Menu
Pakde Karwo: Antara Operator dan Regulator Transportasi Tidak Bisa Dipisahkan

Pakde Karwo: Antara Operator dan Re…

Surabaya-KoPi| Gubernur J...

Nertalitas TNI dalam Pemilu Capres dan Cawapres

Nertalitas TNI dalam Pemilu Capres …

Lembah Tidar-KoPi| Senin ...

Reuni Adem Akabri '86, Ibu ibu melaksanakan Out Bound

Reuni Adem Akabri '86, Ibu ibu mela…

Lembah Tidar-KoPi| Minggu...

Teknik Mesin SV UGM Dukung Program Kampus Sehat dan Bebas Asap Rokok

Teknik Mesin SV UGM Dukung Program …

Jogja-KoPi| Departemen Te...

Teknologi RFID Bantu Lacak Legalitas Kayu

Teknologi RFID Bantu Lacak Legalita…

Bantul-KoPi| Tim Pengabdi...

Pakar UGM Ajak Masyarakat Memanen Air Hujan

Pakar UGM Ajak Masyarakat Memanen A…

Jogja-KoPi| Pakar Hidrolo...

BKP: Indonesia Fokus Pada Peningkatan Kompetitifitas Produk Agrikultur

BKP: Indonesia Fokus Pada Peningkat…

Bantul-KoPI|Pada tahun 20...

UNIVERSITAS MENYAMBUT R.I KEEMPAT

UNIVERSITAS MENYAMBUT R.I KEEMPAT

Oleh Moh. Mudzakkir(Dosen...

Pakde Karwo : 2/3 Perguruan Tinggi Swasta Sumbangkan Kaum Intelektual di Jatim

Pakde Karwo : 2/3 Perguruan Tinggi …

Surabaya-KoPi| Sebanyak 2...

Pengungsi Korban Gempa di Gumantar Banyak Terserang Ispa

Pengungsi Korban Gempa di Gumantar …

Lombok-KoPi| Sebanyak 30 ...

Prev Next

Dinosaurus juga suka “nge-fly”?

Dinosaurus juga suka “nge-fly”?
KoPi | Rupanya sejarah tidak bisa dilepaskan dari narkotika. Mulai dari jaman Yunani kuno hingga peradaban modern saat ini, manusia sudah merasakan efek halusinogen dari berbagai tanaman obat, seperti ganja, candu, mariyuana, dan sebagainya. Tapi sepertinya sejarah “nge-fly” sudah muncul bahkan jauh sebelum manusia muncul, alias pada jaman dinosaurus!
 

Baru-baru ini arkeolog menemukan fosil tanaman rumput purba di Myanmar. Fosil tanaman berusia 100 juta tahun tersebut ditumbuhi spesies jamur yang sejenis dengan jamur api yang dapat menyebabkan halusinasi. Jamur ini telah lama dikenal dalam peradaban manusia sebagai obat, racun, dan halusinogen. 

Arkeolog meyakini dinosaurus memakan rumput tersebut, meskipun tidak mengetahui bagaimana efeknya pada mereka. “Sepertinya jamur api sudah lama menjadi bagian kehidupan manusia dan binatang, dan kini kita tahu jamur ini sudah ada bahkan sejak rumput paling purba tumbuh,” ungkap Georg Poinar, Jr., paleo-entomologis dari Oregon State University yang menjadi pemimpin penggalian tersebut.

Poinar mengatakan efek jamur api pada manusia dan hewan bisa menyebabkan delusi, perilaku irasional, kejang, kesakitan, kelemayuh, dan kematian. Dalam sejarah, jamur ini pernah menyebabkan ribuan orang meninggal pada Abad Pertengahan, karena panen gandum di Eropa terserang jamur api. 

Meski demikian, jamur ini kini dipakai dalam pengobatan. Ilmuwan kini mengambil ekstraknya untuk dijadikan berbagai obat-obatan, termasuk salah satunya dijadikan LSD.

Pertanyaannya, apakah dinosaurus juga bisa “nge-fly” karena jamur ini?

“Kemungkinan jamur ini bisa mempengaruhi mental dinosaurus jika susunan jamur api dalam fosil tersebut sama dengan jamur api yang ada saat ini,” ujar Poinar pada The Huffington Post. | Oregon State University, The Huffington Post

 

back to top