Menu
Pakde Karwo : Terima Kasih Atas Empati dan Duka Cita AS kepada Korban dan Dampak Terorisme di Jatim

Pakde Karwo : Terima Kasih Atas Emp…

Jatim-KoPi| Gubernur Jati...

Pemerintah Bangun Industri Digital untuk Kurangi Kesenjangan Ekonomi

Pemerintah Bangun Industri Digital …

Sleman-KoPi| Pemerintah s...

Pakde Karwo: Dual Track Pendidikan Strategi Jatim Songsong Bonus Demografi  2019

Pakde Karwo: Dual Track Pendidikan …

Jatim-KoPi| Berbagai lang...

BPPTKG: Merapi Belum Menunjukkan Adanya Gejala Erupsi Seperti di Tahun 2010 dan 2006.

BPPTKG: Merapi Belum Menunjukkan Ad…

Jogja-KoPi| Balai Pen...

UGM Mewisuda 1354 Lulusan Sarjana dan Diploma

UGM Mewisuda 1354 Lulusan Sarjana d…

Sleman-KoPi| Universitas ...

Peneliti Gula UGM Soroti Penyimpangan Distribusi Gula Rafinasi

Peneliti Gula UGM Soroti Penyimpang…

Sleman-KoPi| Pasar gula d...

Gerakan Filantropi Islam Sebagai Deradikalisasi

Gerakan Filantropi Islam Sebagai De…

Sleman-KoPi| Dewasa ini, ...

Pakde Karwo: Kunci Perjuangan adalah Persatuan dan Kesatuan

Pakde Karwo: Kunci Perjuangan adala…

Jatim-KoPi| Salah satu ku...

Jaminan Kemerdekaan Kekuasaan Kehakiman Masih Berpusat Pada Institusi Bukan Hakim Secara Personal

Jaminan Kemerdekaan Kekuasaan Kehak…

Sleman-KoPi|Kemerdekaan k...

Prev Next

“Meniti Pawitra”, inspirasi dari sang gunung suci

“Meniti Pawitra”, inspirasi dari sang gunung suci
Surabaya–KoPi| Sejak jaman dahulu, gunung tak bisa lepas dari kehidupan masyarakat Indonesia. Gunung tak hanya menjadi tempat mencari penghidupan, tetapi juga menjadi obyek kekaguman dan menggantungkan nasib. Tak heran masyarakat Indonesia pada masa lalu sering kali menjadikan gunung sebagai sosok penting dalam kehidupan spiritual.
 

Di masa kini, gunung masih menjadi obyek kekaguman manusia dan menjelma dalam berbagai karya seni. Seniman seakan tak pernah kehabisan inspirasi mengenai keindahan gunung. Sepertin halnya Komunitas Bolo Kulon. Mereka menggelar pameran seni rupa mengenai intepretasi Gunung Penanggungan, dengan tajuk “Meniti Pawitra”. Pameran ini digelar di Galeri Seni House of Sampoerna Surabaya mulai tanggal 12 Agustus hingga 3 September mendatang.

Dalam budaya masyarakat Jawa, Gunung Pawitra merupakan salah satu gunung suci di Tanah Jawa. Gunung Pawitra yang kini disebut sebagai Gunung Penanggungan ini memiliki berbagai ratusan peninggalan purbakala yang menjadi penanada adanya akulturasi antara Jawa Kuno, Hindu, Buddha, dan Islam.

diyah1

Salah satu karya seni yang menampilkan kekayaan budaya dan sejarah Penanggungan adalah lukisan “Under Construction of Pawitra” karya Agung Prabowo. Agung melukis Gunung Penanggungan sebagai gunung bersusun dan penuh ukiran relief. Agung mengintepretasikan Penanggungan sebagai gunung yang menyimpan banyak bukti tingginya peradaban dan etos kerja leluhur.

Ada juga lukisan ‘iSelfie’ karya Nofi Sucipto. Dalam lukisan bernuansa cerah, Nofi menampilkan Gunung Penanggungan dalam pose berswafoto (selfie), melebur ke dalam nuansa kekinian. Di sekelilingnya terdapat berbagai tokoh kartun masa kini dengan dandanan busana Jawa. Menurutnya, hal itu menggambarkan kondisi anak-anak masa kini, yang lebih mengenal tokoh kartun dari luar negeri, ketimbang tokoh-tokoh pewayangan yang penuh petuah.

diyah2

Tak hanya lukisan, pameran “Meniti Pawitra” juga menampilkan seni pahat dan instalasi. Seperti Hasan Saifudin yang menampilkan berbagai bentuk pahatan arca. Menurutnya, Gunung Penanggungan memberinya berbagai inspirasi. Kritik sosial dan perjalanan hidupnya ia tuangkan melalui pahatan yang idenya didapatkan selama menyepi di Gunung Penanggungan. Misalnya karya seni berjudul “Joker”, yang menggambarkan bagaimana situasi kehidupan yang penuh ketidakpastian, layaknya perjudian.

Ada juga seni instalasi berjudul “Para Rsi”, karya Hafidz Ramadhan, mahasiswa Universitas Negeri Surabaya. Ia memvisualisasikan kain-kain putih yang melayang sebagai jejeran kaum pertapa atau resi yang menyepi dari dunia ramai dan mencari pencerahan di Gunung Pawitra. Salah satu resi yang duduk di pusat menjadi orang pertama yang melakukan ‘babat alas’ di Pawitra, sementara resi-resi lain yang duduk di sekelilingnya adalah penerus-penerusnya. Mereka dibuat duduk bersila dan melayang karena menyimbolkan orang-orang yang ingin mencapai pencerahan dan mendekat ke Sang Maha Pencipta.

 diyah3

Komunitas Bolo Kulon adalah komunitas para perupa yang berbasis di Kota Pasuruan. Pameran ini merupakan event ke tiga dari rangkaian proyek “Pasuruan Berkisah”, yang berupaya memperkenalkan Kota Pasuruan. Dalam pameran tersebut, mereka menampilkan lebih dari 20 karya seni. Perupa lain yang memamerkan karya-karya mereka adalah Achmad Toriq, Afif AF, Karyono, M. Medik, Toni Ja’far, dan Yunizar Mursydi.

back to top