Menu
Gunung Merapi Berpeluang Alami Letusan Efusif Yang Aman.

Gunung Merapi Berpeluang Alami Letu…

Jogja-KoPi| Kepala Balai ...

BPPTKG: Merapi Masih Sangat Awal di Proses Magmatisnya.

BPPTKG: Merapi Masih Sangat Awal di…

Jogja-KoPi| Balai Penyeli...

Pakde Karwo : Terima Kasih Atas Empati dan Duka Cita AS kepada Korban dan Dampak Terorisme di Jatim

Pakde Karwo : Terima Kasih Atas Emp…

Jatim-KoPi| Gubernur Jati...

Pemerintah Bangun Industri Digital untuk Kurangi Kesenjangan Ekonomi

Pemerintah Bangun Industri Digital …

Sleman-KoPi| Pemerintah s...

Pakde Karwo: Dual Track Pendidikan Strategi Jatim Songsong Bonus Demografi  2019

Pakde Karwo: Dual Track Pendidikan …

Jatim-KoPi| Berbagai lang...

BPPTKG: Merapi Belum Menunjukkan Adanya Gejala Erupsi Seperti di Tahun 2010 dan 2006.

BPPTKG: Merapi Belum Menunjukkan Ad…

Jogja-KoPi| Balai Pen...

UGM Mewisuda 1354 Lulusan Sarjana dan Diploma

UGM Mewisuda 1354 Lulusan Sarjana d…

Sleman-KoPi| Universitas ...

Peneliti Gula UGM Soroti Penyimpangan Distribusi Gula Rafinasi

Peneliti Gula UGM Soroti Penyimpang…

Sleman-KoPi| Pasar gula d...

Gerakan Filantropi Islam Sebagai Deradikalisasi

Gerakan Filantropi Islam Sebagai De…

Sleman-KoPi| Dewasa ini, ...

Prev Next

Borobudur, adalah Kitab Zabur yang hilang

Borobudur, adalah Kitab Zabur yang hilang

Yogyakarta-KoPi| Setelah melontarkan pernyataan Indonesia negeri Saba yang sempat menggemparkan kalangan akdemisi dan agamawan. Kini melalui kajian yang lebih dalam, KH. Fahmy Basya menyebutkan Borobudur adalah Zabur yang hilang.

Alasannya hingga dekade ini tidak ada yang mengetahui pasti keberadaan kitab Zabur milik Nabi Daud. Zabur diceritakan akurat dalam Al-Quran dan kitab Zulkarnain. Zabur sendiri diartikan lempengan dengan besi.

Menurut KH. Fahmy Basya, kita perlu memahami perbedaan antara Bayyinan, Zabur dan kitab.

“Kalau kitab bentuknya tulisan. Kalau Zabur berbentuk lempengan bergambar. Sedangkan bukti (bayyinan) berupa mukjizat. Dari tiga  pengertian  itu, berarti lempengan berupa gambar saja. Nah lempengan ini pasti dari emas. Inilah yang Allah berikan kepada Nabi Daud”, terang Fahmy.

Zabur Nabi Daud diteruskan ke anaknya, Nabi Sulaiman diabadikan dalam ayat, “Kami fahamkan Sulaiman akan dia (Daud)”. Kata faham di sini berarti Sulaiman memahami dan mewarisi Daud. Fahmy juga mencontohkan pada kisah nabi Musa yang tidak memahami Nabi Harun sehingga keduanya bertengkar.

Penjelasan lanjut dari ‘fahamkan’ maksudnya meneruskan lempengan Zabur ini. Nabi Sulaiman mengkopi lempengan Zabur tersebut pada batu bagian Arupadhatu Candi Borobudur.

Al- Qur’an memandang Zabur sebagai bentuk penggambaran aktivitas yang dilakukan manusia. Seperti adanya kisah Nabi Yunus yang diceritakan melaui relief Candi Borobudur. Padahal masa Nabi Yunus belum datang, tapi Zabur telah mengabarkan. Demikian KH Fahmi Basya menjelaskan.

Baca:

Sarjana Inggris temukan makam Ratu Saba di Yaman

Mental pejuang tak lekang usia

KH Fahmi Basya, Sulaiman dan Kemungkinan

Mendebat Fahmi Basya

TERPOPULER

back to top