Menu
Perempuan pendukung gerak ekonomi Jatim

Perempuan pendukung gerak ekonomi J…

Surabaya-KoPi| Perempuan ...

Anies dinilai lalai rekonsoliasi dengan kata 'Pribumi'

Anies dinilai lalai rekonsoliasi de…

PERTH, 17 OKTOBER 2017 – ...

Jatim Fair 2017 Ditutup, Transaksi Capai 54,3 Milyar Rupiah

Jatim Fair 2017 Ditutup, Transaksi …

Surabaya-Kopi| Pameran Ja...

Ketika agama membawa damai, bukan perang

Ketika agama membawa damai, bukan p…

YOGYAKARTA – Departemen I...

Gubernur Jatim Minta Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) Lakukan Research dan Development

Gubernur Jatim Minta Badan Pendapat…

Surabaya-Kopi| Memperinga...

Fatma Saifullah Yusuf puji aksi KCBI Surabaya

Fatma Saifullah Yusuf puji aksi KCB…

Surabaya-KoPi| Dra. Hj. F...

Warek UIN Kalijaga: Menulis populer bisa jauhkan sikap radikal

Warek UIN Kalijaga: Menulis populer…

YOGYAKARTA, 13 OKTOBER 20...

Gus Ipul resmikan prastasti Masjid Cheng Hoo Surabaya

Gus Ipul resmikan prastasti Masjid …

Surabaya-KoPi| Wagub Jati...

Bude Karwo: Jangan takut, kanker bisa disembuhkan

Bude Karwo: Jangan takut, kanker bi…

Surabaya-KoPi| Ketua Yaya...

Gus Ipul ajak.Perguruan Sejati jaga NKRI

Gus Ipul ajak.Perguruan Sejati jaga…

Madiun-KoPi| Wakil Gubern...

Prev Next

Catatan Pameran Tunggal #3 Ade Pasker "Art Apo LLo Ko"

Catatan Pameran Tunggal #3 Ade Pasker "Art Apo LLo Ko"
Oleh : Mayek

Kalau mengikutinya sejak awal akan nampak hal yang sangat sederhana dan biasa, meminimalisir formalitas sekaligus cenderung cair. Sikap yang sesuai dengan kepribadiannya. Kesan ini tepat persis apa yang akan terjadi berikutnya.

Dalam pembukaan Pameran Tunggal "Art Apo LLo Ko", di Balai Budaya Jakarta, kamis 3 agustus 2017, Ade Pasker membiarkan situasi berjalan begitu saja dengan performance art oleh perupa Edi Bonetski, dibuka oleh perupa Rb Ali, pemotongan pita oleh pelukis Tiwi dan kawan-kawan komunitas, penuh improvisasi tapi sangat serius ketika menyampaikan sambutan. Yang lebih keren, saat memasuki ruang pamer semuanya begitu prima.

Karya-karyanya mengajak kita berpikir kritis, berimajinasi dan berandai-andai dalam menanggapi persoalan mutakhir.

Banyak yang ingin disampaikan, seperti karya berjudul Luka Batin, Perang Gender, Separuh Nafas, Family Milenium, Astronom dan barisan lukisan lain.

Yang mengesankan karya berjudul Mata Uang, cat minyak pada kanvas, 90x135cm, 2017. Figur wanita merupakan metafora uang dan laki laki tua itu seperti seorang pejabat dan sejenisnya sementara dibelakangnya ada pekerja yg sedang ngebor dan gerombolan orang panjat pinang berebut hadiah. Analoginya, seorang tua kaya mampu membeli wanita dengan mudah sebagai obyek hasrat, sisi lain seseorang bekerja keras untuk mencukupi kebutuhan hidupnya. Pengibaratan ini menunjukkan kecerdasan visual.

Sedikit melompat ke area spiritualitas, pengalaman pertama dari hal ini adalah kekaguman Ade Pasker secara personal dalam sifat transendental. Cara melihat ke Illahian ditampakkan dalam visual mata burung, hingga pusat subyek matter Ka'bah dan sekelilingnya terkesan kecil. Ini menandai kehidupan hanya setitik debu.

Menurutnya, kedatangan Raja Arab Saudi ke Indonesia memberikan kombinasi gambaran tentang kebesaran, keagungan, kemewahan, spiritualitas dan keprofanan yang memicu inspirasi dalam karya berjudul Kiblat, oil on kanvas, 140x200cm, 2017.

