Menu
Merapi Kembali Meletus Dua Kali Dalam Sehari, BPPTKG: Ini Memang Karakter Merapi.

Merapi Kembali Meletus Dua Kali Dal…

Jogja-KoPi| Gunung Merapi...

Bulog DIY: Bulan Puasa dan Lebaran Persediaan Beras, Gula, dan Minyak Goreng di Yogyakarta Aman.

Bulog DIY: Bulan Puasa dan Lebaran …

Jogja-KoPi| Perum Bulog d...

UGM Kembangkan Aplikasi Informasi Pengungsi Korban Bencana

UGM Kembangkan Aplikasi Informasi P…

Sleman-KoPi | Pusat Studi...

Tim Peneliti UGM ciptakan alat pendeteksi dini bencana longsor bernama SIPENDIL.

Tim Peneliti UGM ciptakan alat pend…

Sleman-KoPi | Tim penelit...

Bagaimana menjaga pola makan yang baik dan benar selama bulan Puasa.

Bagaimana menjaga pola makan yang b…

Inggris-KoPi| Inilah saat...

8 Mahasiswa di Yogyakarta ditangkap gunakan Narkoba.

8 Mahasiswa di Yogyakarta ditangkap…

Sleman-KoPi| Direktorat R...

Korut tunda pertemuan KTT bersama Korea Selatan.

Korut tunda pertemuan KTT bersama K…

Pyongyang-KoPi | Korea ut...

Protes Keras Tanoni :Australia Bebaskan Nelayan Yang Ditangkap.

Protes Keras Tanoni :Australia Beba…

Kupang-KoPi | Pemerintah ...

Jelang Puasa, Stok Barang Kebutuhan Pokok di Jatim Dipastikan Aman

Jelang Puasa, Stok Barang Kebutuhan…

Surabaya-KoPi|Menjelang b...

Prev Next

Kemampuan super manusia akibat mutasi genetik (1)

Kemampuan super manusia akibat mutasi genetik (1)
KoPi| Di komik-komik, mutasi genetik menghasilkan superhero seperti Hulk, Spiderman, dan X-Men. Kadang kita juga jadi bertanya-tanya, apakah benar mutasi genetik mampu menciptakan manusia dengan kekuatan super? Ternyata di dunia nyata juga ada mutasi genetik yang menghasilkan kemampuan super. Apa saja itu?
 

Kemampuan tidak dapat memiliki kolesterol tinggi

Kebanyakan manusia, terutama di usia paruh baya, mengkhawatirkan kolesterol tinggi. Karena itu, mereka menghindari makanan yang mengandung kolesterol tinggi seperti daging merah, telur, kacang-kacangan, dan lain-lain. Namun, ternyata ada manusia yang kadar kolesterol jahat dalam tubuhnya tidak bisa naik.

Orang-orang tersebut lahir dengan kelainan genetik. Sejak lahir mereka kekurangan atau tidak memiliki gen PCSK9, gen yang berperan dalam proses keseimbangan kolesterol. Kekurangan atau ketiadaan gen ini mampu mempercepat hati dalam menghilangkan kolesterol jahat (LDL) dalam darah. Artinya mereka memiliki resiko penyakit jantung yang jauh lebih rendah dibanding orang kebanyakan.

Kelainan gen ini ditemukan pada sedikit orang keturunan Afrika-Amerika. Sejak 10 tahun lalu, para ilmuwan di Amerika berusaha membuat obat yang mampu menekan PCSK9.

Kebal terhadap HIV

Virus HIV yang menjadi penyebab penyakit AIDS masih menjadi ketakutan terbesar dalam dunia kesehatan. Namun, beberapa orang memiliki kekebalan terhadap virus ini, sama seperti orang yang memiliki kekebalan terhadap virus lain seperti influenza atau cacar.

Beberapa orang di dunia diketahui memiliki kelainan genetik yang menyebabkan mereka tidak mampu mengkopi protein CCR5. Pada orang kebanyakan, protein tersebut menjadi pintu masuk bagi virus HIV. Orang yang tidak memiliki protein CCR5 lebih tahan terhadap serangan virus HIV. Namun, ilmuwan juga menemukan bahwa ada tipe virus HIV yang ganas yang mampu masuk ke dalam tubuh tanpa melalui protein CCR5.

