Menu
Basarnas Fokuskan Pengamanan Wisata Pantai Selatan

Basarnas Fokuskan Pengamanan Wisata…

Jogja-KoPi| Tim Search An...

PBB:Serangan Lanjut ke Hudaida Yaman berdampak ke Bencana Kemanusiaan yang Lebih Besar

PBB:Serangan Lanjut ke Hudaida Yama…

Yaman-KoPi| Persatuan Ban...

Tahun 2018 Kasus Demam Berdarah Cenderung Turun.

Tahun 2018 Kasus Demam Berdarah Cen…

Sleman-KoPi| Memasuki per...

Mahasiswa UGM Inovasikan Limbah Cangkang Udang Menjadi Closet Sanitizer Berbahan 100% non Alkohol.

Mahasiswa UGM Inovasikan Limbah Can…

Sleman-KoPi| Lima Mahasis...

Gubernur DIY: Jalan Alternatif Gunung Merapi tidak di tutup Tapi kalau naik Gunung harap Waspada

Gubernur DIY: Jalan Alternatif Gunu…

Sleman-KoPi| Gubernur Dae...

Operasi Ketupat 2018, Polda DIY Berfokus Pada 4 Potensi Kerawanan saat Lebaran.

Operasi Ketupat 2018, Polda DIY Ber…

Sleman-KoPi| Kepolisian D...

Tamu di Yogyakarta Lebih Gemar Menghabiskan Malam di  Hotel Berbintang Ketimbang di Hotel Melati.

Tamu di Yogyakarta Lebih Gemar Meng…

Bantul-KoPi| Badan Pusat ...

Donald Trump Pastikan Tanggal Gelaran Pertemuan Dengan Kim Jong.

Donald Trump Pastikan Tanggal Gelar…

Washington-KoPi| Presid...

Polda DIY Gagalkan Operasi Peredaran Tembakau Gorila di Yogyakarta.

Polda DIY Gagalkan Operasi Peredara…

Sleman-kopi| Direktorat R...

Keamanan di Bandara Adi Sutjipto Ketat Dengan Terjunnya 29 Ekor Anjing Pelacak dan Body Scanner.

Keamanan di Bandara Adi Sutjipto Ke…

Sleman-KoPi| Komandan sat...

Prev Next

Temuan "Tombol" di dalam Otak untuk Kontrol Makan

Foto: Illustrasi Foto: Illustrasi

KoPi| Ilmuwan telah menemukan sebuah "tombol" di dalam otak yang membantu untuk mengkontrol nafsu makan, yang bisa menjelaskan mengapa sebagian orang sulit untuk mengetahui saat untuk berhenti makan, sesuai dengan studi yang ditemukan.

Para peneliti percaya bahwa tingkat gula di dalam aliran darah berperan dalam memicu kapan tombol tersebut menyala saat makan sehingga orang tersebut mulai merasa kenyang. Namun saat tombol itu gagal, hal tersebut akan mengacu kepada makan yang berlebihan dan obesitas, menurut mereka.

Hasil penelitian-penelitian yang dapat menyediakan bukti ilmiah yang lebih jauh untuk mendukung kebijakan George Osborne mengenai pajak baru terhadap gula adalah bagian dari badan penelitian yang lebih luas mengenai sifat alamiah dari pengontrolan nafsu makan dan bagaimana hormon dan aktivitas otak keduanya termasuk dalam menentukan rasa lapar, ngidam, dan makan yang berlebihan.

Ilmuwan menemukan tombol nafsu makan saat mempelajari kekuatan dari koneksi antara sel-sel saraf di dalam otak dari tikus-tikus laboratorium, sebuah fenomena yang dikenal penting untuk pembelajaran dan ingatan.

Secara spesifik, mereka ingin melihat apa yang akan terjadi saat gen untuk sebuah enzim yang dinamakan OGT secara perlahan mati di bagian tertentu di dalam otak tikus.

