Menu
Basarnas Fokuskan Pengamanan Wisata Pantai Selatan

Basarnas Fokuskan Pengamanan Wisata…

Jogja-KoPi| Tim Search An...

PBB:Serangan Lanjut ke Hudaida Yaman berdampak ke Bencana Kemanusiaan yang Lebih Besar

PBB:Serangan Lanjut ke Hudaida Yama…

Yaman-KoPi| Persatuan Ban...

Tahun 2018 Kasus Demam Berdarah Cenderung Turun.

Tahun 2018 Kasus Demam Berdarah Cen…

Sleman-KoPi| Memasuki per...

Mahasiswa UGM Inovasikan Limbah Cangkang Udang Menjadi Closet Sanitizer Berbahan 100% non Alkohol.

Mahasiswa UGM Inovasikan Limbah Can…

Sleman-KoPi| Lima Mahasis...

Gubernur DIY: Jalan Alternatif Gunung Merapi tidak di tutup Tapi kalau naik Gunung harap Waspada

Gubernur DIY: Jalan Alternatif Gunu…

Sleman-KoPi| Gubernur Dae...

Operasi Ketupat 2018, Polda DIY Berfokus Pada 4 Potensi Kerawanan saat Lebaran.

Operasi Ketupat 2018, Polda DIY Ber…

Sleman-KoPi| Kepolisian D...

Tamu di Yogyakarta Lebih Gemar Menghabiskan Malam di  Hotel Berbintang Ketimbang di Hotel Melati.

Tamu di Yogyakarta Lebih Gemar Meng…

Bantul-KoPi| Badan Pusat ...

Donald Trump Pastikan Tanggal Gelaran Pertemuan Dengan Kim Jong.

Donald Trump Pastikan Tanggal Gelar…

Washington-KoPi| Presid...

Polda DIY Gagalkan Operasi Peredaran Tembakau Gorila di Yogyakarta.

Polda DIY Gagalkan Operasi Peredara…

Sleman-kopi| Direktorat R...

Keamanan di Bandara Adi Sutjipto Ketat Dengan Terjunnya 29 Ekor Anjing Pelacak dan Body Scanner.

Keamanan di Bandara Adi Sutjipto Ke…

Sleman-KoPi| Komandan sat...

Prev Next

Kenangan Pak Djon, Sopir dan Asisten Pribadi, tentang Pelukis Affandi

Kenangan Pak Djon, Sopir dan Asisten Pribadi, tentang Pelukis Affandi

Data Buku:

Ukuran Buku: 24 x 17,5 CM

Tebal : xvii + 308

HalamanCover Buku: Hard

CoverKertas isi: Book Paper 90 gr

Penulis: Hendro Wiyanto dan Hari Budiono

ISBN: 978-602-1268-06-3

Buku ini mengisahkan laku kesenimanan dan keseharian seniman besar kita: Baharudin Affandi Kusuma (1907-1990). Tetapi tuturan di dalamnya malah tidak dilakukan oleh Affandi sendiri, melainkan justru oleh Pak Djon. Siapa tidak kenal Pak Djon? Kalau orang mengenal Affandi, pasti tahu Pak Djon. Pak Djon sudah bekerja melayani pelukis ini sejak 1961. Menempuh tahun-tahun kehidupan yang panjang, kebersamaan antara Affandi dan Pak Djon sangat kuat. Keduanya memang tidak bisa dipisahkan begitu saja. Pak Djon malah sering pula memperoleh sapaan sebagai ‘Djon Affandi’.

 

Sebaliknya, sosok Affandi tak bisa lagi dibayangkan seutuhnya tanpa kesetiaan dan pelayanan Pak Djon selama hampir tiga puluh tahun. Dalam banyak urusan, Affandi selalu bertanya dulu kepada Pak Djon, dengan “Piye, Djon?” Affandi selalu kebelet melampiaskan naluri kesenimanannya. Semua orang kiranya sudah tahu mengenai hal itu. Kata orang, kapan saja dia bisa ‘lapar melukis’. Bagi Affandi sendiri, sebagai seniman, dorongan naluriah semacam itu tak mungkin bisa ditunda. Juga tak bisa diketahui kapan datangnya. Rupanya, kebutuhan yang satu ini jauh lebih misterius ketimbang lapar fisik atau kebutuhan makan untuk hidup.

