Menu
Teroris mencoba mengebom Masjidil Haram

Teroris mencoba mengebom Masjidil H…

Makkah-KoPi| Aksi teroris...

Segera daftarkan kompetisi usaha kreatif  SOPREMA sebelum tutup 9 Juli 2017

Segera daftarkan kompetisi usaha kr…

Jogja–KoPi| Ratusan peser...

Mosul segera akan dibebaskan dari cengkeraman ISIS

Mosul segera akan dibebaskan dari c…

Baghdad-KoPi| Pembebasan ...

Instagram desainer muslimah Jogja kena hack

Instagram desainer muslimah Jogja k…

Yogyakarta-KoPi | Akun me...

Basarnas minta masayarakat cepat hubungi lewat Call Center 115 bila ada masalah

Basarnas minta masayarakat cepat hu…

Bantul-KoPi|Plt Kepala Ba...

KASAD SAFARI RAMADAHAN DI AKADEMI MILITER

KASAD SAFARI RAMADAHAN DI AKADEMI M…

Akmil – Kepala Staf Angka...

Basarnas siagakan anggotanya mengawal liburan Idul Fitri1438

Basarnas siagakan anggotanya mengaw…

Bantul-KoPi|Badan SAR Nas...

PLN janjikan tak ada pemadaman listrik selama lebaran di Jateng dan DIY

PLN janjikan tak ada pemadaman list…

Jogja-KoPI|PLN Jawa Tenga...

Inilah 5 alasan PLN mencabut subsidi istrik

Inilah 5 alasan PLN mencabut subsid…

Jogja-KoPi| Audi Damal, M...

Wakil Rektor UMP jadi Doktor ke-40 UMY

Wakil Rektor UMP jadi Doktor ke-40 …

Bantul-KoPi| Wakil Rektor...

Prev Next

Ramadhan, ajang mengasah diri untuk lebih bertakwa

caption :  2789, 2795, 2803 : Jamaah shalat tahajud dan taushiyah Ramadhan di Masjid KH Ahmad Dahlan UMY caption : 2789, 2795, 2803 : Jamaah shalat tahajud dan taushiyah Ramadhan di Masjid KH Ahmad Dahlan UMY

Bantul-KoPi| Bulan Ramadhan merupakan bulan yang penuh berkah bagi kaum muslimin, di dalamnya amal kebaikan diganjar berlipat-lipat dan dosa-dosa dihapuskan untuk umatnya. Bahkan disebutkan pada sebuah hadits bahwa setan-setan dibelengu pada bulan Ramadhan. Maka sudah sewajarnya bagi seorang muslim agar bersemangat untuk beribadah, apalagi ketika setan-setannya sudah dibelengu.

"Bulan Ramadhan ini sering dimaknai dengan membakar, yaitu membakar dosa. Kenapa? karena Allah mengampuni dosa-dosa hambanya dengan begitu besarnya pada bulan ini. Selain memaknai Ramadhan dengan membakar, terdapat pula pemaknaan lainnya, seperti Prof. Quraish Shihab yang memaknai Ramadhan dengan mengasah. Maka yang diasah ini adalah batin kita, sehingga kita lebih mengenal Sang Khaliq, diasah batin kita sehingga kita semakin mengenal hakikat hidup. Diasah supaya kita bisa menjadikan diri kita jauh lebih baik dari hari-hari sebelum kita berpuasa. Logikanya seperti pisau, semakin diasah semakin tajam dan berguna," ungkap dr. Agus Taufiqurrahman, M.Kes., Sp.S., Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Periode 2010-2015 ketika menyampaikan taushiyah setelah Sholat Tahajud bersama pimpinan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) pada hari Sabtu (10/6) dini hari di Masjid KH Ahmad Dahlan UMY.

Agus melanjutkan dengan melemparkan pertanyaan, apakah Ramadhan yang sudah dan sedang dijalani tersebut benar-benar menjadi media bagi kaum muslimin untuk mengasah diri mereka.

"Kalau Ramadhan ini kita maknai dengan mengasah maka sudah tentu Ramadhan itu menjadi proses bagi kita untuk menjadi pribadi yang unggul. Namun masalahnya adalah seperti yang disampaikan Rasulullah shalallahu 'alayhi wa salam, kam min shoimin laisa lahu min shiyamihi illal ju' wal 'atos, berapa banyak orang yang berpuasa tapi mereka tidak mendapatkan apa-apa selain lapar dan haus. Jika seperti ini yang kita alami maka kita tidak mengasah diri kita, cuma rugi saja," lanjutnya.

Dijelaskan oleh Agus bahwa Allah Subhanahu Wa Ta'ala sudah menjadikan bulan Ramadhan istimewa.

"Saat ini kita berada dalam 2 waktu yang diistimewakan oleh Allah, Ramadhan dan sepertiga malam terakhir. Dimana disebutkan dalam sebuah Hadits Qudsi bahwa di sepertiga malam terakhir yang meminta akan diberi, yang berdoa akan dikabulkan dan yang memohon ampun akan diampuni. Karena itu mudah-mudahan sudah betul upaya kita untuk mengasah diri," jelasnya.

Agus kemudian menjelaskan bahwa dalam menjalani puasa seseorang diharuskan untuk menahan makan, minum dan juga hubungan suami istri yang itu semua itu merupakan kebutuhan fisik.

"Banyak contoh kasus dimana ketika manusia tidak mampu mengendalikan ketiga hal tersebut dengan baik, maka ketiga hal ini akan menjadi awal untuk berbagai macam kehancuran. Di sinilah kita belajar untuk membedakan mana kebutuhan dan keinginan, karena kebutuhan kita terbatas sedang kadang keinginan kita tidak ada batasnya. Di sini kemudian puasa berperan sebagai media untuk mengasah diri kita untuk mengendalikannya," jelasnya.

Sebagai penutup, Agus mengatakan bahwa Bulan ramadhan ini harus dijadikan sebagai sebuah perjalanan menuju ketakwaan. "Ibarat berjalan, semakin dilakukan semakin dekat dengan tujuan. Begitu juga dengan puasa Ramadhan kita yang 30 hari ini, karena kita sudah setengah perjalanan harusnya sudah semakin dekat dengan takwa.

Kalau ketakwaan kita bertambah maka Insyaallah puasanya sukses untuk mengasah diri. Jangan sampai masuk Ramadhan tobat, selesai Ramadhan kumat," pungkas Agus. (raditia)



back to top