Menu
Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu Evakuasi Korban Bencana di Sulteng

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu …

Sulawesi Tengah-KoPi|&nbs...

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar Tiban karya Anne Avantie

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar …

Surabaya-KoPi| Ketua Umum...

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi dalam Tantangan Kemajuan Ekonomi Digital

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi…

Jogja-KoPi| Fakultas Ekon...

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mulai Makan Korban

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mula…

Jogja-KoPi| Lembaga Konsu...

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Thailand

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Tha…

Bantul-KoPi| Universitas ...

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo Serukan Damai dan Berbudaya di Ranah Maya

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo S…

Jogja-KoPi|  – Selas...

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Politik Bahas Perkembangan Politik Nasional

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Po…

Jogja-KoPi| Fakultas Ilmu...

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan Solusi​ Online​ untuk UKM

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan …

Jogja-KoPi| Setelah sukse...

Doa bersama Memperingati Hari Kesaktian Pancasila di Masjid Al-Jihad Akmil Magelang

Doa bersama Memperingati Hari Kesak…

KoPi-Lembah Tidar. Minggu...

Prev Next

Pameran perupa muda Yogya "Femme Vitale"

Pameran perupa muda Yogya "Femme Vitale"

Jogja-KoPi| Femme Vitale atau perempuan yang misterius dan penuh pesona menjadi judul pameran bersama beberapa seniman muda Jogjakarta di tanggal 03 hingga 12 Mei mendatang. Pameran yang dikuratori oleh Yosep Arizal ini akan menyajikan karya-karya lukisan, patung, batik, dan juga instalasi.

Pameran ini mencoba memperkenalkan pemikiran serta istilah baru dalam dunia feminism, melainkan juga mencoba untuk mempertanyaan kembali keabsahan dogma Femme Fatale yang sudah menjamur.

Selain itu juga untuk mengetahui respon para seniman yang terlibat di dalamnya –seperti: Arche Priangsari, Idham, Prima Yoga Artika, Veronica Liana, Rangga Jalu Pamungkas, Dadang Kurnia, Saparul “Phalonk” Anwar, Fanny Octavia Santoso, Pande Gotha Antasena, Hari Ndaruwati dan Lisa Utami– akan permainan kata dan peninjauan ulang akan dogma kultural Femme Fatale melalui medium artistik serta konsep estetik mereka masing-masing.

Karya-karya yang disajikan di dalam pameran ini tidak hanya meninjau ulang konsep-konsep Femme Fatale serta posisi-posisi vital seorang perempuan –yang menjadi asal-usul munculnya Femme Vitale– dari satu sudut pandang waktu dan tempat dalam atmosfer satu kebudayaan, melainkan secara diakronis.

Karena itulah realitas yang kita hadapi seputar stigma umum Femme Fatale serta kebenaran-kebenaran akan posisi vital perempuan dalam kehidupan, kebenaran-kebenaran yang jelas namun masih terasa berat untuk kita amini keberadaannya.

Latar belakang budaya yang beraneka ragam dari masing-masing peserta pameran –yang secara tidak sadar tercermin dari karya-karya mereka– menunjukkan bahwa konsep Femme Fatale serta Femme Vitale itu ada dalam budaya-budaya yang melatarbelakangi kehidupan serta proses kreatif mereka. Walaupun konsep-konsep tersebut penamaannya diambil dari kebudayaan Barat namun tidak bisa dipungkiri bahwa realitas kasusnya juga terjadi di negara-negara Timur, termasuk Indonesia.

back to top