Menu
Bupati dan Walikota Harus Mengacu dengan Visi Misi Presiden

Bupati dan Walikota Harus Mengacu d…

Surabaya-KoPi| Bupati dan...

FISIPOL UGM Gelar Inkubasi Bisnis Soprema 2018 untuk Sociopreneur Muda dari 16 Provinsi Indonesia

FISIPOL UGM Gelar Inkubasi Bisnis S…

Jogja-KoPi| Rangkaian gel...

Kreatifitas Itu Bukan Bawaan, Tapi Bisa Dilatih

Kreatifitas Itu Bukan Bawaan, Tapi …

Jogja-KoPi| Pakar Manajem...

Raih Doktor Usai Meneliti Transformasi Budaya Organisasi Perguruan Tinggi

Raih Doktor Usai Meneliti Transform…

Jogja-KoPi| Transformasi ...

Jadi Pembicara Seminar di UAJY, GKR Hemas Tekankan Penggunaan Teknologi dengan Bijak

Jadi Pembicara Seminar di UAJY, GKR…

Jogj-KoPi| Universitas At...

Pemprov Jatim Siapkan Formasi Jabatan Bagi 2.065 CPNS 2018

Pemprov Jatim Siapkan Formasi Jabat…

Surabaya-KoPi| Pemerintah...

UGM dan Twente University Teliti Kandungan Panas Bumi di Bajawa NTT

UGM dan Twente University Teliti Ka…

Flores-KoPi| Peneliti UGM...

Kopi Darat Nasional (KopdarNas) V Pajero Indonesia ONE di Surabaya

Kopi Darat Nasional (KopdarNas) V P…

Surabaya-KoPi| Dalam rang...

Jadi Pembicara di UAJY, Novel Baswedan Tekankan Nilai Integritas

Jadi Pembicara di UAJY, Novel Baswe…

Jogja-KoPi| Fakultas Huku...

Prev Next

Tengkorak, Film Seru Yang Wajib Anda Tonton di Bulan Oktober

Tengkorak, Film Seru Yang Wajib Anda Tonton di Bulan Oktober

Jogja-KoPi| Sebuah Film bergenre fiksi ilmiah akan menghiasai bioskop layar lebar Indonesia pada pertengahan oktober ini. Film yang berjudul Tengkorak ini proses pembuatannya memakan waktu selama empat tahun lebih karena lebih banyak menggunakan teknologi visual efek. Sedikitnya 127 visual effect yang digunakan dalam film ini yang tidak kalah bagusnya dengan visual effect dari film-film hollywood.

Yusron Fuadi selaku sutradara mengharapkan film ini bisa menarik lebih banyak penonton untuk menikmati sebuah hiburan film karya anak bangsa yang berbeda dari biasanya.

”Saya jamin suguhan Film ini belum pernah anda temukan sebelumnya di film –film Indonesia lainnya,” kata Yusron sedikit berpromosi.

Meski menggunakan biaya minim, namun kualitas pengarapan film ini banyak mendapat apresiasi dan penghargaan interbnasional. Setidaknya film karya sivitas akademika UGM ini diputar di tiga film festival tingkat Asia dan Internasional.

“Tidak ada produser besar di belakang kami, tantangan terbesar di fiilm tidak ada artis dengan nama besar, dengan teknologi visual effect seghrausnya biasay cukup besar apalagi melibatkan banyak pemain dan figuran namun kita bsia menekan,” katanya.

Yusron mengatakan proses pengambilan gambra untuk film tersebut sebagian besar lokasinya di DIY, namuan ada beberapa lokasi yang diambil daerah Bandung, Jakarta, Gunung Bromo dan Singapura. “Bahkan kita mengambil gambar di sekitar lereng puncak Merapi,” katanya.

Eksekutif Produser Wikan Sakarinto mengatakan proses pembuatan Film ini berawas dari ide dan gagsan Yusron yang menawari pembuatan film. Ibarat gayung bersambut, gagsan tersebut diterima oleh Wikan dengan membuat konsep film yang bergenre fiksi ilmiah yang memang jarang dioputar di layar bioskop tanah air.

Namun tantangan selanjutnya adalah menghadarikan visual komponen visual effect tidak mudah hingga akhirnya para kru bekerja bejerja dari nol untuk membuat visual effect yang bisa setara dengan film-film dari Amerika. “Kita terpaksa membeli komouyer khsusu untuk teknologi visual effect ini dan animator bekerja dari nol untuk belajar tentang ini dan bisa berhasil,” ujarnya.

Wikan mengaku bersyukur, dengan kemampuan tim yang mayoritas adalah dosen dan mahasiswa sekolah Vokasi UGM dalam pengusaan teknologi visual efek menarik minat dari sineas tanah air untuk bekerja sama untuk menggrap film mereka.

Sedikit bocoroan, film tengkorak mengisahkan tentang temuan tengkorak raksasa yang menggeparkan seluruh masyarakat dunia. Tengkorak yang ditemukan di bukit sepanjang dua kilometer ini mengakibatkan banyak pihak ingin mengungkap keberadaan asal usul tengkorak tersebut yang dianggap mampu mengubah sejarah dunia. Namun hingga puluhan tahun misteri tengkorak tersebut belum terpecahkan.

Lalu, 18 tahun kemudian sejak ditemukan tengkorak itu, seorang mahasiswi yang bernama Eka yang diperankan oleh Eka Nusa Pertiwi, mendapatkan petunjuk awal asal keberadaan tengkorak raksasa tersebut. Eka pun akhirnya menjadi buruan banyak orang dengan kepentingan masing-masing hingga ia selalu dikejar kemanapun ia pergi.

Bahkan ia menjadi target untuk dibunuh. Kendati begitu, Eka selalu mendapat pengawasan dan perlindungan dari sekelompok orang yang ingin menjaga data rahasia tersebut tidak jatuh kepada pihak yang tidak bertanggungjawab. (Humas UGM/Gusti Grehenson)

back to top