Menu
Konsekuensi Pembangunan Infrastruktur

Konsekuensi Pembangunan Infrastrukt…

Oleh: Novri Susan (Sosiol...

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu Evakuasi Korban Bencana di Sulteng

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu …

Sulawesi Tengah-KoPi|&nbs...

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar Tiban karya Anne Avantie

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar …

Surabaya-KoPi| Ketua Umum...

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi dalam Tantangan Kemajuan Ekonomi Digital

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi…

Jogja-KoPi| Fakultas Ekon...

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mulai Makan Korban

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mula…

Jogja-KoPi| Lembaga Konsu...

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Thailand

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Tha…

Bantul-KoPi| Universitas ...

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo Serukan Damai dan Berbudaya di Ranah Maya

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo S…

Jogja-KoPi|  – Selas...

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Politik Bahas Perkembangan Politik Nasional

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Po…

Jogja-KoPi| Fakultas Ilmu...

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan Solusi​ Online​ untuk UKM

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan …

Jogja-KoPi| Setelah sukse...

Prev Next

Castaway on the Moon; humor yang penuh perenungan

Castaway on the Moon; humor yang penuh perenungan

Oleh: Khoirul Anwar

 

“There is no need to go outside my room with a few clicks, everthing can be mine, easily”. “It doesn’t matter if it’s real or not. The replies on my site decide that.” Age, Looks, Jobs.. anything is possible.”

Saya kira Saranghanda, Saranghaji Anneunda (2011) merupakan film Korea yang paling mampu memberikan ‘bekas’ seperti Before Sunrise (1995) atau Before Sunset (2004). Setelah melihat Castaway on The Moon saya sadar telah keliru. Saranghanda, lebih mirip Sunset Limited (2011) karena intensitas dramanya ada pada kesinambungan dialog.

 

Sedang Castaway, tidak perlu memilih teknik yang mengelaborasi dialog untuk menimbulkan efek serupa film garapan Richard Linklater tersebut. Sutradara Hey-jun Lee justru menyukai monolog yang bertutur mengenai dua orang tokoh lewat penggunaan gambar bergerak. Barulah di bagian tengah ada persimpangan kedua karakter bertemu dan menjalin kisah.

 

Berbeda dengan film korea kebanyakan yang mengumbar gambar indah mengenai kemewahan hidup dan kemolekan tubuh, Castaway nampak seperti film pendek. Konsep maupun tema yang diangkat sedikit nyeleneh karena menyentil kehidupan yang kini hanyut terseret arus kebudayaan modern dimana manusia dituntut untuk selalu up to date, terkoneksi dengan media sehingga akhirnya konsumtif. Hal ini tercermin pada kedua tokoh yang menjadi pusat cerita. Tokoh Pria kehilangan semua hartanya akibat berlebihan menggunakan kartu kredit sementara tokoh Perempuan menciptakan hidup sempurna yang tidak pernah dimilkinya berkat internet dan kebohongan.

 

Mulanya film ini akan terlihat seperti Cast Away (2000) yang diperankan aktor Tom Hanks dimana tokoh Pria terdampar di sebuah pulau sehingga terpaksa menghadapi keterasingan. Tokoh dalam film ini digambarkan mengalami kejadian yang sama tapi dengan bumbu tingkah konyol yang advanced. Keterasingan -Alienasi, bukan bermakna peyoratif atau berarti terkungkung, melainkan menemukan kembali ‘Keberadaan’ dalam kehidupan.

 

Kisah bergulir saat belitan hutang yang menerpa seorang Pria membuatnya mencoba lari dari kehidupan. Sayang, rencananya tidak berjalan mulus ia ‘cuma berakhir’ di sebuah pulau kecil. Ia juga berpikir akan percuma jika ia kembali ke kehidupan lama karena ia sudah tidak memilki apapun.“Stupid getting out here, won’t change anything” gumamnya. Setelah cukup lama terisolir ia malah merasa terkoneksi kembali dengan hidup yang sebelumnya ia benci.

