Menu
Jadi Pembicara Seminar di UAJY, GKR Hemas Tekankan Penggunaan Teknologi dengan Bijak

Jadi Pembicara Seminar di UAJY, GKR…

Jogj-KoPi| Universitas At...

Pemprov Jatim Siapkan Formasi Jabatan Bagi 2.065 CPNS 2018

Pemprov Jatim Siapkan Formasi Jabat…

Surabaya-KoPi| Pemerintah...

UGM dan Twente University Teliti Kandungan Panas Bumi di Bajawa NTT

UGM dan Twente University Teliti Ka…

Flores-KoPi| Peneliti UGM...

Kopi Darat Nasional (KopdarNas) V Pajero Indonesia ONE di Surabaya

Kopi Darat Nasional (KopdarNas) V P…

Surabaya-KoPi| Dalam rang...

Jadi Pembicara di UAJY, Novel Baswedan Tekankan Nilai Integritas

Jadi Pembicara di UAJY, Novel Baswe…

Jogja-KoPi| Fakultas Huku...

Pakde Karwo: Antara Operator dan Regulator Transportasi Tidak Bisa Dipisahkan

Pakde Karwo: Antara Operator dan Re…

Surabaya-KoPi| Gubernur J...

Nertalitas TNI dalam Pemilu Capres dan Cawapres

Nertalitas TNI dalam Pemilu Capres …

Lembah Tidar-KoPi| Senin ...

Reuni Adem Akabri '86, Ibu ibu melaksanakan Out Bound

Reuni Adem Akabri '86, Ibu ibu mela…

Lembah Tidar-KoPi| Minggu...

Teknik Mesin SV UGM Dukung Program Kampus Sehat dan Bebas Asap Rokok

Teknik Mesin SV UGM Dukung Program …

Jogja-KoPi| Departemen Te...

Teknologi RFID Bantu Lacak Legalitas Kayu

Teknologi RFID Bantu Lacak Legalita…

Bantul-KoPi| Tim Pengabdi...

Prev Next

Melawan Pasar bebas melalui ekonomi substantif

Melawan Pasar bebas melalui ekonomi substantif

Judul Buku      :Ekonomi Insani “Kritik Karl Polanyi terhadap Sistem Pasar Bebas”
Penulis           :Justinus Prastowo
Penerbit         :Marjin Kiri
Tahun Terbit   :2014
Dimensi Buku  :xx + 183 hlm, 14 x 20,3 cm


Filsafat liberalisme di dalam sistem ekonomi global ditenggarai bertanggungjawab atas kondisi kapitalisme yang tidak mengartikulasikan secara maksimal model pembangunan ekonomi di negara-negara dunia ketiga. Konteksnya dengan kebijakan pasar bebas terhadap negara-negara berkembang justru menimbulkan kebijakan-kebijakan paradoksal. Antara lain, dengan proporsi tidak berimbang yang harus ditanggung oleh warga negara melalui industri ekonomi kreatif melalui PDB. Sedangkan, industri manufaktur menjadi proyek yang terbengkalai dan mengalami privatisasi. Justinus, mengawali penulisan mengenai Karl Polanyi dengan pertanyaan utama: apakah kapitalisme dan seluruh turunannya dapat dikritik ?.

Karl Polanyi adalah ekonom sekaligus filsuf politik (political philosopher) yang menulis karya penting “The Great Transformation (GT)”. Hans Kohn memberikan apresiasi melalui resensi atas karya tesebut yang dimuat di harian New York Times dengan judul “will learn much for a better under­standing of the elements of 19th‐century society and thought”. Hans Kohn berkomentar bahwa Polanyi dalam GT mengungkap empat prinsip yang menjadi “tiang peyangga tatanan sosial abad ke-19”. Sama halnya dengan Hans Kohn, Justinus Prastowo dalam Ekonomi Insani (EI) ini pun mendasarkan penjabaran ini sebagai pintu prinsipil untuk bangunan kritik Polanyi atas sistem pasar bebas. Keempat prinsip tersebut ialah, pertama, sistem keseimbangan kekuatan; kedua, tata keuangan berdasarkan standar emas internasional; ketiga, tata Negara liberal; keempat, sistem pasar swatata (hlm.21).  

