Menu
RUU Permusikan dan Kebrutalan Spirit Kapitalisme

RUU Permusikan dan Kebrutalan Spiri…

Anang Hermansyah, anggota...

Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Perda Trantibmumlinmas

Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Per…

Surabaya-KoPi| Gubernur J...

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Indonesia Kian Hari Kian Memprihatinkan

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Ind…

Bantul-KoPi| Di dalam eko...

Masih Banyak Kekeliruan Informasi Dalam Sikapi Bencana

Masih Banyak Kekeliruan Informasi D…

Bantul-KoPi| Bencana alam...

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang Olahraga ke UGM

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang…

Jogja-KoPi| Kementerian P...

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan Baru

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan B…

Jogja-KoPi| Fakultas Kedo...

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Bekas Untuk Tingkatkan Mutu Jalan Rel Kereta Api di Indonesia

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Be…

Bantul-KoPi| Mengacu dari...

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancangan Mahasiswa UGM Raih Penghargaan di Seoul

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancanga…

Jogja-KoPi| Sepatu buatan...

Konsekuensi Pembangunan Infrastruktur

Konsekuensi Pembangunan Infrastrukt…

Oleh: Novri Susan (Sosiol...

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Prev Next

D.S Nugraheni : Film maker mampu profesional, jangan cuma ngejar duit

D.S Nugraheni : Film maker mampu profesional, jangan cuma ngejar duit

Yogyakarta-KoPi| Dinas Kebudayaan DIY membuat program bagi para film maker guna memajukan perfilman di Yogyakarta. Menurut pihak Disbud DIY, Kasi film, Setiawan Sahri acara ini sudah berlangsung selama tiga tahun terakhir dari tahun 2013, 2014 dan 2015. Awalnya pada tahun 2013 hanya diikuti oleh enam film dan setiap tahunnya bertambah bahkan tahun lalu masuk 200 proposal.

“Anggaran tahun ini naik sedikit. Untuk film dokumenter 154 juta dan film fiksi 177 juta itu sudah bersih. Harapannya laporan kegiataan nanti disesuaikan dengan pertanggung jawaban di lapangan”, jelas Setiawan.

Persoalan anggaran juga menarik tanggapan D. S Nugraheni untuk memicu kreativitas para film maker. “Tema film nanti terbuka apapun bisa tergantung bagaimana Anda bisa merespon dinamika kebudayaan Jogja. Film maker nantinya harus punya visi jelas. Ini dana rakyat dari duit pajak rakyat. Jangan hanya mengirim proposal film ke dinas dianggap beres. Kita maunya ada tanggung jawab profesi yang bisa dipertanggungjawabkan ke publik”, papar Nugraheni.

Dalam program ini Indra Tranggono berharap semua elemen yang terlibat kuhusnya kurator adalah kerja kolaborasi. Pihak pemerintah memiliki peran yang besar menjadi regulator dan fasilitator program.
Indra juga menambahkan kolaborasi struktur ini yang akan melahirkan karya-karya berkualitas.|Winda Efanur FS|

back to top