Menu
Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Perda Trantibmumlinmas

Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Per…

Surabaya-KoPi| Gubernur J...

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Indonesia Kian Hari Kian Memprihatinkan

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Ind…

Bantul-KoPi| Di dalam eko...

Masih Banyak Kekeliruan Informasi Dalam Sikapi Bencana

Masih Banyak Kekeliruan Informasi D…

Bantul-KoPi| Bencana alam...

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang Olahraga ke UGM

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang…

Jogja-KoPi| Kementerian P...

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan Baru

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan B…

Jogja-KoPi| Fakultas Kedo...

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Bekas Untuk Tingkatkan Mutu Jalan Rel Kereta Api di Indonesia

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Be…

Bantul-KoPi| Mengacu dari...

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancangan Mahasiswa UGM Raih Penghargaan di Seoul

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancanga…

Jogja-KoPi| Sepatu buatan...

Konsekuensi Pembangunan Infrastruktur

Konsekuensi Pembangunan Infrastrukt…

Oleh: Novri Susan (Sosiol...

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu Evakuasi Korban Bencana di Sulteng

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu …

Sulawesi Tengah-KoPi|&nbs...

Prev Next

Menghilangnya kritik sosial dalam dangdut

Menghilangnya kritik sosial dalam dangdut

Kritik sosial mulai luntur dalam dangdut, bergeser sebagai media hiburan yang syarat dengan seksualitas.

Sleman-KoPi| Dr. Hempri Suyatna, Kepala Pusat Studi Kajian Pembangunan PSdk, saat Seminar Nasional Musik: Kritik Sosial dan Pembangunan yang bertempat di Ruang Digital Library, Lt 4 Fisipol UGM, Rabu (5/4), mengatakan dangdut telah mengalami pergeseran.

Fisipol, UGM, mengatakan bahwa dangdut telah mengalami pergeseran. Dangdut mulai kehilangan kekritisannya, dan hanya digunakan sebagai media hiburan yang syarat dengan seksualitas.

Ini terlihat dari munculnya lagu-lagu dan penyanyi yang tidak lagi menyuarakan kritik sosial, seperti Asoy Goboy, Alamat Palsu, ABG Tua, Bukak Titik Jos dan lagu-lagu baru lainnya.

“Konteks kritik mulai hilang dalam lagu-lagu dangdut era ini. Dangdut lebih dimaknai sebagai hiburan yang di dalamnya terdapat goyangan-goyangan erotis”, kata Hempri Suyatna.

Menurutnya, ini disebabkan konteks situasi sekarang yang berbeda dengan kontek Orde Baru. Musik bersama tidak pernah tercipta di era ini.

“Masyarakat telah terfragmentasi, yang mengakibatkan mereka tidak akan kritis. Selain itu, juga dikarenakan isu liberalisasi politik yang meningkat serta tidak munculnya legendari baru dalam konteks dangdut”, tambahnya.

Di lain pihak industrialisasi musik dangdut juga telah merubah dangdut menjadi pasar yang harus menyesuaikan kebutuhan konsumen.

“Ini sangat berkaitan dengan bagaimana industri dibangun, mengikuti tuntutan pasar, sehingga dangdut tanpa goyang tidak jos”, kata Hempri Suyatna.

Padahal pada Orde Baru dan Orde Lama dangdut memiliki keterkaitan yang erat dengan kritik sosial, baik kritik vertikal maupun horizontal.

“Dangdut memiliki kekuatan untuk menyuarakan kritik sosial, baik untuk kekuasaan atau pun untuk sesama rakyat dalam bentuk pesan moral di Orde Baru. Namun, sekarang mulai luntur, mulai hilang pesan moral yang ada dalam dangdut”, ujar Hempri Suyatna.

Contoh lagu dangdut yang menyuarakan kritik sosial adalah lagu milik Rhoma Irama, seperti Rupiah, Begadang, Judi, Quran dan Koran, Pemilu, Pembaharuan, dan lain sebagainya. Namun, di era sekarang lagu seperti lagu-lagu tersebut jarang diciptakan.

“Belum ada figur baru dalam konteks dangdut yang muncul”, kata Hempri Suyatna.

Untuk itu menurut Hempri Suyatna diperlukan figur baru yang menjadi ikon musik dangdut yang mampu menyuarakan kritik sosial, serta edukasi bagi penyanyi dan konsumen musik dangdut, sehingga dangdut tidak hanya sekedar hiburan dan seksualitas.

“Konsumen dangdut dan penyanyi dangdut perlu diedukasi, sehingga dangdut bukan sekedar seksualitas. Walaupun ini susah tapi pasti bisa untuk merubah wajah dangdut sekarang ini,” tutupnya.

 

back to top