Bergeser pada fakta fisik, bahwa segala sesuatu didunia ini segaib dan bersifat rohaniah apapun diperantarai oleh entitas fisik, entah disebut molekul, sel, tubuh atau benda. Pada karya berjudul Fisikawan, cat minyak pada kanvas, 50x60cm, 2017, simbol figur berkepala tiga diatasnya sebagai berpikir/ide, sebaliknya wanita dibelakangnya sebagai benda fisik. Sejak dulu oposisi ide/roh dan tubuh/fisik jadi warisan pergulatan pemikiran sepanjang masa.

Sementara karya bertitel Border Patrol bisa dipahami sebagai penjaga kawasan, patroli di wilayah tertentu atau berjaga untuk memastikan keamanan. Jika suatu wilayah dimasuki obyek yg tak dikenal atau subyek tanpa identitas, maka akan menjadi perhatian. Jika itu sebuah negara, bisa dipastikan itu sebagai serangan. Apabila itu suatu area dalam hitungan hektar tanpa ijin berarti penyimpangan, kemungkinan akan membentuk sebuah koloni macam perumahan dan Mall beserta semua perlengkapannya. Dan jika itu adalah sebuah ideologi, ia akan menjadi parasit bagi institusi negara, seperti negara dalam negara. Bila itu sebuah sistem birokrasi yang diretas, sangat dipastikan akan merusak struktur tatanan. Jika itu dalam dunia seni, mungkin karena tidak terbentuknya karakter dan keyakinan.

Itulah penggalan gagasan yang diungkap melalui visual tiga panel berjudul Border Patrol, 360x120cm, Oil on kanvas, 2017. Panel pertama mereprensentasikan sebuah pembangunan gedung disuatu area, panel kedua bagaimana sebuah wilayah diduduki dan panel ketiga simbol Kim Jong Un memastikan teritorialnya.

Metafora-metafora ini sebagai cara ungkap khas atas kerangka pikir atau gagasan dalam melihat karya karya selanjutnya. Bagaimana ia mengungkapkan tingkat kritisnya terhadap lingkungan sekitar, baik dalam skala lokal maupun global.

Misalnya, karya berjudul Pencari Suaka, 50x50cm, oil on canvas, 2017. Representasi bagaimana wilayah tertentu digunakan untuk melarikan diri dalam mencari perlindungan akibat tersulut perang dan kekerasan yang menjadi isu geopolitik penting diseluruh dunia.

Pelanggaran, penyimpangan, ambiguitas dan patologi sejenis itu diasumsikan sebagai ungkapan "Apo LLo Ko" bahasa Minang. Dalam bahasa jawa ngoko artinya "opo iki", Indonesianya : "apa-apaan ini". Sederhananya, jika anda melihat atau mengalami segala sesuatu sesuai aturan dan standarnya kemudian terjadi ketidaktepatan, pelanggaran atau penyimpangan, mungkin kalimat yang muncul adalah "apa-apaan ini". Begitu kiranya ide Ade Pasker.

Dalam konteks demikian menanyakan kembali situasi saat ini adalah upaya untuk membangun kembali pemahaman yang positif dan mendorong lebih jauh pencarian solusi yang signifikan dari berbagai persoalan.

Pentingnya konteks dalam konten ini yang seharusnya berada dalam tajuk pameran seni rupa. Konten sepantasnya menjadi hal yang esensial. Menurut performer kawakan Iwan Wijono, yang hadir saat itu, "isi tema adalah hal yang penting sampai kapanpun dan dimanapun". Terlepas dari matangnya teknis dan penyajian pameran, menunjukkan hakikat adalah sejatinya proses kreatif ide yang tersurat dalam karya seni.

Ekspresi ini banyak melekat dalam karya pameran tunggal kali ini. Endapan gagasan dan simbol sejalan dengan tekhnik palet ekspresif yang digunakannya. Tentu, Ade Pasker, pria riang, ramah dan penuh canda ini berhasil mengungkapkan kegelisahannya secara metaforis dan kritis.

Ade Pasker, seorang muda lahir di wilayah yang disebut Sungai Penuh, Kerinci, pada tanggal 09 agustus 1980. Berlatar pendidikan Institut Seni Indonesia Yogyakarta, Fakultas Seni Rupa, Jurusan Seni Murni, angkatan 2001, lulus 2008. Sekarang tinggal dan aktif berkesenian di Kota Tangerang-Banten. Ia juga tergabung dalam komunitas seni Palang Pintu Fine Art.

Sejak di kampus, Pasker aktif dalam berbagai pameran seni rupa. Terakhir Pameran Rest Area di Galeri Nasional dan akan berpameran di Maluku, Pameran Besar Seni Rupa #5 Huele, yang diadakan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Pameran tunggal 19 karya ini merupakan pertanggungjawaban sebagai seorang seniman akademisi dalam melihat konstelasi kehidupan kontemporer.

back to top