 

Pada saat kebelet, ribet bertarung dengan emosinya sendiri, kehadiran dan keterampilan Pak Djon menjadi sangat dibutuhkan. Pak Djon dengan cekatan menyediakan kebutuhan Affandi saat mengalami semacam séance ketika melukis. Kanvas yang ukurannya tertentu, sifat permukaannya yang sedikit kasar, warna dan merek cat yang paling mengena, sampai melap tubuh seniman yang kotor penuh dengan sisa minyak dan cat. Semua itu porsi bagi Pak Djon, tubuh lain yang melaksanakan titah kejeniusan seniman. Seperti pasangan antara Kresna dan Arjuna, kata Affandi di dalam buku ini. ‘Momentum’ Pak Djon tampaknya lahir setelah Sang Pelukis meninggal dunia.

 

Begitulah rupanya yang terjadi setelah Affandi wafat. Pak Djon menjadi rujukan banyak orang tentang lukisan-lukisan Affandi. Terutama mengenai urusan yang sebenarnya dulu sering tidak terlalu dipedulikan oleh Affandi sendiri, dan bukannya tidak tahu. Begitu pula, sesudah Affandi wafat, terbukalah kesempatan bagi Pak Djon untuk –istilahnya sendiri- ‘membuka kartu’, berbagi pengalaman hidupnya bersama Affandi. Dengan begitu kisah yang dituturkan oleh Pak Djon –di usianya yang ke- 80 pada tahun ini- kiranya masih perlu dimaknai lagi untuk memahami laku kesenimanan Affandi. Boleh juga dibilang, tuturan Pak Djon mengenai Sang Seniman mestinya dapat mendorong pemahaman mengenai beberapa praanggapan yang mendasari tujuan-tujuan artistik seni lukis Affandi selama ini.

 

Baharudin Affandi Kusuma dilahirkan pada tahun 1907 di Arjawinangun, Cirebon, Jawa Barat. Ayahnya, Raden Kusuma adalah mantri ukur tanah di pabrik gula Ciledug, Jawa Barat. Istri keduanya Ladjem, yang tak lain adalah Ibunda Affandi. Pernikahan ini melahirkan tujuh anak, dan Affandi anak kelima. Affandi mulai gemar menggambar sejak umur tujuh tahun. Dia belajar melukis secara otodidak, dan mulai memperoleh perhatian internasional sejak 1950-an, setelah melanglang ke sejumlah negara di Eropa. Dia memperoleh penghargaan utama, di dalam negeri maupun luar negeri. Sumbangan Affandi dianggap besar untuk apresiasi seni di Asia Tenggara.

 

Pada Agustus 1974, di Gedung National Theatre, Universitas Singapura mengganjarnya gelar Doctor of Letters. Di tahun 1975 ia memperoleh Anugerah Bintang Mahaputera dari Presiden Soeharto. Tahun 1978, Bintang Jasa Utama dari Pemerintah Republik Indonesia disematkan di dadanya. Dua penghargaaan bergengsi diterima Sang Pelukis pada 19 Maret 1977, dalam sebuah upacara khidmat di Castello, Sammezzano, Firenze, Italia. Yang pertama adalah Hadiah Perdamaian Internasional dari Yayasan Dag Hammarskjöld dan gelar Grand Maestro di Italia. Selain itu ia juga diangkat sebagai anggota Akademi Hak-Hak Azasi Manusia dari Central Committee of The Diplomatic Academy of Peace, Pax Mundi yang berpusat di San Marzano, Florence, Italia.

 

Pada 23 Mei 1990, pukul 16.30 WIB, Affandi, seniman besar itu berpulang. Ia mengembuskan nafas terakhir di bawah rumah panggungnya. Jasadnya dimakamkan di pojok halaman kompleks Museum Affandi, di pinggir Kali Gajahwong, Jalan Solo No. 167 Jogjakarta. Dia meninggalkan 2 istri, 8 anak, 20 cucu, 5 cicit dan ribuan karya yang tersebar di seluruh dunia.

 

Suhardjono dilahirkan di Kampung Pingit, Yogyakarta, 8 Maret 1934. Dia anak pertama dari dua bersaudara laki-laki. Ayahnya, Paulus Abdullah Madyosuwarno adalah pegawai kebersihan dan bertugas membunyikan lonceng di Gereja Kotabaru, Yogyakarta. Ibunya bernama Christina Dalipah, berasal dari kampung Pingit, meninggal dunia ketika anak-anaknya masih kecil, di zaman Jepang. Dia pernah menjadi kernet opelet, lalu beralih menjadi kernet bus Baker dan sopir truk. Sejak tahun 1961, Pak Djon menjadi sopir tidak tetap pelukis Affandi, dan kemudian menjadi sopir dan asisten tetapnya sampai menjelang Sang Maestro berpulang. Dari pernikahan dengan istri pertama Siti Badriyah, Pak Djon dikaruniai lima anak yang kini telah memberinya sejumlah cucu. +++

 

 

 

back to top