 

Pulau kecil tempat ia berada bak tanah jajahan baru dimana ia berkuasa. Kesulitan satu-satunya dalam menjalani hari adalah soal kebutuhan makanan. Dalam beberapa adegan kita akan disuguhi kekonyolan untuk hal yang sangat substansial: mencari makan. Lambat laun ia akhirnya mampu beradaptasi dan mulai menikmati hidup barunya. Namun kesehariannya yang tentram terusik oleh bumbu mi instan kacang hitam yang tertinggal dalam bungkusnya.

 

Perspektif lain muncul dari seorang Perempuan dari sebuah gedung. Tanpa sengaja ia mengetahui keberadaan si Pria. Hobinya untuk memotret tempat kosong -tanpa manusia, membuatnya menemukan seorang di tempat yang tak semestinya berpenghuni. Awalnya ia hanya penasaran tentang apa yang terjadi dengan sosok yang ia temukan kemudian terobsesi dan ingin menjalin kontak.

 

Sementara si Pria yang termotivasi untuk merasakan kembali semangkuk Mie kemudian berupaya memproduksi tanaman sebagai bahan pembuat Mie. Belum tercapai tujuannya tersebut ia mendapat sebuah pesan aneh yang menjawab sapaan yang ditorehkan di bibir pantai. Pesan singkat dalam botol tersebut berbunyi Hello, yang mengawali rangkaian komunikasi unik yang terjalin antara dua tokoh utama.

 

Krisis identitas menghinggapi si Perempuan saat akhirnya si Pria menanyakan tentang jati dirinya kali ini ia tidak bisa menampilkan dirinya seperti di dunia maya. Ia tidak mau disebut pembohong tetapi juga malu untuk tampil apa adanya. Pertanyaan tentang persepsi tubuh punya ruang untuk di ajukan pada penonton.

 

Pesan ini secara berkesinambungan ingin disampaikan oleh Castaway meski kisahnya banyak diselingi pengundang tawa yang dalam film justru meinmbulkan perenungan. Penonton diajak untuk mengingat kembali hal-hal sederhana yang mengundang kebahagian pada metafora semangkuk “Mie Kacang Hitam”. Bukan kebahagian materiil macam merek anggun nan mahal ‘Coco Chanel’ sebagai alas kaki ataupun tampilan indah lainnya. Kesederhanaan muncul sebagai variabel lain lawan dari kelimpahruahan kontemporer, kemudahan mendapatkan sesuatu berkat kemajuan teknologi dan informasi.

 

Meski tidak secara lugas film ini juga mengkritik seksualitas tubuh plastik yang diagung-agungkan lewat media. Castaway menghadirkan dua karakter aneh, cacat dan jauh dari kesempurnaan. Si Pria adalah pemuda bangkrut yang tidak ganteng, berkulit gelap dengan rambut gondrong acak-acakan. Sementara si Perempuan adalah makhluk antisosial yang kegiatannya cuma berselancar di internet hampir tidak pernah meninggal ruangannya.

 

Ia mungkin menderita hemofilia, penyakit yang membuatnya harus ekstra hati-hati karena darahnya akan sulit membeku ketika terluka. Sebuah alasan rasional jika ia dibiarkan oleh ayah dan ibunya mengurung diri dan tidur dilemari beralaskan bubble wrap. Saya sangat yakin jika sosok Perempuan ini tidak akan menjadi idola lelaki.

 

Kalimat pembuka yang saya kutip sebagai pembuka paragraf di atas dapat menggambarkan dimana film ini ingin memberikan pandangan lain mengenai dunia. Terhubung dengan modernitas menghadirkan aspek manipulatif instan. Aspek manipulatif yang menjadikan manusia dangkal dan menyangka dapat melihat kedalaman melalui permukaan. Terlepas segala hal serius yang ingin disampaikan, film ini juga tidak alfa untuk menghibur dengan menimbulkan reaksi yang menyulut endhorphin masuk dalam tubuh berkat unsur komedinya.

 

 

 

 

 

 

back to top