Menu
Konsekuensi Pembangunan Infrastruktur

Konsekuensi Pembangunan Infrastrukt…

Oleh: Novri Susan (Sosiol...

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu Evakuasi Korban Bencana di Sulteng

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu …

Sulawesi Tengah-KoPi|&nbs...

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar Tiban karya Anne Avantie

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar …

Surabaya-KoPi| Ketua Umum...

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi dalam Tantangan Kemajuan Ekonomi Digital

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi…

Jogja-KoPi| Fakultas Ekon...

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mulai Makan Korban

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mula…

Jogja-KoPi| Lembaga Konsu...

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Thailand

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Tha…

Bantul-KoPi| Universitas ...

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo Serukan Damai dan Berbudaya di Ranah Maya

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo S…

Jogja-KoPi|  – Selas...

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Politik Bahas Perkembangan Politik Nasional

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Po…

Jogja-KoPi| Fakultas Ilmu...

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan Solusi​ Online​ untuk UKM

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan …

Jogja-KoPi| Setelah sukse...

Prev Next

Borobudur, adalah Kitab Zabur yang hilang

Borobudur, adalah Kitab Zabur yang hilang

Yogyakarta-KoPi| Setelah melontarkan pernyataan Indonesia negeri Saba yang sempat menggemparkan kalangan akdemisi dan agamawan. Kini melalui kajian yang lebih dalam, KH. Fahmy Basya menyebutkan Borobudur adalah Zabur yang hilang.

Alasannya hingga dekade ini tidak ada yang mengetahui pasti keberadaan kitab Zabur milik Nabi Daud. Zabur diceritakan akurat dalam Al-Quran dan kitab Zulkarnain. Zabur sendiri diartikan lempengan dengan besi.

Menurut KH. Fahmy Basya, kita perlu memahami perbedaan antara Bayyinan, Zabur dan kitab.

“Kalau kitab bentuknya tulisan. Kalau Zabur berbentuk lempengan bergambar. Sedangkan bukti (bayyinan) berupa mukjizat. Dari tiga  pengertian  itu, berarti lempengan berupa gambar saja. Nah lempengan ini pasti dari emas. Inilah yang Allah berikan kepada Nabi Daud”, terang Fahmy.

Zabur Nabi Daud diteruskan ke anaknya, Nabi Sulaiman diabadikan dalam ayat, “Kami fahamkan Sulaiman akan dia (Daud)”. Kata faham di sini berarti Sulaiman memahami dan mewarisi Daud. Fahmy juga mencontohkan pada kisah nabi Musa yang tidak memahami Nabi Harun sehingga keduanya bertengkar.

Penjelasan lanjut dari ‘fahamkan’ maksudnya meneruskan lempengan Zabur ini. Nabi Sulaiman mengkopi lempengan Zabur tersebut pada batu bagian Arupadhatu Candi Borobudur.

Al- Qur’an memandang Zabur sebagai bentuk penggambaran aktivitas yang dilakukan manusia. Seperti adanya kisah Nabi Yunus yang diceritakan melaui relief Candi Borobudur. Padahal masa Nabi Yunus belum datang, tapi Zabur telah mengabarkan. Demikian KH Fahmi Basya menjelaskan.

Baca:

Sarjana Inggris temukan makam Ratu Saba di Yaman

Mental pejuang tak lekang usia

KH Fahmi Basya, Sulaiman dan Kemungkinan

Mendebat Fahmi Basya

TERPOPULER

back to top