Menu
Perempuan pendukung gerak ekonomi Jatim

Perempuan pendukung gerak ekonomi J…

Surabaya-KoPi| Perempuan ...

Anies dinilai lalai rekonsoliasi dengan kata 'Pribumi'

Anies dinilai lalai rekonsoliasi de…

PERTH, 17 OKTOBER 2017 – ...

Jatim Fair 2017 Ditutup, Transaksi Capai 54,3 Milyar Rupiah

Jatim Fair 2017 Ditutup, Transaksi …

Surabaya-Kopi| Pameran Ja...

Ketika agama membawa damai, bukan perang

Ketika agama membawa damai, bukan p…

YOGYAKARTA – Departemen I...

Gubernur Jatim Minta Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) Lakukan Research dan Development

Gubernur Jatim Minta Badan Pendapat…

Surabaya-Kopi| Memperinga...

Fatma Saifullah Yusuf puji aksi KCBI Surabaya

Fatma Saifullah Yusuf puji aksi KCB…

Surabaya-KoPi| Dra. Hj. F...

Warek UIN Kalijaga: Menulis populer bisa jauhkan sikap radikal

Warek UIN Kalijaga: Menulis populer…

YOGYAKARTA, 13 OKTOBER 20...

Gus Ipul resmikan prastasti Masjid Cheng Hoo Surabaya

Gus Ipul resmikan prastasti Masjid …

Surabaya-KoPi| Wagub Jati...

Bude Karwo: Jangan takut, kanker bisa disembuhkan

Bude Karwo: Jangan takut, kanker bi…

Surabaya-KoPi| Ketua Yaya...

Gus Ipul ajak.Perguruan Sejati jaga NKRI

Gus Ipul ajak.Perguruan Sejati jaga…

Madiun-KoPi| Wakil Gubern...

Prev Next

Sastra rasa konyol Ugo Untoro

Sastra rasa konyol Ugo Untoro

Judul: Cerita Pendek Sekali , Penulis : Ugo Untoro, Penerbit: Penerbit Nyala Yogyakarta, Tahun Terbit: Januari 2017, Hal : 106, ISBN: 978-602-60855-0-4, Harga: Rp. 50.000;

 


Sastrawan melukis atau pelukis menulis sastra, keduanya sering terjadi -yang jarang terjadi adalah pelukis menulis sastra dan hasilnya mempesona. Ugo Untoro, pelukis yang pernah menjadi Man of The Year tahun 2007 versi majalah Tempo, barangkali adalah sosok yang nyaris memiliki kemampuan keduanya. Ia mampu melukis secara baik dan sekaligus mampu menulis sastra secara mempesona. Buku prosa pertamanya yang diterbitkan dengan judul Cerita Pendek Sekali menjadi bukti tentang kombinasi itu.

Buku Cerita Pendek Sekali, seperti juga judulnya berisi kompilasi cerita pendek yang secara umum memang pendek sekali (ada yang hanya satu kalimat) dan membuatnya terlihat tipis dan ringan. Di dalamnya ada 80 cerita tanpa judul, hanya bernomor dan terhimpun menjadi 106 halaman beserta pengantarnya yang ditulis Puthut EA. Sebuah buku kecil.

Buku kecil, namun sebagiannya (ceritanya) memberikan efek mendalam dari sebuah kualitas cerpen yang baik. Menyentak, memaksa orang menyadari sesuatu dan sekaligus meninggalkan kesan mendalam dan senyum bahkan ketawa.

Membaca buku Cerita Pendek Sekali karya Ugo Untoro kita akan menemukan lanskap terbuka luas 'kehidupan manusia' tanpa pretensi. Dimana hidup dan manusia adalah sebuah rangkaian kontruksi sekaligus dekontruksi melalui fragmen yang padat dengan pelbagai hasrat dan peristiwa manusia di dunia 'dalam'. Pertentangan batin, antipoda sosial, penolakan dan penyesalan. Omomg kosong, kebodohan, kekonyolan atau pelbagai hal lain yang sepenuhnya adalah sebuah potret 'dalam' dari situasi batin penulisanya.

