Menu
Konsekuensi Pembangunan Infrastruktur

Konsekuensi Pembangunan Infrastrukt…

Oleh: Novri Susan (Sosiol...

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu Evakuasi Korban Bencana di Sulteng

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu …

Sulawesi Tengah-KoPi|&nbs...

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar Tiban karya Anne Avantie

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar …

Surabaya-KoPi| Ketua Umum...

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi dalam Tantangan Kemajuan Ekonomi Digital

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi…

Jogja-KoPi| Fakultas Ekon...

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mulai Makan Korban

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mula…

Jogja-KoPi| Lembaga Konsu...

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Thailand

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Tha…

Bantul-KoPi| Universitas ...

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo Serukan Damai dan Berbudaya di Ranah Maya

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo S…

Jogja-KoPi|  – Selas...

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Politik Bahas Perkembangan Politik Nasional

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Po…

Jogja-KoPi| Fakultas Ilmu...

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan Solusi​ Online​ untuk UKM

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan …

Jogja-KoPi| Setelah sukse...

Prev Next

Dinosaurus juga suka “nge-fly”?

Dinosaurus juga suka “nge-fly”?
KoPi | Rupanya sejarah tidak bisa dilepaskan dari narkotika. Mulai dari jaman Yunani kuno hingga peradaban modern saat ini, manusia sudah merasakan efek halusinogen dari berbagai tanaman obat, seperti ganja, candu, mariyuana, dan sebagainya. Tapi sepertinya sejarah “nge-fly” sudah muncul bahkan jauh sebelum manusia muncul, alias pada jaman dinosaurus!
 

Baru-baru ini arkeolog menemukan fosil tanaman rumput purba di Myanmar. Fosil tanaman berusia 100 juta tahun tersebut ditumbuhi spesies jamur yang sejenis dengan jamur api yang dapat menyebabkan halusinasi. Jamur ini telah lama dikenal dalam peradaban manusia sebagai obat, racun, dan halusinogen. 

Arkeolog meyakini dinosaurus memakan rumput tersebut, meskipun tidak mengetahui bagaimana efeknya pada mereka. “Sepertinya jamur api sudah lama menjadi bagian kehidupan manusia dan binatang, dan kini kita tahu jamur ini sudah ada bahkan sejak rumput paling purba tumbuh,” ungkap Georg Poinar, Jr., paleo-entomologis dari Oregon State University yang menjadi pemimpin penggalian tersebut.

Poinar mengatakan efek jamur api pada manusia dan hewan bisa menyebabkan delusi, perilaku irasional, kejang, kesakitan, kelemayuh, dan kematian. Dalam sejarah, jamur ini pernah menyebabkan ribuan orang meninggal pada Abad Pertengahan, karena panen gandum di Eropa terserang jamur api. 

Meski demikian, jamur ini kini dipakai dalam pengobatan. Ilmuwan kini mengambil ekstraknya untuk dijadikan berbagai obat-obatan, termasuk salah satunya dijadikan LSD.

Pertanyaannya, apakah dinosaurus juga bisa “nge-fly” karena jamur ini?

“Kemungkinan jamur ini bisa mempengaruhi mental dinosaurus jika susunan jamur api dalam fosil tersebut sama dengan jamur api yang ada saat ini,” ujar Poinar pada The Huffington Post. | Oregon State University, The Huffington Post

 

back to top