Menu
Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu Evakuasi Korban Bencana di Sulteng

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu …

Sulawesi Tengah-KoPi|&nbs...

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar Tiban karya Anne Avantie

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar …

Surabaya-KoPi| Ketua Umum...

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi dalam Tantangan Kemajuan Ekonomi Digital

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi…

Jogja-KoPi| Fakultas Ekon...

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mulai Makan Korban

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mula…

Jogja-KoPi| Lembaga Konsu...

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Thailand

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Tha…

Bantul-KoPi| Universitas ...

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo Serukan Damai dan Berbudaya di Ranah Maya

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo S…

Jogja-KoPi|  – Selas...

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Politik Bahas Perkembangan Politik Nasional

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Po…

Jogja-KoPi| Fakultas Ilmu...

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan Solusi​ Online​ untuk UKM

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan …

Jogja-KoPi| Setelah sukse...

Doa bersama Memperingati Hari Kesaktian Pancasila di Masjid Al-Jihad Akmil Magelang

Doa bersama Memperingati Hari Kesak…

KoPi-Lembah Tidar. Minggu...

Prev Next

High Risk, High Return: Fenomena Bitcoin dalam Digitalisasi Masyarakat Indonesia

1

Sleman-KoPi| Fenomena mata uang digital atau cryptocurrency mendapat banyak sorotan dalam beberapa tahun kemarin. Bitcoin merupakan salah satu cryptocurrency yang saat ini tengah mendulang popularitas di Indonesia. Namun, pemahaman tentang Bitcoin di Indonesia masih sangatlah minim.

 

Bitcoin Indonesia pun mencoba membongkar isu-isu terkait Bitcoin sebagai tren digital Indonesia dalam DigiTalk #13 bertajuk ‘Bitcoin, Investasi Digital atau Ancaman Gelembung?’yang diselenggarakan oleh Center for Digital Society (CfDS) UGM pada Senin (26/2).

Dengan perkembangan teknologi yang semakin pesat, bukan hal yang mengejutkan bahwa penggunaan mata uang digital semakin digemari, terlebih dengan kemudahan yang ditawarkan dalam bertransaksi secara digital serta peluang investasi yang menjanjikan.

Bitcoin yang menggunakan teknologi blockchain menjadikannya berbeda dari digital money serta digital currency.

Teknologi blockchain yang diciptakan pada tahun 2009 menggunakan sistem peer-to-peer yang terdesentralisasi, sehingga tidak bergantung pada satu server seperti sistem database tradisional. Sifat ini juga membuat semua aktivitas menjadi lebih aman namun transparan, terutama dengan adanya teknologi kripto yang memberikan protokol pengaman dari serangan pihak luar.

Bitcoin dan cryptocurrency lainnya juga menjadi opsi yang menjanjikan karena sifatnya yang mirip emas. Bitcoin dapat digunakan untuk bertransaksi kapan saja, oleh siapa saja, di mana dan ke mana saja secara cepat dan mudah. Bitcoin didapatkan dengan cara ditambang (mining) secara otomatis dengan super computer, serta tidak dapat dipalsukan maupun dihancurkan.

Selain itu pengguna juga bisa mendapatkan Bitcoin dari website faucet atau membeli melalui market place seperti PT Bitcoin Indonesia. Jumlahnya yang terbatas dan tingginya peminat di seluruh dunia menjadikan nilai Bitcoin terus naik dan potensinya semakin menjanjikan.

Meskipun begitu, penggunaan Bitcoin dan blockchain tidak lepas dari resiko.

“Tentu saja ada resiko yang tinggi, terlebih dengan status Bitcoin yang belum diakui dan regulasi yang masih belum ada,” diungkapkan oleh Nidya Rahmanita, Lead Consultant dan perwakilan dari Bitcoin Indonesia sebagai pembicara dalam DigiTalk #13 kali ini.

Sekalipun teknologi blockchain yang dikombinasikan dengan teknologi kripto jauh lebih aman dari serangan hacking dan kecurangan, protokol pengaman baru aktif ketika transaksi dilakukan. Komputer pengguna yang tidak dilengkapi dengan sistem pengaman masih beresiko untuk menerima serangan dari pihak ketiga.

Selain itu, Bitcoin sendiri masih relatif baru dan nilainya sangat bergantung pada supply and demand sehingga harganya pun fluktuatif. Tidak jarang traders dan pengguna Bitcoin mengalami kerugian yang cukup besar.

Meskipun demikian, Bitcoin memiliki berbagai potensi dan keunggulan yang menarik untuk dimanfaatkan dan diaplikasikan di Indonesia. Tren masyarakat yang semakin cash-less serta pangsa e-commerce yang semakin global, Indonesia perlu mengejar ketertinggalan dengan memberikan regulasi yang jelas.

Regulasi yang jelas juga akan memungkinkan bagi Indonesia untuk mengatur penarikan pajak sehingga pemasukan negara juga bertambah. Pemanfaatan blockchain yang mencatat semua transaksi secara publik juga memudahkan pemerintah untuk memonitor transaksi mencurigakan, seperti korupsi, pencucian uang, dan pendanaan aksi terorisme.

“Apabila kita tidak segera meregulasi Bitcoin di Indonesia, Indonesia sendiri akan semakin tertinggal dari negara-negara lain,” lanjut Nidya.

Acara ini didampingi oleh Gehan Ghofari, rekanan peneliti CfDS, sebagai moderator. Secara umum, DigiTalk #13 mendapatkan animo yang cukup besar dari berbagai kalangan. Tercatat, sekitar 328 orang menghadiri diskusi dengan antusias. Diskusi diikuti dengan sesi tanya jawab dengan pertanyaan yang disampaikan oleh peserta di ruangan serta pertanyaan yang dikirimkan melalui sosial media CfDS.

back to top