Bagaimana sebenarnya Justinus akan mengeksplorasi Polanyi?. Sebagaimana Karl Marx di dalam Capital Jilid I yang mengambil tema penggunaan dan pertukaran sebagai pembahasan awal, posisi Polanyi pun secara ideal tidak berbeda jauh keberadaannya pada titik demikian. Justinus dalam EI melakukan hal ini dengan menggembirakan. Selain berbicara persoalan mengenai ide-ide Polanyi pada bagian awal EI, posisi individu dan kepemilikan pribadi juga diletakkan dengan cermat pada setiap pembahasan tiap Bab dengan simpul penutup secara spesifik di bagian akhir. 

Sebelum memasuki pemikiran Polanyi melalui EI, hal menarik yang perlu diperhatikan adalah pembabakan sejarah pemikiran Polanyi sendiri dalam konteksnya dengan bidang kajian yang menjadi sasaran utama kritik-kritik Polanyi. Pembabakan sejarah intelektual Polanyi berdasarkan acuan pada karyanya; GT, masuk ke dalam tahap ke-III (hlm.18). sebelum skematisasi pemikiran Polanyi berdasarkan GT, hembusan dari pandangan Polanyi dalam artikelnya yakni; Essence of Fascism (EF) memberikan kesimpulan prediktif atas resiko berbahaya dari sistem pasar bebas. Dalam EF, Polanyi mengatakan bahwa benturan antara sistem pasar bebas dan masyarakat dapat mengarah pada kemungkinan fasisme. Hal ini disinggung kembali di dalam Mystery of Capital oleh Hernando de Soto. Pembabakan sejarah intelektual Polanyi ini akan turut kita lihat juga terkait dengan posisi Polanyi sebagai ekonom substantif secara diametral dengan ekonom formalis yang dekat dengan ide-ide ekonomi neo-klasik pada karya Anumertanya, The Livelihood Man.

Untuk melihat bagaimana Justinus sampai pada apa yang disebutnya sebagai Ekonomi Insani, kita akan mencoba turun dari beberapa dasar premis pembentukan istilah ini—yang masih terkait erat dengan pembabakan intelektual Polanyi. Turunan umum gagasan penting Polanyi seperti dissembedded economy berasal dari Aristoteles (hlm.47). Aristoteles membagi dua jenis sistem pertukaran yakni, pertukaran alamiah (natural exchange) dan pertukaran tidak-alamiah (unnutural exchange). Dua jenis pembagian Aristoteles ini, ditelusuri oleh Justinus di dalam kerangka pembentukan istilah Ekonomi Insani. Gagasan jenis pertukaran ini memperlihatkan kepada Polanyi mengenai bagaimana sebenarnya sistem pra-kapitalis bekerja.  

Menurut Justinus, terdapat dua indikator dari metode yang digunakan Polanyi. Dua indikator tersebut yang kemudian meletakkan Polanyi sebagai ekonom substantif. Pertama, Polanyi mengajukan ekonomi substantif sebagai senjata untuk melawan ekonomi arus utama dengan mempertanyakan asumsi-asumsi dasar yang dibangun oleh ekonomi arus utama. Asumsi itu adalah masalah asumsi kelangkaan dan asumsi pengejaran keuntungan. Polanyi mempertanyakan secara tegas mengenai bagaimana sebuah kondisi dinyatakan sebagai “langka”, ketidakcukupan”?. Menurut Polanyi asumsi-asumsi ini diturunkan dari postulat yang dibangun oleh ekonomi formalis.

