Menu
Mahasiswa UGM Inovasikan Produk Senyawa Atasi Limbah Tambang

Mahasiswa UGM Inovasikan Produk Sen…

Sleman-KoPi| Tim mahasisw...

Gunung Merapi Berpeluang Alami Letusan Efusif Yang Aman.

Gunung Merapi Berpeluang Alami Letu…

Jogja-KoPi| Kepala Balai ...

BPPTKG: Merapi Masih Sangat Awal di Proses Magmatisnya.

BPPTKG: Merapi Masih Sangat Awal di…

Jogja-KoPi| Balai Penyeli...

Pakde Karwo : Terima Kasih Atas Empati dan Duka Cita AS kepada Korban dan Dampak Terorisme di Jatim

Pakde Karwo : Terima Kasih Atas Emp…

Jatim-KoPi| Gubernur Jati...

Pemerintah Bangun Industri Digital untuk Kurangi Kesenjangan Ekonomi

Pemerintah Bangun Industri Digital …

Sleman-KoPi| Pemerintah s...

Pakde Karwo: Dual Track Pendidikan Strategi Jatim Songsong Bonus Demografi  2019

Pakde Karwo: Dual Track Pendidikan …

Jatim-KoPi| Berbagai lang...

BPPTKG: Merapi Belum Menunjukkan Adanya Gejala Erupsi Seperti di Tahun 2010 dan 2006.

BPPTKG: Merapi Belum Menunjukkan Ad…

Jogja-KoPi| Balai Pen...

UGM Mewisuda 1354 Lulusan Sarjana dan Diploma

UGM Mewisuda 1354 Lulusan Sarjana d…

Sleman-KoPi| Universitas ...

Peneliti Gula UGM Soroti Penyimpangan Distribusi Gula Rafinasi

Peneliti Gula UGM Soroti Penyimpang…

Sleman-KoPi| Pasar gula d...

Prev Next

Iran: internet untuk pengetahuan, hanya 10% saja

Iran: internet untuk pengetahuan, hanya 10% saja

Tehran-KoPi, Lebih dari 2/3 pemuda Iran, pengguna internet menggunakan software illegal untuk bisa masuk ke website-website yang dilarang oleh pemerintah, penelitian pemerintah mengatakan pada hari Senin.

Penelitian yang dilaksanakan oleh Menteri Pemuda dan Olahraga diterbitkan sehari setelah Presiden Hassan Rowhani mengatakan bahwa internet adalah lawan yang produktif.

Mohammad Taghi Hassazadeh, kepala tim peneliti mengatakan bahwa “69,3 % mereka menggunakan proxy (server di negara lain) untuk bisa menghindari sensor dan bisa masuk internet,” sebuah media, ISNA mengatakan.

Iran memiliki kebijakan untuk menyaring atau menyensor website-website terkenal seperti Facebook, Twitter dan You Tube agar tidak bisa diakses kecuali menggunakan software yang dilarang yang dapat membuat VPN (Virtual Private Network) dalam sebuah koneksi internet pada umumnya.

Advokasi penyaringan website di negara republik islam tersebut mengatakan bahwa hal tersebut melindungi warga negara dari konten-konten tak bermoral, seperti website porno, tapi para penantang kebijakan tersebut mengatakan bahwa pengubah VPN membuat pembatasan tersebut tidak berarti.

Penelitian tersebut dilaksanakan selama 12 bulan setelah bulan Maret 2013 yang mengikutsertakan 15.000 orang Iran yang berumur 15-29 tahun.

Berdasarkan temuan 67,4 % dari mereka semua yang disurvei adalah pengguna internet.

19,1 % dari mereka menggunakan internet untuk chatingan, 15,3 % untuk jejaring sosial dan 15,2% untuk hiburan.

Hanya 10,4 % yang menggunakan internet untuk pengetahuan, dan hampir 5 % mereka menggunakan internet untuk mengakses yang tak bermoral, penelitian tersebut mengatakan tanpa penjelasan yang spesifik.


Rowhani, yang mengatakan pendidikan dan pengetahuan sebagai alasan untuk membatasi internet, merasa tidak tenang dalam sebuah debat mengenai sensor, yang mengatakan aturan saat ini tidak berjalan mulus.


“Beberapa orang mengatakan kami bisa menyelesaikan masalah-masalah ini dengan membangun tembok pemisah, tapi ketika anda melakukan penyaringan, mereka membuat proxy,” katanya dalam sebuah pidato yang disiarkan di TV.


(Fahrurrazi)
Sumber: Al-Arabiya News

back to top