Menu
Mendesa RI bersama Rektor UGM melepas 5.992 Peserta KKN PPM 2018 ke 34 Provinsi.

Mendesa RI bersama Rektor UGM melep…

 Sleman-KoPi| Rektor UG...

Basarnas Fokuskan Pengamanan Wisata Pantai Selatan

Basarnas Fokuskan Pengamanan Wisata…

Jogja-KoPi| Tim Search An...

PBB:Serangan Lanjut ke Hudaida Yaman berdampak ke Bencana Kemanusiaan yang Lebih Besar

PBB:Serangan Lanjut ke Hudaida Yama…

Yaman-KoPi| Persatuan Ban...

Tahun 2018 Kasus Demam Berdarah Cenderung Turun.

Tahun 2018 Kasus Demam Berdarah Cen…

Sleman-KoPi| Memasuki per...

Mahasiswa UGM Inovasikan Limbah Cangkang Udang Menjadi Closet Sanitizer Berbahan 100% non Alkohol.

Mahasiswa UGM Inovasikan Limbah Can…

Sleman-KoPi| Lima Mahasis...

Gubernur DIY: Jalan Alternatif Gunung Merapi tidak di tutup Tapi kalau naik Gunung harap Waspada

Gubernur DIY: Jalan Alternatif Gunu…

Sleman-KoPi| Gubernur Dae...

Operasi Ketupat 2018, Polda DIY Berfokus Pada 4 Potensi Kerawanan saat Lebaran.

Operasi Ketupat 2018, Polda DIY Ber…

Sleman-KoPi| Kepolisian D...

Tamu di Yogyakarta Lebih Gemar Menghabiskan Malam di  Hotel Berbintang Ketimbang di Hotel Melati.

Tamu di Yogyakarta Lebih Gemar Meng…

Bantul-KoPi| Badan Pusat ...

Donald Trump Pastikan Tanggal Gelaran Pertemuan Dengan Kim Jong.

Donald Trump Pastikan Tanggal Gelar…

Washington-KoPi| Presid...

Prev Next

Indonesia, tempat karya seni tertua di dunia ditemukan

Indonesia, tempat karya seni tertua di dunia ditemukan

KoPi-Karya seni yang terdapat di gua Indonesia telah ditemukan sekitar 40.000 tahun yang lalu, menjadikannya sebagai karya seni buatan manusia tertua—bahkan mungkin lebih tua daripada karya seni yang terdapat di gua-gua Eropa.

 Temuan yang dipublikasikan pada tanggal 8 Oktober di Nature, mengubah pandangan mengenai Eurocentric yang dianggap sebagai asal-usul kreativitas manusia. Hal itu dapat mendorong para ahli untuk menemukan karya seni yang bahkan lebih tua, misalnya pada rute migrasi manusia dari Afrika ke timur.

“Analisis ini memberikan bayangan pada kekayaan informasi yang dapat ditemukan di Asia,” kata Alistair Pike. Dia adalah seorang arkeolog di Universitas Southampton, Inggris, yang pada tahun 2013 mengidentifikasi bahwa karya seni tertua berada di Eropa. “Penelitian ini perlu digali lebih dalam lagi.”

Lukisan yang ditemukan di sebuah gua batu kapur di Sulawesi pada tahun 1950 telah berumur sekitar 10.000 tahun. Apa pun yang lebih tua dari itu diasumsikan tidak akan dapat diidentifikasi.

Bahkan setelah teknologi yang dapat menguji penanggalan uranium-thorium ditemukan, tidak ada yang berpikir untuk mengujikan alat tersebut pada gua-gua yang terdapat di Indonesia—bahkan sampai sekarang. Meskipun lukisan tersebut tidak dapat diidentifikasi tanggal pembuatannya, penanggalan uranium-thorium dapat memperkirakan umur dari lapisan kalsium karbonat tidak rata yang terbentuk pada permukaan lukisan. Ketika lapisan mineral mengendap, mereka menarik uranium. Karena uranium meluruh menjadi thorium pada tingkat tertentu, rasio uranium dan isotop thorium pada sampel menunjukkan berapa lama usia karya seni ini.

Para peneliti memperkirakan tanggal dari 12 stensil tangan manusia dan dua gambar hewan besar. Karena mereka menguji lapisan atas dari kalsium karbonat, teknik penanggalan uranium menujukkan pada mereka usia minimal dari masing-masing sampel.

Mereka menemukan bahwa stensil tertua berusia setidaknya 39.900 - 2.000 tahun lebih tua dari usia minimum stensil tangan tertua di Eropa. Sebuah gambar dari babirusa yang menyerupai terong dengan kaki-kaki kurus yang menonjol dari masing-masing ujung, diperkirakan berusia 35.400 tahun—sekitar usia yang sama dengan gambar hewan besar paling awal di gua-gua Eropa.

Stensil tangan terlihat mirip dengan yang ditemukan di Eropa. Namun gambar hewan yang terdapat di gua Indonesia berbeda dengan yang terdapat di Eropa. Di Indonesia, gambar hewan kecil, mencerminkan hewan lokal, berbeda dengan gambar hewan di Eropa yaitu mammoth. “Gambar-gambar yang terdapat di Indonesia terlihat sepeeri line-y, hampir seperti sapuan kuas,” kata Pike, “Sedangkan gambar di Eropa tampak seperti diusap dengan menggunakan jari, hampir seperti lukisan jari.”

“Hal ini memungkinkan kita untuk mengubah pandangan mengenai Eropa yang dianggap spesial,” kata Maxime Aubert, seorang arkeolog Universitas Griffith di Queensland, Australia, yang memimpin tim penelitian. “Ada beberapa ide yang mengatakan bahwa manusia purba Eropa lebih sadar diri dan lingkungan. Namun sekarang ide itu dapat dikatakan tidak benar.”

Para peneliti menempatkan dua teori untuk evolusi karya seni tersebut—baik itu muncul secara independen di Indonesia, atau manusia purba yang meninggalkan Afrika sudah memiliki kemampuan untuk membuat seni, dan membawanya ke beberapa daerah.

Pike berpikir bahwa peneliti harus mencari bukti seni sepanjang rute migrasi ke selatan. “India adalah tempat yang paling jelas untuk diteliti,” katanya. Dan akan ditemukan lebih banyak lagi di Asia Tenggara, ia memprediksi. Ada ratusan gua-gua lainnya di wilayah Sulawesi sendiri, dan Aubert juga mulai mencari di Kalimantan.

Penemuan ini melemahkan banyak hal yang diperdebatkan mengenai teori Neanderthal, karya seni gua yang telah ada di Eropa sekitar 41.000 tahun yang lalu. “Tidak ada Neanderthal di Sulawesi,” kata Pike. Tapi stensil tangan dan pilihan objek sangat serupa dengan lukisan-lukisan yang ada di Indonesia, dia menambahkan.

Aubert berharap bahwa penemuan ini dapat membantu kesadaran untuk melindungi gua, yang saat ini banyak yang rusak karena pertambangan dan kegiatan industri lainnya. Banyak lukisan-lukisan yang mengelupas, katanya. Ia berharap bahwa situs tersebut akan ditetapkan sebagai situs warisan dunia oleh PBB, yang akan mempercepat upaya konservasi. |nature.com|Deby Rahmayanti|

Media

{YouTube}http://www.youtube.com/watch?v=ZVEqkVDn6Y4{/YouTube}
back to top