Kedua, ekonomi substantif membuka celah untuk mengkritik ideologi Hobbesian di dalam ekonomi arus utama. Indikator metode tersebut digunakan oleh Justinus untuk mendefinisikan Ekonomi Insani sebagai “...tidak terletak pada ketidakterbatasan keinginan dan kebutuhan atau fakta kelangkaan, tetapi berakar pada proses sosial atau konteks kultural” (hlm.47). Postulat mengenai kelangkaan dan keinginan yang tak terbatas menurut Justinus adalah “menggambarkan distorsi kultural ketimbang fakta alamiah”. Ketercerabutan ekonomi di dalam masyarakat berawal dari distorsi kultural. Melalui distorsi kultural tersebut, ketercerabutan ekonomi dari masyarakat berakhir dengan proses identik antara ekonomi dan pasar. Logika pasar secara dominan menguasai alur kerja ekonomi. Sistem-sistem logika, budaya, tradisi, politik—antropologi tidak masuk di dalam logika pasar. Dalam hal ini Polanyi membantu diskursus kritik terhadap ekonomi arus utama dengan mengintegrasikan antropologi ke dalam analisis perbandingan sistem ekonomi (hlm.49).

Bagaimana jalan yang sedang diupayakan oleh Justinus untuk mengkritik kapitalisme melalui metode ala Polanyi di dalam EI ?. Pertama, mengkritik kapitalisme yang selalu bersandar pada asumsi mengenai keterbatasan, kelangkaan, dan keinginan manusia yang tidak terbatas. Kenyataannya, sarana yang menjadi media untuk mencapai tujuan sebenarnya adalah aras soal penentuan dan pilihan. Polanyi menyatakan bahwa soal kelangkaan bukan pada ketidakcukupan sarana, sebagaimana yang diyakini ekonomi formalis, melainkan soal pengalihan sarana pada alternatif yang tersedia dengan mendasarkan asumsi Aristoteles mengenai manusia sebagai makhluk yang secara kodrati cukup-diri (self-sufficient). Cara ekonomi formalis mendefinisikan komoditas sama artinya dengan sebuah proses dehumanisasi. Komodifikasi mencerabut manusia dari alam dan masyarakat yang secara serius membangkitkan dua model di dalam gerak ganda; ekstensi dan proteksi. Komodifikasi merampas materi yang tak terbatas, yang disediakan oleh alam tanpa diproduksi, dan mengubahnya ke dalam logika sarana-tujuan. Dalam aras tersebut, problematika mendasar kembali pada daya beli masyarakat terhadap komoditas.

Kedua, bangunan kritik Polanyi terhadap kapitalisme, menurut Justinus adalah mengembalikan persoalan moral di dalam ekonomi tanpa terjebak—yang disebut oleh Justinus sendiri yakni; Eisegesse. Pada titik ini, level institusi ekonomi memerlukan landasan ideologi yang tepat bagi pembangunan negara yang memperhatikan seluruh lapisan masyarakat.

Ketiga, Justinus melalui kritik Polanyi atas kapitalisme berupaya untuk menunjukkan jalan awal proses rekonstruksi asumsi antropologis dalam ilmu ekonomi. Ketercerabutan ekonomi dari tujuan asalinya adalah salah-satu penyebab ekonomi formalis memainkan logika pasar sebagai domain utama pelandasan ekonomi. Maka proses integrasi antropologi di dalam ekonomi adalah perihal penting untuk membangun kritik dan pemecahan bagi kapitalisme.

Secara menarik, Marjin Kiri, sebagai penerbit buku Ekonomi Insani berkontribusi terhadap minat yang tinggi dari khalayak atas pemikiran Polanyi. Penerbitan buku ini menurut Ronny Agustinus, Redaksi Marjin Kiri, menjadi gerbang awal bagi pembaca di Indonesia untuk menunggu penerbitan kumpulan karangan Polanyi di dunia Internasional yang akan dirilis dalam satu tahun ke depan di AS dan London.

-Fauzan Anwar Sandiah, Kurator Rumah Baca Komunitas Yogyakarta, Mahasiswa Pasca Sarjana UIN Sunan Kalijaga, (Email: This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.)

back to top