Menu
UGM naik menjadi peringkat teratas nasional tahun 2017

UGM naik menjadi peringkat teratas …

YOGYAKARTA, 21 AGUSTUS 20...

UMY berikan Hibah Mobil kepada MDMC

UMY berikan Hibah Mobil kepada MDMC

Bantul-KoPi| Sebagai Univ...

Haedar Nashir Ajak Maba UMY Jadi Intelegensia Muda Berkarakter Tradisi Besar

Haedar Nashir Ajak Maba UMY Jadi In…

Bantul-KoPi| Ketua Umum P...

Seminar COMICOS 2017 Universitas Atmajaya Yogyakarta

Seminar COMICOS 2017 Universitas At…

SLEMAN-Memasuki usianya y...

UMY Tradisikan Silaturahim Bersama Orangtua/Wali Mahasiswa Baru

UMY Tradisikan Silaturahim Bersama …

Bantul-KoPi| Tradisi baik...

Narsisme Politik dan Arsitektur Kemerdekaan

Narsisme Politik dan Arsitektur Kem…

Dewasa ini, kita sering d...

Komunitas Kali Bersih Magelang: Merdekakan Sungai Dari Sampah

Komunitas Kali Bersih Magelang: Mer…

Magelang-KoPi| Komunitas ...

Mahasiswa UGM ikutkan mobil balap rakitan sendiri ke Kompetisi Internasional

Mahasiswa UGM ikutkan mobil balap r…

Sleman-KoPi|Tim Bimasakti...

Peringati HUT RI ke 72 Resto Madam Tan buat ketan merah putih 17 meter

Peringati HUT RI ke 72 Resto Madam …

Jogja-KoPi|Untuk memperin...

Daging Kurban Disembelih Tidak Benar, Hukumnya Haram

Daging Kurban Disembelih Tidak Bena…

YOGYAKARTA, 15 AGUSTUS 20...

Prev Next

MENEGUHKAN PERSAUDARAAN BANGSA SERUMPUN

MENEGUHKAN PERSAUDARAAN BANGSA SERUMPUN
Judu Buku : Why Are We Angry at Them; Satu Analisis Matrik Berkembar G-M-P bagi Hubungan Indonesa-Malaysia, Penulis : Mohammad Reevany Bustami, Ali Maksum, Linda Sunarti, Penerbit : UI Press, Jakarta, Tahun : Cetakan Pertama, 2016, Tebal : xi + 117 halaman, ISBN : 978-979-456-659-6

Indonesia dan Malaysia memiliki kesamaan garis genealogi budaya. Secara geografis, keduanya terletak di satu kawasan yang disebut kepulauan Nusantara. Masyarakat kedua negara ini menggunakan bahasa nasional dari rumpun yang sama, yaitu bahasa Melayu. Sebelum munculnya negara bangsa, masyarakat di kawasan ini sudah saling berinteraksi tanpa dibebani identitas warga negara. Mereka menggunakan bahasa Melayu sebagai lingua franca. Keduanya juga memiliki kemiripan tradisi agama, karena mayoritas masyarakatnya beragama Islam. Oleh karena itu, Indonesia dan Malaysia hingga kini masih merasa serumpun.

Satu Rumpun, Dua Penjajah

Secara historis, kedua negara pernah dijajah oleh imperialisme Barat. Indonesia dicengkeram oleh imperialisme Belanda, sedangkan Malaysia dikuasai Inggris Raya. Meskipun demikian, kedua negara memiliki sejarah perjuangan kemerdekaan yang berbeda. Indonesia melalui jalur revolusi, sedangkan Malaysia melalui jalan non-revolusi. Maka memasuki fase pasca kolonial, latar sosial historis tersebut mempengaruhi dinamika kehidupan keduanya. Sebagai catatan penting, keduanya sama-sama merdeka pada bulan yang sama. Indonesia merdeka tanggal 17 Agustus 1945, sedangkan kemerdekaan Malaysia pada tanggal 31 Agustus 1957. Namun, negeri “kakak-adik” ini seringkali mengalami hubungan pasang-surut. Terkadang harmonis, terkadang juga berkonflik.

Hubungan pasang-surut antara Indonesia dan Malaysia pasca reformasi secara jelas diungkap oleh Mohammad Reevany Bustami, Ali Maksum, dan Linda Sunarti. Karya ini berjudul Why Are Angry We Angry at Them; Satu Analisis Matrik Berkembar G-M-P bagi Hubungan Indonesia-Malaysia. Buku kolaboratif ini merupakan hasil penelitian beberapa kasus konflik antara dua negara yang sempat memuncak. Kasus-kasus yang ditelaah meliputi masalah perbatasan, sengketa Ambalat, produk budaya (tari Pendet dan Tor-Tor), Tenaga Kerja Indonesia (TKI), hingga persoalan persaingan dagang di antara keduanya.

Buku yang diterbitkan UI Press ini ditulis oleh tiga akademisi yang berasal dari kampus berbeda. Reevany dari Universiti Sains Malaysia, Ali Maksum dari Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, dan Linda berasal dari Universitas Indonesia. Inilah yang membuat buku tersebut menjadi unik dan menarik.

Sebelum merdeka, hubungan informal keduanya sudah terjalin erat. Pergerakan nasionalisme di Indonesia memberi pengaruh terhadap perkembangan nasionalisme di semananjung Malaya, khususnya di kalangan kelas menengah bawah. Banyak kaum nasionalis Melayu beraliran kritis, semisal Ibrahim Yakub dan Ahmad Bustaman, terinspirasi oleh tokoh pergerakan kemerdekaan di Indonesia, seperti Tan Malaka dan Soekarno. Bahkan, kelompok ini memiliki cita-cita untuk menyatukan tanah Melayu dalam sebuah negara Melayu Raya atau Indonesia Raya. (hlm. xvi).

