Menu
Mahasiswa UGM Inovasikan Produk Senyawa Atasi Limbah Tambang

Mahasiswa UGM Inovasikan Produk Sen…

Sleman-KoPi| Tim mahasisw...

Gunung Merapi Berpeluang Alami Letusan Efusif Yang Aman.

Gunung Merapi Berpeluang Alami Letu…

Jogja-KoPi| Kepala Balai ...

BPPTKG: Merapi Masih Sangat Awal di Proses Magmatisnya.

BPPTKG: Merapi Masih Sangat Awal di…

Jogja-KoPi| Balai Penyeli...

Pakde Karwo : Terima Kasih Atas Empati dan Duka Cita AS kepada Korban dan Dampak Terorisme di Jatim

Pakde Karwo : Terima Kasih Atas Emp…

Jatim-KoPi| Gubernur Jati...

Pemerintah Bangun Industri Digital untuk Kurangi Kesenjangan Ekonomi

Pemerintah Bangun Industri Digital …

Sleman-KoPi| Pemerintah s...

Pakde Karwo: Dual Track Pendidikan Strategi Jatim Songsong Bonus Demografi  2019

Pakde Karwo: Dual Track Pendidikan …

Jatim-KoPi| Berbagai lang...

BPPTKG: Merapi Belum Menunjukkan Adanya Gejala Erupsi Seperti di Tahun 2010 dan 2006.

BPPTKG: Merapi Belum Menunjukkan Ad…

Jogja-KoPi| Balai Pen...

UGM Mewisuda 1354 Lulusan Sarjana dan Diploma

UGM Mewisuda 1354 Lulusan Sarjana d…

Sleman-KoPi| Universitas ...

Peneliti Gula UGM Soroti Penyimpangan Distribusi Gula Rafinasi

Peneliti Gula UGM Soroti Penyimpang…

Sleman-KoPi| Pasar gula d...

Prev Next

Jurassic World, ilmiah atau tidak?

Jurassic World, ilmiah atau tidak?
KoPi | Film terbaru Jurassic World berhasil mencatatkan diri ke dalam box office. Kesuksesan film itu disebut-sebut mengalahkan film pertamanya, Jurassic Park. Film tersebut menggambarkan kemajuan teknologi yang berhasil membangkitkan kembali dinosaurus yang telah punah. Pertanyaannya, mungkinkah itu dilakukan?
 

Jack Horner, paleontologis yang ditunjuk sebagai penasehat dalam franchise film Jurassic World mengatakan mungkin saja! 

Penggali fosil dinosaurus terkenal tersebut mengatakan sebenarnya tidak ada DNA dinosaurus dan makhluk-makhluk era Jurassic yang tersisa. Bahkan fosil nyamuk di dalam getah, yang menjadi dasar ilmiah film Jurassic Park, juga tidak menyisakan DNA sama sekali. 

Namun, gen dinosaurus bisa diambil dari makhluk modern. Saat ini diketahui bahwa dinosaurus berevolusi menjadi burung modern. Karena itu, seharusnya DNA burung memiliki sisa-sisa DNA dinosaurus.

Horner mengatakan mungkin saja menghidupkan kembali gen dorman untuk mendapatkan bagian tubuh dinosaurus, seperti ekor, moncong, dan gigi. Bahkan dengan seekor dinosaurus mungkin saja terlahir dari DNA ayam. Karena itu, Horner berencana menciptakan dinosaurus yang diberi nama Chickenosaurus.

"Jika kita ingin menciptakan dinosaurus, cara transgenik adalah yang terbaik untuk menemukan gen nenek moyang. Dinosaurus hasil transgenik itu yang kami ciptakan di film Jurassic World. Kami punya dinosaurus hybrida hasil campuran beberapa beberap jenis dinosaurus, ditambah campuran dari beberapa hewan lain," ungkap Horner.

Karena itulah di film Jurassic World muncul dinosaurus tipe baru yang mengerikan, Indominus Rex, hasil campuran Tyranosaurus Rex dengan Velociraptor serta beberapa jenis hewan lain.

Horner mengatakan dalam waktu dekat akan menciptakan hewan dinosaurus yang mirip ayam. "Penelitian kami berjalan dengan cepat, tapi menciptakan dinosaurus seperti Velociraptor butuh waktu lebih lama. Semakin banyak hal tentang gen yang kami pelajari, apa yang bisa gen lakukan, dan bagaimana menghidupkan serta mematikannya, semakin dekat kami dengan kenyataan. Semua burung berbagi satu nenek moyang. Saat kita punya teknologinya, kami pikir akan berhasil dengan burung apapun. Ayam adalah burung yang paling mudah kita temui," jelas Horner.

Mungkinkah dinosaurus ciptaan tersebut dapat dilatih seperti halnya di film? Horner menjawab mungkin saja. "Dinosaurus tidak hanya punya otak cranial, tapi juga otak pelvic, seperti yang dimiliki burung. Kalau ditambahkan, volume otak mereka sebesar mamalia. Burung kakaktua hewan yang pintar, tapi kita tidak menganggap bebek pintar, padahal rasio tubuh dan otak mereka sama," terang Horner.

Ia menambahkan, "Dinosaurus bukan hewan yang menakutkan. Kita bisa saja menempatkan dinosaurus di Taman Nasional Serengiti. Selama kita menutup jendela mobil, kita bisa bersafari melihat mereka. Mereka tidak akan merobek-robek kendaraan kita hanya demi memakan kita,". | The Huffington Post

back to top