Kelainan gen ini hanya ditemukan pada 1% populasi ras Kaukasus dan lebih kecil lagi pada ras lain.

Kebal terhadap malaria

Malaria masih menjadi penyakit yang sering dijumpai di negara tropis seperti Indonesia. Penyakit yang disebarkan oleh nyamuk Anopheles ini sempat menjadi pembunuh jutaan orang. Meskipun Pulau Jawa dan Bali sempat ditetapkan sebagai daerah bebas malaria, daerah timur Indonesia seperti Papua, Nusa Tenggara, Sulawesi, dan Maluku kasus masih tinggi malaria karena masih terdapat banyak rawa.

Namun, ilmuwan menemukan bahwa ada orang-orang yang memiliki kelainan genetik sehingga kebal terhadap malaria. Mereka memiliki bentuk sel darah merah yang berbeda dibanding orang kebanyakan, dengan bentuk menyerupai bulan sabit. Kelainan ini disebut sebagai anemia sel sabit. Karena sel darah merah mereka berbentuk berbeda, parasit malaria akan kesulitan menembus sel darah merah, sehingga mereka secara alami kebal terhadap malaria.

Namun, kondisi ini bukannya tanpa efek buruk. Sel darah merah yang berbentuk bulan sabit akan sulit melewati pembuluh darah, terutama pembuluh darah yang sempit. Sel darah merah ini akan tersangkut dan menimbulkan rasa sakit, infeksi serius, dan kerusakan organ tubuh.

Kelainan gen ini sering ditemukan pada orang yang hidup di daerah endemik malaria seperti Afrika, Asia, dan Timur Tengah. Biasanya kelainan ini ditemukan pada 10 sampai 40 persen orang dari populasi.

Bertahan di udara dingin

Orang-orang yang hidup di lingkungan ekstrem seperti suku Eskimo atau Inuit telah mengembangkan kemampuan bertahan hidup yang berbeda dari orang kebanyakan. Bukan hanya gaya hidup, tetapi secara genetik mereka telah berevolusi hingga memiliki kemampuan bertahan terhadap udara dingin.

Secara fisiologis, orang-orang yang hidup di tempat dingin seperti kutub Utara memiliki metabolisme yang lebih tinggi. Mereka juga mampu menjaga temperatur tubuh mereka. Kelenjar keringat mereka lebih banyak berada pada bagian wajah dan hanya sedikit yang ada pada tubuh.

Bertahan di tempat tinggi

Sama seperti orang-orang yang hidup di daerah dingin, penduduk dataran tinggi juga memiliki fisiologis yang berbeda. Di Indonesia kita bisa melihat penduduk dataran tinggi Dieng atau penduduk dataran tinggi lain mampu beraktivitas dengan bebas di tempat tinggi. Lebih ekstrem lagi adalah orang-orang yang tinggal di ketinggian yang lebih tinggi, seperti para pemandu Sherpa di Everest dan orang-orang Tibet serta Nepal.

Selama berabad-abad, orang-orang seperti mereka tinggal di daerah yang memiliki kadar oksigen rendah. Akibatnya, tubuh mereka beradaptasi dengan mengembangkan kapasitas dada dan paru-paru yang lebih besar, sehingga mereka mampu menghirup udara lebih banyak.

Selain itu, tubuh mereka juga beradaptasi untuk memproduksi sel darah merah yang lebih sedikit. Jika orang-orang dataran rendah naik ke ketinggian, umumnya tubuh mereka menyesuaikan diri dengan memproduksi lebih banyak sel darah merah. Hal itu membantu tubuh membawa lebih banyak oksigen ke dalam tubuh. Namun lama kelamaan hal itu akan membuat darah mengental dan dapat menimbulkan penggumpalan. Sebaliknya, orang dataran tinggi dengan sel darah merah yang lebih sedikit mampu mengalirkan darah secara lebih baik ke seluruh tubuh.

Ilmuwan mengatakan kemampuan ini telah diturunkan secara genetik, sehingga meskipun orang dataran tinggi tinggal di dataran rendah, tubuh mereka masih memiliki ciri-ciri tersebut.| listverse.com

Bersambung ke Kemampuan super manusia akibat mutasi genetik (2)

back to top