Menu
RUU Permusikan dan Kebrutalan Spirit Kapitalisme

RUU Permusikan dan Kebrutalan Spiri…

Anang Hermansyah, anggota...

Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Perda Trantibmumlinmas

Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Per…

Surabaya-KoPi| Gubernur J...

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Indonesia Kian Hari Kian Memprihatinkan

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Ind…

Bantul-KoPi| Di dalam eko...

Masih Banyak Kekeliruan Informasi Dalam Sikapi Bencana

Masih Banyak Kekeliruan Informasi D…

Bantul-KoPi| Bencana alam...

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang Olahraga ke UGM

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang…

Jogja-KoPi| Kementerian P...

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan Baru

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan B…

Jogja-KoPi| Fakultas Kedo...

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Bekas Untuk Tingkatkan Mutu Jalan Rel Kereta Api di Indonesia

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Be…

Bantul-KoPi| Mengacu dari...

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancangan Mahasiswa UGM Raih Penghargaan di Seoul

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancanga…

Jogja-KoPi| Sepatu buatan...

Konsekuensi Pembangunan Infrastruktur

Konsekuensi Pembangunan Infrastrukt…

Oleh: Novri Susan (Sosiol...

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Prev Next

Karawitan Orkestra di Concert Hall TBY

Karawitan Orkestra di Concert Hall TBY

Siaran Pers

Yogya-KoPi-Sebagai salah satu upaya pelestarian dan pengembangan seni karawitan, Taman Budaya Yogyakarta (TBY) akan melangsungkan Gelar Karawitan Orkestra pada  Jumat (9/5) mulai pukul 19.30 bertempat di Concert Hall TBY.

Pagelaran ini diikuti oleh 5 kelompok dari 5 kabupaten/kota di Yogyakarta. Kemudian, yang menjadi keunikan dari pegelaran ini, setiap kelompok dipimpin oleh 5 komposer muda asal Yogyakarta. Untuk kelompok Aji Saka dipimpin oleh Roni A Wahyudi dari Wonosari, Bergada Menoreh dipimpin Mujiyanto dari Kulon Progo dan Gumalanging Tekad dipimpin Fajar Cothiet asal Sleman. Selengkapnya Tirta Kencana dipimpin Saryanto dari Bantul dan Carajawen dipimpin Anon Suneka dari Kota Yogyakarta.

Menurut Pardiman Djojonegoro, selaku direktur produksi acara ini, saat ini masih banyak masyarakat di Yogyakarta yang sudah bisa menabuh alat kesenian karawitan dengan terampil baik dari tingkat pendidikan SMP, SMA, mahasiswa hingga orang tua. Namun, mereka msasih tidak mengetahui makna dan belum bisa menjiwai karakter dari alat yang ditabuh tersebut. Selain terampil, sejatinya penabuh kesenian karawitan harus bisa memaknai dan mengenal karakter dari alat tersebut. Hal itu dilakukan, agar mereka bisa memainkannya dengan sepenuh hati, sehingga alunan musik karawitan lebih hidup.

Pardiman menambahkan, pagelaran diikuti oleh 150 orang terdiri dari pelajar tingkat TK hingga SMA untuk menabuh dan beberapa mahasiswa
bertugas sebagai pendukung tim. Melibatkan pelajar khususnya tingkat SD dan SMP, karena pagelaran sebagai ajang pengenalan kesenian
tradisional yang mana sebagai budaya asli Indonesia.

"Saat ini Negara Indonesia banyak dimasuki budaya-budaya asing. Maka dari itu, ajang ini kita jadikan sebagai alat pelestarian budaya, agar
tidak hilang. Kemudian, pagelaran karawitan ini tidak bersifat kompetisi, tetapi saling menunjukan seberapa besar penjiwaan masing-masing tim dalam memainkan alat-alat tersebut,"papar Kepala Taman Budaya Yogyakarta Diah Tutuko Suryandaru.

"TBY melalui acara pagelaran ini berharap bisa dijadikan ajang pembelajaran dan pelestarian seni tradisional karawitan di Yogyakarta, bagi generasi muda Indonesia khususnya di Yogyakarta. Acara ini terbuka untuk umum dan gratis," tandas Diah Tutuko. (*)

back to top