Menu
Pakde Karwo: Antara Operator dan Regulator Transportasi Tidak Bisa Dipisahkan

Pakde Karwo: Antara Operator dan Re…

Surabaya-KoPi| Gubernur J...

Nertalitas TNI dalam Pemilu Capres dan Cawapres

Nertalitas TNI dalam Pemilu Capres …

Lembah Tidar-KoPi| Senin ...

Reuni Adem Akabri '86, Ibu ibu melaksanakan Out Bound

Reuni Adem Akabri '86, Ibu ibu mela…

Lembah Tidar-KoPi| Minggu...

Teknik Mesin SV UGM Dukung Program Kampus Sehat dan Bebas Asap Rokok

Teknik Mesin SV UGM Dukung Program …

Jogja-KoPi| Departemen Te...

Teknologi RFID Bantu Lacak Legalitas Kayu

Teknologi RFID Bantu Lacak Legalita…

Bantul-KoPi| Tim Pengabdi...

Pakar UGM Ajak Masyarakat Memanen Air Hujan

Pakar UGM Ajak Masyarakat Memanen A…

Jogja-KoPi| Pakar Hidrolo...

BKP: Indonesia Fokus Pada Peningkatan Kompetitifitas Produk Agrikultur

BKP: Indonesia Fokus Pada Peningkat…

Bantul-KoPI|Pada tahun 20...

UNIVERSITAS MENYAMBUT R.I KEEMPAT

UNIVERSITAS MENYAMBUT R.I KEEMPAT

Oleh Moh. Mudzakkir(Dosen...

Pakde Karwo : 2/3 Perguruan Tinggi Swasta Sumbangkan Kaum Intelektual di Jatim

Pakde Karwo : 2/3 Perguruan Tinggi …

Surabaya-KoPi| Sebanyak 2...

Pengungsi Korban Gempa di Gumantar Banyak Terserang Ispa

Pengungsi Korban Gempa di Gumantar …

Lombok-KoPi| Sebanyak 30 ...

Prev Next

Borobudur, adalah Kitab Zabur yang hilang

Borobudur, adalah Kitab Zabur yang hilang

Yogyakarta-KoPi| Setelah melontarkan pernyataan Indonesia negeri Saba yang sempat menggemparkan kalangan akdemisi dan agamawan. Kini melalui kajian yang lebih dalam, KH. Fahmy Basya menyebutkan Borobudur adalah Zabur yang hilang.

Alasannya hingga dekade ini tidak ada yang mengetahui pasti keberadaan kitab Zabur milik Nabi Daud. Zabur diceritakan akurat dalam Al-Quran dan kitab Zulkarnain. Zabur sendiri diartikan lempengan dengan besi.

Menurut KH. Fahmy Basya, kita perlu memahami perbedaan antara Bayyinan, Zabur dan kitab.

“Kalau kitab bentuknya tulisan. Kalau Zabur berbentuk lempengan bergambar. Sedangkan bukti (bayyinan) berupa mukjizat. Dari tiga  pengertian  itu, berarti lempengan berupa gambar saja. Nah lempengan ini pasti dari emas. Inilah yang Allah berikan kepada Nabi Daud”, terang Fahmy.

Zabur Nabi Daud diteruskan ke anaknya, Nabi Sulaiman diabadikan dalam ayat, “Kami fahamkan Sulaiman akan dia (Daud)”. Kata faham di sini berarti Sulaiman memahami dan mewarisi Daud. Fahmy juga mencontohkan pada kisah nabi Musa yang tidak memahami Nabi Harun sehingga keduanya bertengkar.

Penjelasan lanjut dari ‘fahamkan’ maksudnya meneruskan lempengan Zabur ini. Nabi Sulaiman mengkopi lempengan Zabur tersebut pada batu bagian Arupadhatu Candi Borobudur.

Al- Qur’an memandang Zabur sebagai bentuk penggambaran aktivitas yang dilakukan manusia. Seperti adanya kisah Nabi Yunus yang diceritakan melaui relief Candi Borobudur. Padahal masa Nabi Yunus belum datang, tapi Zabur telah mengabarkan. Demikian KH Fahmi Basya menjelaskan.

Baca:

Sarjana Inggris temukan makam Ratu Saba di Yaman

Mental pejuang tak lekang usia

KH Fahmi Basya, Sulaiman dan Kemungkinan

Mendebat Fahmi Basya

TERPOPULER

back to top