Menu
Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Perda Trantibmumlinmas

Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Per…

Surabaya-KoPi| Gubernur J...

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Indonesia Kian Hari Kian Memprihatinkan

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Ind…

Bantul-KoPi| Di dalam eko...

Masih Banyak Kekeliruan Informasi Dalam Sikapi Bencana

Masih Banyak Kekeliruan Informasi D…

Bantul-KoPi| Bencana alam...

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang Olahraga ke UGM

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang…

Jogja-KoPi| Kementerian P...

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan Baru

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan B…

Jogja-KoPi| Fakultas Kedo...

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Bekas Untuk Tingkatkan Mutu Jalan Rel Kereta Api di Indonesia

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Be…

Bantul-KoPi| Mengacu dari...

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancangan Mahasiswa UGM Raih Penghargaan di Seoul

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancanga…

Jogja-KoPi| Sepatu buatan...

Konsekuensi Pembangunan Infrastruktur

Konsekuensi Pembangunan Infrastrukt…

Oleh: Novri Susan (Sosiol...

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu Evakuasi Korban Bencana di Sulteng

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu …

Sulawesi Tengah-KoPi|&nbs...

Prev Next

Jokowi berharap film Indonesia mencerahkan

Jokowi berharap film Indonesia mencerahkan

KoPi |Sebagai Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo berharap seniman film Indonesia mampu menciptakan film yang menyodorkan kesadaran problem-problem sebuah bangsa dan masyarakat. Menurutnya film yang baik adalah film yang mencerahkan jiwa penonton dan meninggalkna kesan dan mampu mengembangjan daya hidup. Joko mengungkapkan ini untuk mengapresiasi Festival Film Indonesia di Palembang (6/12).

"Terus terang saya sangat menyukai film-film Indonesia. Di masa muda saya ingat film Rano Karno "Gita Cinta Dari SMA" dan sequel-nya "Puspa Indah Taman Hati" begitu meledak dan disukai masyarakat, ada romantika-nya dan ada unsur realisme yang berkembang secara dialektis di masa itu.

Saya juga menyukai film-film buatan Pak Teguh Karya, film yang mampu menghentak kesadaran masyarakat, membongkar penindasan terselubung dalam hubungan kemanusiaan seperti: feodalisme, patriarki dan sistem masyarakat yang mendewakan jabatan dan materi.
Film-film Pak Teguh Karya seperti : 'Dibalik Kelambu', 'Badai Pasti Berlalu', 'November 1828', 'Ponirah Terpidana' atau 'Ibunda' merupakan karya raksasa dari Pak Teguh Karya yang menurut saya punya mutu kontemplasi tinggi dalam menjelaskan problem-problem di masyarakat, persoalan keluarga bahkan menyingkap sejarah seperti film "November 1828" yang merupakan titik balik kekalahan Pangeran Diponegoro dalam Perang Jawa 1825-1830 setelah Belanda melakukan strategi perang Benteng Stelsel.

Dan di Indonesia kaitannya dengan film ada Festival Film Indonesia (FFI) adalah festival yang sudah punya reputasi dalam penilaian film serta unsur yang ada di dalamnya. FFI banyak memberikan penghargaan kepada aktor dan aktris besar seperti : Slamet Rahardjo, Christine Hakim, Deddy Mizwar, dan banyak lagi."

Selamat untuk FFI, dan saya pesan untuk kebudayaan kita salah satu bait sajak WS Rendra yang berjudul "Sebatang Lisong":

“Apalah artinya renda-renda kesenian, bila terpisah dari derita lingkungan. Apalah artinya berpikir, bila terpisah dari masalah kehidupan"

Semoga film Indonesia tidak terpisah dari persoalan-persoalan bangsa dan masyarakat. Tidak mengasingkan generasi muda-nya terhadap sejarah dan realitas kekinian bangsanya." Demikian Presiden Republik Indonesia Joko Widodo.| E. Hermawan

back to top