OGT dikenal terdapat dalam berbagai aspek dari metabolisme tubuh, termasuk kegunaan dari hormon insulin dan glukosa di dalam aliran darah yang dapat meningkat saat makan atau setelah minum minuman bergula.

Salah satu tugas dari enzim adalah untuk menambah derivatif kimia dari glukosa untuk protein dan ini tampak penting, sel saraf tertentu dari nafsu makan mengontrol pusat dari otak. Saat gen untuk enzim ini terhapuskan atau mati, berat bedan tikus-tikus naik dua kali lipat dalam kurun waktu dua minggu sebagai hasil dari penumpukan lemak.

"Tikus-tikus ini tidak mengerti bahwa mereka sudah cukup makan, sehingga mereka tetap makan,"ujar Olof Lagerlof, seorang peneliti John Hopkins dan penulis pertama dari penelitian yang dipublikasikan di jurnal sains.

Para ilmuwan menemukan bahwa saat gen OGR tidak lagi bekerja di tipe sel saraf tertentu di dalam hypotalamus dari otak, tikus-tikus tidak terlihat untuk mengetahui kapan untuk berhenti makan dan bertambah lemak berlebihnya dibanding dengan tikus-tikus biasa, ujar Profesor Richard Huganir, Direktur dari Jurusan Neurosains di Universitas Kedokteran Johns Hopkins di Baltimore, Maryland. "Dua minggu kemudian kami akan mempelajari perilaku dan belajar, tetapi mahasiswaku, Olof, datang kembali dan memberitahukanku bahwa tikus-tikus ini bertambah semakin gendut, merupakan hal yang tidak kami duga, sehingga kami mulai mempelajari apa yang menyebabkan hal itu," kata Profesor Huganir.

"Gen ini untuk enzim OGT mengatur keseimbangan dari efek kejenuhan. Saat kami menaikan secara buatan aktivitas dari gen, secara langsung, kami dapat mengehentikan tikus normal yang lapar dari makan," ujarnya.

"Saat tipe dari sel otak yang kami temukan menembakan dan mengirimkan sinyal, tikus-tikus laboratorium kami segera berhenti makan. Sinyal tersebut nampaknya memberitahukan tikus-tikus itu bahwa mereka sudah cukup makan," ia menambahkan.

Bagaimanapun, saat sel saraf tidak berfungsi di tikus-tikus yang "gagal", tikus-tikus tersebut kehilangan kontrol dari nafsu makan mereka sepenuhnya.

"Mereka makan dengan jumlah yang sama tiap hari sama seperti tikus-tikus normal, tetapi mereka berkeliaran di sekitar makanan, makan lebih lama dengan hasil bahwa mereka makan dua kali lipat lebih banyak dari jumlah yang mereka makan biasanya," jelas Profesor Huganir.

Tombol nafsu makan dikendalikan oleh jumlah dari glukosa gula yang bersirkulasi di dalam aliran darah, yang secara alamiah meningkat setelah makan atau setelah meminum minuman bergula.

"Itu sangat biasa bahwa mekanisme yang sama dan tipe sel di dalam otak juga ditemukan di dalam manusia. Kami berpikir bahwa tipe mekanisme pengontrolan nafsu makan ini mungkin terjadi pada maunsia, tetapi kami perlu bekerja lebih jauh untuk dapat membuktikan hal tersebut," ujar Profesor Huganir.

"Secara teori, jika kami benar-benar mengerti apa yang terjadi di sini, kami dapat menargetkan secara perlahan mekanisme ini dengan obat yang bisa mengkontrol nafsu makan, yang dapat membantu untuk melawan epidemik obesitas," ujarnya.

Para peneliti mempercayai bahwa studi ini dapat membentuk bagian baru dari pendekatan kepada pengontrolan obesitas dimana obat atau perawatan ditargetkan kepada jalur yang spesifik di dalam otak yang dapat mengkontrol nafsu makan lebih efektif dibandingkan melalui kontrol yang sukarela dan diet.

|Independent|Debora Shinta NMH|Florencia Pangestu|Ed. URS|

back to top