Menu
Konsekuensi Pembangunan Infrastruktur

Konsekuensi Pembangunan Infrastrukt…

Oleh: Novri Susan (Sosiol...

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu Evakuasi Korban Bencana di Sulteng

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu …

Sulawesi Tengah-KoPi|&nbs...

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar Tiban karya Anne Avantie

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar …

Surabaya-KoPi| Ketua Umum...

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi dalam Tantangan Kemajuan Ekonomi Digital

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi…

Jogja-KoPi| Fakultas Ekon...

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mulai Makan Korban

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mula…

Jogja-KoPi| Lembaga Konsu...

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Thailand

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Tha…

Bantul-KoPi| Universitas ...

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo Serukan Damai dan Berbudaya di Ranah Maya

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo S…

Jogja-KoPi|  – Selas...

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Politik Bahas Perkembangan Politik Nasional

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Po…

Jogja-KoPi| Fakultas Ilmu...

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan Solusi​ Online​ untuk UKM

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan …

Jogja-KoPi| Setelah sukse...

Prev Next

Donor organ tubuh menurut Islam

Donor organ tubuh menurut Islam

KoPiAda sebuah ayat di Al-Qur’an yang menyatakan: “Barangsiapa yang menyelamatkan satu kehidupan sama saja orang tersebut telah menyelamatkan kehidupan semua orang,”

Mungkin tidak ada cara yang lebih baik untuk mengimplementasikan konsep ini selain dengan cara menanamkan organ yang didonasikan untuk mengganti organ yang gagal berfungsi. Akan tetapi, pada dasarnya, cara demikian ini dapat dilaksanakan setelah mengalami beberapa pertimbangan dari hukum islam.

Menyakiti tubuh manusia, baik itu manusia yang masih hidup ataupun yang sudah meninggal itu dilarang dalam islam. Aturan inilah yang menjadi dasar tidak diizinkannya tindakan menggores tubuh pendonor hidup maupun pendonor yang sudah meninggal untuk kemudian organ tubuhnya diambil dan disumbangkan.

Lebih lanjut, aturan ini juga tidak mengamini dua aturan hukum yang telah ditetapkan untuk mengatasi kebuntuan ini. Dua hukum tersebut adalah “kebutuhan itu membatalkan larangan” dan “pilihlah satu hal yang tingkat ‘jahat’nya lebih rendah dari dua hal yang jahat jika kedua hal tersebut tak dapat dihindari”.

Setelah mengacu pada dua aturan tersebut, karena menyelamatkan sebuah kehidupan adalah sebuah kebutuhan yang harus lebih diutamakan daripada mempertahankan keutuhan tubuh pendonor ataupun tubuh orang yang meninggal dan karena melukai tubuh pendonor dinilai tidak lebih jahat dibanding dengan membiarkan seorang pasien meninggal, maka prosedur donor dan penanaman organ tubuh kemudian diperbolehkan.

Tindakan donor dan penanaman organ tubuh ini seharusnya tidak mengandung bahaya bagi pendonor, bilamana proses ini dapat diketahui secara medis. Tambahan pula, prosedur ini harus dilaksanakan tanpa ada paksaan dari pihak manapun. Jadi, pendonor menyumbangkan organ tubuh mereka atas dasar keinginan sendiri tanpa ada tekanan dari pihak manapun. |Islamicity.com|Ana Puspita Sari|

back to top