Menu
Konsekuensi Pembangunan Infrastruktur

Konsekuensi Pembangunan Infrastrukt…

Oleh: Novri Susan (Sosiol...

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu Evakuasi Korban Bencana di Sulteng

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu …

Sulawesi Tengah-KoPi|&nbs...

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar Tiban karya Anne Avantie

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar …

Surabaya-KoPi| Ketua Umum...

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi dalam Tantangan Kemajuan Ekonomi Digital

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi…

Jogja-KoPi| Fakultas Ekon...

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mulai Makan Korban

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mula…

Jogja-KoPi| Lembaga Konsu...

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Thailand

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Tha…

Bantul-KoPi| Universitas ...

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo Serukan Damai dan Berbudaya di Ranah Maya

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo S…

Jogja-KoPi|  – Selas...

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Politik Bahas Perkembangan Politik Nasional

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Po…

Jogja-KoPi| Fakultas Ilmu...

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan Solusi​ Online​ untuk UKM

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan …

Jogja-KoPi| Setelah sukse...

Prev Next

Siput penyembuh luka

Siput penyembuh luka

KoPi| Obat hasil percobaan yang terbuat dari bisa siput telah menunjukkan tanda-tanda yang menjanjikan dalam mengobati luka yang kaku dan memunculkan harapan akan terciptanya obat non-adiktif.

Obat yang belum dicoba dipergunakan pada manusia ini dinilai 100 kali lebih manjur dari pada morphin atau gabapetin, yang akhir-akhir ini dianggap sebagai obat standar tertinggi untuk pengobatan luka saraf yang kronis.

Kandungan aktif, conotoxin, didapat dari siput pemakan daging yang biasanya hidup di kawasan barat Samudera Hindia dan Samudra Pasifik.

Protein kecil yang didapat dari bisa siput ini membentuk dasar dari lima senyawa eksperimental, papar pemimpin peneliti, David Craik, dari Universitas Queensland, Australia.

Penelitian awal menggunakan salah satu senyawa baru tersebut pada tikus laboratorium menunjukkan “hasil yang signifikan dalam mengurangi rasa sakit”. Pernyataan ini dilansir sesaat sebelum presentasi Craik dalam pertemuan American Chemical Society di Dallas, Texas.

Bisa hewan adalah racun yang dapat menghentikan saluran tertentu dalam sistem saraf, dan memiliki cara kerja yang berbeda dari penghilang rasa sakit opioid seperti morphin dan hydrocodone, yang menimbulkan resiko kecanduan dan kematian karena overdosis.

“Kami belum mengetahui efek samping yang ditimbulkan, karena obat ini belum dicoba dipergunakan ke tubuh manusia. Tetapi menurut kami obat ini aman,” ujar Craik, seraya menambahkan bahwa percobaan pada manusia setidaknya membutuhkan waktu dua tahun. |new.com.au|Ana PS|

back to top