Menu
Pakde Karwo : Terima Kasih Atas Empati dan Duka Cita AS kepada Korban dan Dampak Terorisme di Jatim

Pakde Karwo : Terima Kasih Atas Emp…

Jatim-KoPi| Gubernur Jati...

Pemerintah Bangun Industri Digital untuk Kurangi Kesenjangan Ekonomi

Pemerintah Bangun Industri Digital …

Sleman-KoPi| Pemerintah s...

Pakde Karwo: Dual Track Pendidikan Strategi Jatim Songsong Bonus Demografi  2019

Pakde Karwo: Dual Track Pendidikan …

Jatim-KoPi| Berbagai lang...

BPPTKG: Merapi Belum Menunjukkan Adanya Gejala Erupsi Seperti di Tahun 2010 dan 2006.

BPPTKG: Merapi Belum Menunjukkan Ad…

Jogja-KoPi| Balai Pen...

UGM Mewisuda 1354 Lulusan Sarjana dan Diploma

UGM Mewisuda 1354 Lulusan Sarjana d…

Sleman-KoPi| Universitas ...

Peneliti Gula UGM Soroti Penyimpangan Distribusi Gula Rafinasi

Peneliti Gula UGM Soroti Penyimpang…

Sleman-KoPi| Pasar gula d...

Gerakan Filantropi Islam Sebagai Deradikalisasi

Gerakan Filantropi Islam Sebagai De…

Sleman-KoPi| Dewasa ini, ...

Pakde Karwo: Kunci Perjuangan adalah Persatuan dan Kesatuan

Pakde Karwo: Kunci Perjuangan adala…

Jatim-KoPi| Salah satu ku...

Jaminan Kemerdekaan Kekuasaan Kehakiman Masih Berpusat Pada Institusi Bukan Hakim Secara Personal

Jaminan Kemerdekaan Kekuasaan Kehak…

Sleman-KoPi|Kemerdekaan k...

Prev Next

Dinosaurus juga suka “nge-fly”?

Dinosaurus juga suka “nge-fly”?
KoPi | Rupanya sejarah tidak bisa dilepaskan dari narkotika. Mulai dari jaman Yunani kuno hingga peradaban modern saat ini, manusia sudah merasakan efek halusinogen dari berbagai tanaman obat, seperti ganja, candu, mariyuana, dan sebagainya. Tapi sepertinya sejarah “nge-fly” sudah muncul bahkan jauh sebelum manusia muncul, alias pada jaman dinosaurus!
 

Baru-baru ini arkeolog menemukan fosil tanaman rumput purba di Myanmar. Fosil tanaman berusia 100 juta tahun tersebut ditumbuhi spesies jamur yang sejenis dengan jamur api yang dapat menyebabkan halusinasi. Jamur ini telah lama dikenal dalam peradaban manusia sebagai obat, racun, dan halusinogen. 

Arkeolog meyakini dinosaurus memakan rumput tersebut, meskipun tidak mengetahui bagaimana efeknya pada mereka. “Sepertinya jamur api sudah lama menjadi bagian kehidupan manusia dan binatang, dan kini kita tahu jamur ini sudah ada bahkan sejak rumput paling purba tumbuh,” ungkap Georg Poinar, Jr., paleo-entomologis dari Oregon State University yang menjadi pemimpin penggalian tersebut.

Poinar mengatakan efek jamur api pada manusia dan hewan bisa menyebabkan delusi, perilaku irasional, kejang, kesakitan, kelemayuh, dan kematian. Dalam sejarah, jamur ini pernah menyebabkan ribuan orang meninggal pada Abad Pertengahan, karena panen gandum di Eropa terserang jamur api. 

Meski demikian, jamur ini kini dipakai dalam pengobatan. Ilmuwan kini mengambil ekstraknya untuk dijadikan berbagai obat-obatan, termasuk salah satunya dijadikan LSD.

Pertanyaannya, apakah dinosaurus juga bisa “nge-fly” karena jamur ini?

“Kemungkinan jamur ini bisa mempengaruhi mental dinosaurus jika susunan jamur api dalam fosil tersebut sama dengan jamur api yang ada saat ini,” ujar Poinar pada The Huffington Post. | Oregon State University, The Huffington Post

 

back to top