Menu
RUU Permusikan dan Kebrutalan Spirit Kapitalisme

RUU Permusikan dan Kebrutalan Spiri…

Anang Hermansyah, anggota...

Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Perda Trantibmumlinmas

Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Per…

Surabaya-KoPi| Gubernur J...

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Indonesia Kian Hari Kian Memprihatinkan

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Ind…

Bantul-KoPi| Di dalam eko...

Masih Banyak Kekeliruan Informasi Dalam Sikapi Bencana

Masih Banyak Kekeliruan Informasi D…

Bantul-KoPi| Bencana alam...

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang Olahraga ke UGM

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang…

Jogja-KoPi| Kementerian P...

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan Baru

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan B…

Jogja-KoPi| Fakultas Kedo...

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Bekas Untuk Tingkatkan Mutu Jalan Rel Kereta Api di Indonesia

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Be…

Bantul-KoPi| Mengacu dari...

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancangan Mahasiswa UGM Raih Penghargaan di Seoul

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancanga…

Jogja-KoPi| Sepatu buatan...

Konsekuensi Pembangunan Infrastruktur

Konsekuensi Pembangunan Infrastrukt…

Oleh: Novri Susan (Sosiol...

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Prev Next

Pameran seni lukis: Retrospeksi

Pameran seni lukis: Retrospeksi

“Ribuan gambaran yang menakutkan serta mengerikan terlintas dalam pikiran saat ia kecewa dan tidak puas dengan dirinya sendiri. Perintahkan mereka untuk berdiri dan menunjukan diri, dan anda akan menegaskan kekuatan nalar atas imajinasi.”
– Sir Walter Scott seorang novelis dan penyair Skotlandia

Banyak orang yang percaya bahwa inteligensi semata sudah mampu menyelesaikan masalah dalam hidup kita. Hal ini akan mengarahkan pada keyakinan lain bahwa inovasi, penyelesaian masalah, produktivitas, dan komunikasi terbuka dapat ditangani dengan menggunakan otak. Akibatnya adalah jebakan inteligensi: merasa bersalah, gelisah, bingung yang akan menghantui kehidupan kita.1 Sebab logika tidak selamanya dapat menangani masalah hidup setiap saat. Sehingga hal tersebut akan berdampak pada bentuk refleksi diri berlebihan terhadap suatu kenyataan yang dihadapi pada masa lampau.

Hal itu merupakan realitas yang sering dilewati oleh semua insan manusia, tetapi perupa memiliki cara lain untuk menyiasati gejolak batin tersebut. Dengan kreativitas seniman mampu mengolah intuisi, gagasan, mimpi, fantasi dalam bentuk karya seni dan mampu mengubah rasa takut dan perasaan negatif menjadi kekuatan dalam dirinya. Hal inilah yang dipresentasikan oleh kelompok “913”. Dalam pameran yang bertajuk “Retropeksi”.

Dalam pameran ini, karya-karya yang diangkat berupa refleksi terhadap dinamika kehidupan yang terjadi pada masa lampau. Pengalaman pengalaman batin ataupun realitas di sekitarnya dikemas dalam rangkaian bahasa visual. Dengan mengangkat nuansa kedamaian, kegelisahan, dan pemberontakan yang kemudian dibahasakan dengan teknik dan karakter yang berbeda dari beberapa peserta dalam pameran ini.

Sembilan peserta yang tergabung dalam event ini, yaitu: Anjani C. Imaniar, Prima Andhi Kurniawan, Dadang Kurnia, Ahmad Idham, Rengga Julian Wicaksono, Bobby Destanto, Mario Viani, Sarah Kuswinarnigtias, Harind Ndaruwati. Pameran ini akan dilaksanakan di Galeri Biasa, 13-18 Maret 2014.
Semoga pameran ”Retrospeksi” ini memberikan dampak positif baik bagi peserta pameran maupun perkembangan seni rupa Yogyakarta.

Catatan akhir
1 James J. Mapes, diterjemahkan oleh Heri Winarno, Quantum Leap Thinking: Pedoman Lengkap Cara Berfikir (Surabaya, Ikon Teralitera, 2003), p. 24


Kurator: Matheus Sakeus
Reporter: Sar lee

back to top