Menu
Pakde Karwo: Dual Track Pendidikan Strategi Jatim Songsong Bonus Demografi  2019

Pakde Karwo: Dual Track Pendidikan …

Jatim-KoPi| Berbagai lang...

BPPTKG: Merapi Belum Menunjukkan Adanya Gejala Erupsi Seperti di Tahun 2010 dan 2006.

BPPTKG: Merapi Belum Menunjukkan Ad…

Jogja-KoPi | Balai Penyel...

UGM Mewisuda 1354 Lulusan Sarjana dan Diploma

UGM Mewisuda 1354 Lulusan Sarjana d…

Sleman-KoPi| Universitas ...

Peneliti Gula UGM Soroti Penyimpangan Distribusi Gula Rafinasi

Peneliti Gula UGM Soroti Penyimpang…

Sleman-KoPi| Pasar gula d...

Gerakan Filantropi Islam Sebagai Deradikalisasi

Gerakan Filantropi Islam Sebagai De…

Sleman-KoPi| Dewasa ini, ...

Pakde Karwo: Kunci Perjuangan adalah Persatuan dan Kesatuan

Pakde Karwo: Kunci Perjuangan adala…

Jatim-KoPi| Salah satu ku...

Jaminan Kemerdekaan Kekuasaan Kehakiman Masih Berpusat Pada Institusi Bukan Hakim Secara Personal

Jaminan Kemerdekaan Kekuasaan Kehak…

Sleman-KoPi|Kemerdekaan k...

Merapi Naik ke Status Waspada, Gempa Tremor dan Vulkanik Sempat Muncul Saat Letusan Freaktif.

Merapi Naik ke Status Waspada, Gemp…

Jogja-KoPi|Setelah Gunung...

Merapi Kembali Meletus Dua Kali Dalam Sehari, BPPTKG: Ini Memang Karakter Merapi.

Merapi Kembali Meletus Dua Kali Dal…

Jogja-KoPi | Gunung Merap...

Prev Next

Candi Plaosan Mati Suri

Candi Plaosan Mati Suri

Klaten-KoPi - Di Indonesia sebuah situs sejarah seringkali kurang mendapat perhatian masyarakat. Padahal dibalik keklasikan situs menyimpan khazanah yang menajubkan. Nilai historisitas di dalamnya tidak hanya sekedar “berkisah”, lebih dari itu sisi historis memberikan pesan bagi kita untuk memaknai hidup.

Salah satu situs yang hidup itu, Candi Plaosan yang terletakdi areal pesawahan warga Dusun Plaosan, Bugisan, Prambanan, Klaten. Situs bisa ditempuh 1,5 Km ke timur dari jalan raya Jogja-Solo.

Penemuan Candi Plaosan pada zaman pemerintahan Belanda. Selama Belanda menjajah perawatan juga pemeliharaan dilakukan pada candi. Komplek Candi dikelilingi oleh parit dengan menempati tanah seluas 250 m x 350 m.

Parit ditemukan sesudah penemuan candi. Awalnya ada seorang pencari batu bata. Saat penggalian menemukan batu. Penemuan itu diteruskan oleh seorang Arkeolog dari UGM (Universitas Gajah Mada). Melalui instruksi dari Arkeolog penggalian dilakukan pada areal candi. Satu hingga berpuluh penggalian belum menemukan gambaran batu-batu yang ditemukan. Hingga sedikit terlihat di sisi timur bentuk batu halus lurus miring ke arah timur sedangkan arah yang berlawanan kasar. Lalu penggalian dialihkan kea arah lain juga konstruksi batu sama. Kesimpulan akhir konstruksi batu tersebut adalah parit yang mengelilingi komplek candi.

Candi Plaosan, Dulu dan Kini

Memelihara situs sejarah bukanlah hal mudah. Seperti diungkap di atas “Candi kembar” ini terabaikan dari perhatian masyarakat. Padahal filosofi di dalamnya juga tidak kalah bagus dibanding filosofi Candi Prambanan dan candi lainnya.

Hal itu diamini oleh koordinator lapangan, Aris Sunendo. Dia mengatakan ada tiga bentuk pemeliharaan yang dilakukan pada candi. Pertama, pemugaran yang dilakukan berkala minimal setahun sekali. Kedua, pemeliharaan yang dilakukan per hari.

Diakui oleh Aris kendala yang ditemui di lapangan masih soal anggaran. Pasalnya bangunan klasik seperti candi rawan rusak baik kerusakan alami maupun teknis. Pasca gempa Jogja 2006 lalu situs candi banyak roboh dan hingga kini pemugaran belum terjamah 70 %.

“Kalau satu tahun hanya satu perwara yang dipugar, berarti butuh waktu 326 tahun candi bisa bener semua”, kritik Aris.

Pasalnya pemerintah daerah setempat sudah absen empat tahun kurang memberikan dukungan dana untuk Candi Plaosan. Pemda saat ini justru memungut retribusi dari candi. Kalau dahulu, pemda ikut turun tangan membantu separuhnya.

Terlepas dari kendala itu, pihak candi membumbungkan harapan yang besar situs candi bisa bagus dan utuh. Suatu saat nanti, pemerintah bisa menggali parit seutuhnya.

“Mestinya kalau kita mau membuka utuh situs candi, pemerintah bisa membebaskan tanah warga untuk menemukan parit. Didalamnya mungkin bisa dilacak bangunan selain candi seperti prasasti, taman, atau kolam”, pungkas Aris.

Dari hal ini kita bisa melihat, seringkali dukungan materi menjadi kendala utama tetapi bukan berarti kita membiarkan sejarah kita terkikis masa.

Reporter : Winda Efanur FS

 

 

 

back to top