.

Begitulah sesuatu muncul selalu ada sejarahnya yang mendorong Preeet itu hadir dan menjadi ada. Sejarah itu terkadang membosankan dan klise. Sejarah itu ada akibat sabar dan ikhlas dalam menjalani proses dalam berkesenian salah satu kuncinya.

Preeet mulanya dari aRT08 yang lahir Juni 2015 sebelum ArtJog ke 8 digelar dan munculnya Jogja Artweek. Di rumah tua seperti tak berpenghuni, disanalah aRT08 berada sebagai Studio.

aRT08 termasuk tempat yang aneh di Yogyakarta, tidak lebih baik dari tempat para perupa yang open studio. Namun perhelatan aRT08 menjadi sangat penting seperti juga ArtJog.

Dalam konsep Pameran Preeet kali ini adalah So Go On Person, pergilah menjadi diri sendiri atau jadilah dirimu sendiri atau Percaya dirilah kau Preeet! Karena itu berusaha mewujudkan diri sendiri dalam karya adalah hak dasar seniman dalam berekspresi.

Seringkali hak-hak dasar itu dikepinggirkan karena berbagai macam kepenting yang sesungguhnya tidak penting bagi kehidupan ruh seni. Hak-hak itu kalah atau dikalahkan atau mengalah atas kepentingan hak-hak lain yang sama-sama ingin hidup atau bersamaan ingin hidup, atau ingin hidup bersama. Sehingga seninya tidak muncul sebagai kebutuhan rasa seni, namun muncul atas kebutuhan rasa yang diluar kepentingan dari jiwa seninya.

Seniman yang disertakan adalah seniman Topreeet. Seniman yang mendapat kesempatan kali pertama: Andi Ramdani Bamboo, MA Boi, Dadah Subagja, Dadang Imawan, Deden FG, Nurify, Paul Lepo Agustian, Riki Antoni, Suhanda Zainal, dan Sukri Budi Dharma. Sepuluh seniman yang siap menampilkan karya Preeetnya. Seperti kata Bung Karno, “Beri aku 10 pemuda, niscaya akan kuguncang dunia!”

Cara mengkurasi karya-karya yang disertakan dalam pameran seni Preeet disebut Kurapreeet dan orangnya disebut Kurapreeetor. Pengambilan istilah Kurapreeet sebuah keputusan yang selaras dengan Preeet, kurator pameran Preeet.

Bukan hanya sekedar membuat perbedaan, namun menjadi diri sendiri dalam pengambilan keputusan juga bagian dari warna yang harus diciptakan, menambah keindahan warna berkesenian.

Tugas Kurapreeetor mulai dari mendampingi seniman dalam proses berkarya supaya sejalan dengan konsepnya. Melakukan diskusi dengan senimannya dalam mengembangkan konsep, memperjelas dan mempertegas konsepnya sekaligus berkunjung ke studionya masing-masing. Selain itu ketika proses berkarya berlangsung menyediakan waktu menyaksikannya dan mengawasinya.

Kurapreeet tidak hanya memilih karya, namun juga membuat konsep display yang menyesuaikan dengan konsep pameran serta konsep seniman yang terlibat di Pameran Preeet, termasuk mengajak Aa Nurjaman dan Selectia Rizka Alissawarno sebagai penulis dalam pameran ini berkunjung ke setiap seniman.

Kritik sepertinya tidak penting lagi, karena kritik seperti menciptakan konfrontasi. Tapi sebetulnya lebih baik ada konfrontasi pemahaman, sebagai bahan pembelajaran dan menciptakan langkah-langkah.

Apakah kritik bisa berfungsi sebagai mana yang diharapkan kritik itu sendiri atau hanya sekedar membangun sekte-sekte seni.

Jadi Kritik Preeet atau Preeet Kritik seperti So Go On Person dibaca jadi Sego Mercon (sego atinya nasi, mercon itu oseng-oseng super pedas). (Kurapreeetor: Jajang Kawentar)

back to top