Terlepas adanya perbedaan terhadap konstruksi nasionalisme kelompok elit dominan Indonesia dan Malaysia, Indonesia mendukung kemerdekaan Malaysia dari Inggris. Bahkan, Indonesia mengutus Menteri Luar Negeri Republik Indonesia, Dr. Subandrio, untuk hadir secara khusus ke Kuala Lumpur untuk ikut merayakan kemerdekaan. Secara resmi Indonesia juga mendukung masuknya Malaysia ke Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Sayang, hubungan yang harmonis tersebut terganggu dengan sikap Malaysia yang abstain saat voting masalah Irian Barat di PBB, simpati Malaysia terhadap pemberontakan PRRI/Permesta, dan persoalan politik lainnya (hlm. xix-xxi).

Hubungan Indonesia dan Malaysia kembali membaik pasca Soekarno digantikan oleh Soeharto. Begitu pula perubahan kepemimpinan di Malaysia dari Tun Abdul Rahman pada Tun Abdul Razak. Kedua belah pihak kembali membangun hubungan erat di berbagai bidang, baik ekonomi, politik, keamanan, pendidikan dan kebudayaan. Kedua negara ini bersama Thailand dan Singapura menjadi pendiri ASEAN (1967) sebagai wadah membangun perdamaian dan kerjasama regional.

Ketegangan Pasca Reformasi

Pasca reformasi, hubungan Indonesia dan Malaysia tidak sepenuhnya berjalan mulus. Karya ini berusaha membaca dinamika ketegangan antara kedua negara ketika Presiden Susilo Bambang Yudhono (SBY) berkuasa selama dua periode. Ketiga penulis karya ini menggunakan analisis matrik ganda untuk melihat sikap dan posisi Pemerintah (Government atau G), Media (M), dan Publik atau masyarakat (P). Artinya, tekanan pemerintah (G) yang kuat akan mempengaruhi sentimen masyarakat (P). Masyarakat sangat tinggi sentimennya bila media (M) meliput secara provokatif dan negatif (hlm. 3).
Salah satu contohnya adalah kasus Ambalat tahun 2005 (hlm. 11). Berbagai jejaring sosial dunia maya di Indonesia, misalnya, memplesetkan Malaysia dengan istilah “Malingsia”. Jargon yang popular di masa lalu dimunculkan kembali, “Ganyang Malaysia”, sebagai bentuk kemarahan masyarakat Indonesia terhadap sikap Malaysia. Masyarakat Malaysia juga membalas dengan jargon “I hate Indonesia”. Perang wacana di dunia maya pun terjadi (hlm. 12-22).

Belum reda ketegangan akibat kasus perbatasan, muncul kasus Tarian Pendet yang ditayangkan dalam Discovery Channel sebagai bagian dari Iklan wisata Malaysia. Publik Indonesia kembali marah karena mengganggap Malaysia telah mengklaim tarian khas budaya Bali ini sebagai bagian dari produk budaya mereka. (hlm. 26-27).

Persoalan Tenaga Kerja Indonesia (TKI) menjadi salah satu isu krusial yang sering membuat relasi Indonesia-Malaysia bersitegang. Dalam rentang tahun 2006-2008, menurut Kedutaan Besar Indonesia di Kuala Lumpur tercatat kurang lebih 289 kasus penganiayaan terhadap TKI di Malaysia. Beberapa kasus yang mendapatkan perhatian luas seperti kasus yang dialami Nirmala Bonat, Ceriaty, Parsiti, Kunarsih, Yosinta Moy dan Siami. Setiap muncul kasus-kasus tersebut masyarakat, media dan pemerintah bersikap satu suara. Sebagaian masyarakata juga mendesak Pemerintah Indonesia menghentikan pengiriman TKI ke negeri upin-ipin. Tapi bila dicermati berdasarkan data tahun 2006-2008, TKI yang bermasalah di Malaysia hanya 0.03%. Berarti, 99.97% orang Indonesia yang bekerja di Malaysia tidak bermasalah (hlm. 47-53).

Pada bagian akhir, penulis buku ini memaparkan pentingnya meningkatkan kembali hubungan Indonesia-Malaysia. Meskipun hubungan kedua negara mengalami pasang-surut, hubungan people to people harus terus diperkuat. Sebagaimana halnya pada awal Orde Baru, relasi kedua negara cukup baik. Indonesia mengirimkan dosen dan guru ke Malaysia, dan sebaliknya banyak pelajar Malaysia yang menuntut ilmu di beberapa kampus di Indonesia. Pasca reformasi, data dari Kementerian Luar Negeri RI menunjukkan sekitar 10.000 mahasiswa Indonesia menuntut Ilmu di Malaysia. Sebaliknya, sekitar 3.400 mahasiswa Malaysia yang belajar di Indonesia (hlm. 78).

Namun, pemerintah di kedua negara belum memberikan perhatian terhadap masalah ini secara serius. Media pun tidak terlalu semangat mengangkat isu ini, karena mungkin tidak bersifat bombastis. Padahal, kerjasama yang baik akan mewujudkan kesejahteraan dan stabilitas keamanan masyarakat di kedua negara serumpun tersebut. Tentu saja, hal ini menjadi modal strategis bagi masyarakat ASEAN ke depan. Kedua negara serumpun ini memang saling membutuhkan. Ibarat “kakak-beradik”, situasi konflik hanyalah bumbu penyedap rasa persaudaraan bangsa serumpun.

back to top