Hampir semua cerita dalam buku ini mengingatkan gagasan yang pernah disinggung Milan Kundera dari kredo Francois Rabelais perihal hakekat menulis novel. Kebikjasanaan novel tidak dibangun dari teoritik, tetapi dibangun oleh humor. Novel atau cerpen, seharusnya bukan gagasan filsafat atau tentang nalar. Bila kita membaca karya John Steinbeck seperti Dataran Tortella atau Cannery Row atau Prajurit Schwek karya Jaroslav Hašek, kita sadar tengah di hadapkan dengan kisah-kisah manusia yang lahir dari kemampuan menertawakan diri dan keadaan.

Demikian pula dengan 80 cerita di dalam buku Ugo Untoro ini. Kita akan menemukan kemampuan menertawakan diri atau keadaan dari penulis (Ugo Untoro) begitu kuat. Kita bisa cermati salah satu cerpen berikut. "Mungkinkah aku salah tempat ketika dilahirkan? Harusnya aku lahir di London, Paris, Yunani, Istambul, New Zealand, atau Irlandia. Jadi, aku akan tampak lebih pas minum enak dengan memakai jaket kulit tebal dan panjang, dan sepatu boots. Lebih pas lagi saat makan pakai pisau dan garpu. [Cerita 40, hal 59].

Dalam cerita itu, kita tahu, Ugo Untoro tengah menertawakan keadaan dengan mempertanyakan dirinya yang lahir hidup dalam sebuah kontruksi sosial yang dibangun oleh realitas masyarakat poskolonial -yang secara umum terbelunggu dalam kuasa pengetahuan dominan (istilah Foucault, Rainbow, 1991) yang membuatnya terjebak dalam antipoda. Keadaan antipoda ini, dimana ia (Ugo Untoro) atau masyarakat lingkungannya adalah masyarakat yang memiliki tipikal budaya sendiri, tetapi terpesona dan ingin menjadi sesuatu yang lain. Dodit Mulyanto (komedian), misalnya, menyebut dirinya berasal dari keluarga Jawa yang dibesarkan dengan budaya Eropa.

Dalam cerita pendek ke 47, kita bisa menemukan hal lain yang seolah terasa sebagai sesuatu yang konyol : "Aku nongkrong di WC. Di seberang dinding, istriku menjemur pakain. Kudengar ia ngomong sendiri. "Mendungnya biru." [hal:66].

Buku kecil ini juga memperlihatkan kemampuan menulis Ugo Untoro bukanlah remeh. Ia mampu membuat gaya penulisan yang sederhana dan enak dibaca. JIka kita bisa terpesona dengan cara John Steinbeck menulisakan kisah realisme cerpen atau novelnya, mungkin tulisan Ugo juga nyaris bisa membuat kita terpesona seperti itu. Bila kita kagum dan tertawa dengan cerita-cerita pendek Frans Kafka seperti A Little Fable, Metamorforsis dan lainnya, kita juga mampu tertegun merenung dan kemudian tersenyum atau tertawa ketika selesai membaca cerita pendek Ugo Untoro.

Tentu saja, tidak seluruh cerita di dalam buku ini memiliki kualitas yang ideal sebagai sastra. Seperti kata Puthut EA dalam pengantarnya, beberapa cerita agak kedodoran. Mungkin yang dimaksud adalah ada upaya memaksa untuk menciptakan tawa. Tetapi, toh sesungguhnya itulah keadaan Ugo sebagai seniman rupa yang senantiasa geliasah dan karena sesungguhnya ia mencoba melakukan sebuah proses kreatif atau mencoba mengekspresikannya di dalam sebuah catatan. Tidak semua bisa berhasil baik,mungkin, seperti ceritanya no 53, ia menulis: "Coba nulis puisi ah...Setan, kok nggak bsa ya?[hal:72].[]

back to top