Menu
Narsisme Politik dan Arsitektur Kemerdekaan

Narsisme Politik dan Arsitektur Kem…

Dewasa ini, kita sering d...

Komunitas Kali Bersih Magelang: Merdekakan Sungai Dari Sampah

Komunitas Kali Bersih Magelang: Mer…

Magelang-KoPi| Komunitas ...

Mahasiswa UGM ikutkan mobil balap rakitan sendiri ke Kompetisi Internasional

Mahasiswa UGM ikutkan mobil balap r…

Sleman-KoPi|Tim Bimasakti...

Peringati HUT RI ke 72 Resto Madam Tan buat ketan merah putih 17 meter

Peringati HUT RI ke 72 Resto Madam …

Jogja-KoPi|Untuk memperin...

Daging Kurban Disembelih Tidak Benar, Hukumnya Haram

Daging Kurban Disembelih Tidak Bena…

YOGYAKARTA, 15 AGUSTUS 20...

Serah Terima Jabatan Kepala Kantor SAR Yogyakarta

Serah Terima Jabatan Kepala Kantor …

YOGYAKARTA - Senin (14/08...

Penyadang disabilitas merasa diperlakukan tidak adil oleh pemerintah

Penyadang disabilitas merasa diperl…

Sleman-KoPi| Organisasi P...

Organisasi Penyandang Difabel ajak masyarakat kawal PP penyandang Difabel

Organisasi Penyandang Difabel ajak …

Sleman-KoPi| Organisasi P...

PCNU Sleman gelar aksi selamatkan Madrasah Diniyah dari Full Day School

PCNU Sleman gelar aksi selamatkan M…

Sleman-KoPi|Koalisi Masya...

Paket umrah 15-17 juta berpotensi tipu calon jemaah

Paket umrah 15-17 juta berpotensi t…

Jogja-KoPi|Kepala Kanwil ...

Prev Next

Ponpes Lansia Darrus Syifa, belajar membaca hingga menuju surga Featured

Ponpes Lansia Darrus Syifa, belajar membaca hingga menuju surga

"Kalau sudah lansia begini, belajar baca Al-qur'an dari nol jadi tidak malu lagi. Iya, karena semua teman belajar di sini semua lansia juga," kata Pak Bambang dengan wajah penuh senyuman.


Pak Bambang (67 th) ini merupakan salah satu penghuni Pondok Pesantren Lansia Darrus Syifa Jombang, dari generasi ke-13 sejak tahun 2002. Setelah pensiun dari PNS beberapa tahun lalu, sarjana hukum asal Nganjuk ini memutuskan untuk belajar membaca Al-qur'an di Darrus Syifa. Menurutnya, di sini lebih kondusif untuk belajar ketimbang privat di rumah. "Semua perasaan malu ketika belajar sendiri, hilang ketika di sini," katanya.

Selain Pak Bambang masih ada puluhan lansia yang menghuni pondok ini. Usianya sekitar 60-an hingga 85 tahun. Pria dan wanita. Mereka datang dari penjuru daerah, dari Jakarta hingga masyarakat sekitar Jawa Timur dan pelbagai latar belakang sosial. Tujuannya jelas, belajar agama dan membaca Al-qur'an. Biasanya mereka memang orang-orang yang selama hidupnya belum sempat belajar agama dan membaca Al-quran.

Pondok Darrus Syifa memang terasa unik dan beda dengan ponpes biasanya, tapi memberikan banyak makna bagi banyak orang, terutama para lansia. Seperti namanya, Ponpes ini hanya menerima murid para orang lanjut usia atau lansia. Berada di tengah jantung kota Jombang, tepatnya di JL. Kapten Tendean, Gang Karya No 10, Kalimalang, Pulolor, Jombang, Ponpes Lansia relatif mudah dicari.

Ponpes lansia Darrus Syifa memiliki halaman depan yang relatif luas, suasana yang sepi dan menyatu dengan suasana kampungnya. Dari luar akan tampak bangunan yang terbagi dua. Satu sisi asrama putri dan satu sisi asrama putra.

Menurut Ibu Hj. Novi Ceptiani (79 Th), pemilik Hotel Fatma, suaminya H Muhammad Syifa mendirikan pondok itu sekitar tahun 2002. Gagasannya persis sama yang diungkapkan para lansia yang mondok di sana, agar para lansia yang ingin belajar agama dan Al-Qur'an tidak malu belajar, sehingga memudahkan para lansia beribadah.

"Semula, ketika Bapak masih hidup, semua biaya ditanggung oleh Bapak alias gratis. Banyak yang ikut dan belajar bahkan kemudian mereka yang gelandangan juga pada datang dengan tujuan lain,"kenang Bu Novi. "Kadang, ponpes ini menjadi seperti rehabilitas mental,"lanjutnya.

"Tapi, semakin hari semakin sulit bagi kami mengurus pondok kecil ini dengan banyak lansia yang datang dengan tidak selalu dengan tujuan dan misi pondok. Jadi, setelah Bapak wafat, kami putuskan untuk menarik iuran setiap bulan Rp.500.000,00. Uang itu untuk makan mereka tiga kali sehari dan perawatan,"lanjutnya.

Kisah para lansia dan metode baru

Sejak ponpes ini berdiri, banyak orang datang mendaftar. Mereka belajar membaca Al-Qur'an dan setiap hari Sabtu mendapatkan taklim yang diisi oleh ustad-ustad baik dari Ponpes Darul Syifaa atau dari luar. Pihak ponpes menerima semua lansia dengan syarat sehat dan bisa mandiri.

Namun, menurut Bu Maslichah (48), pengurus Ponpes Darrus Syifa, meskipun sepertinya lancar, pada dasarnya ia merasakan kesulitan ketika harus menghadapi sendiri pelbagai karakter para lansia yang berbeda-beda ini. Mereka terkadang membawa perilaku yang sering menimbulkan konflik.

"Biasa, Mbak, para lansia kan seperti itu. Mereka terkadang mudah tersinggung. Baik dengan pengurus atau dengan sesama lansia pelajar. Ada-ada saja masalahnya. Ada yang dulu mantan pejabat yang suka perintah, jadi suka memerintah temannya. Temannya jadi marah. Ada yang harusnya belajar membaca iqro dari nol, tapi malah jadi tersinggung karena tidak mau dianggap tidak bisa dan akhirnya mutung (ngambek,red), dan banyak lagi," cerita perempuan lembut ini sembari tersenyum geli setengah kecut.

Untuk itu, selain membutuhkan relawan sosial yang bersedia membantunya, Maslichah juga merasa membutuhkan masukan metode baru dari banyak pihak untuk mengatasi ego para lansia yang sering menjadi konflik di antara mereka.

"Sulit sekarang mencari relawan sosial yang konsisten. Di sini ada beberapa kali yang membantu, tetapi kemudian ya tidak lama. Tidak betah," keluh Maslichah. "Jadi saya memang berharap ada relawan sosial yang bisa membantu di sini. Saya juga butuh banyak masukkan tentang motode dari masyarakat agar memperlancar prosesnya," katanya berharap.

Nah, perkara metode baru ini, menurut Ranang Aji SP, Pemimpin Redaksi KoranOpiniCom -karena agak rumit merubah karakter para lansia yang sudah terbentuk, kemungkinan yang paling bisa diterapkan adalah memberikan materi kajian yang berhubungan dengan hari kiamat, kematian, siksa neraka dan tentang pahala surga. Kajian-kajian seperti ini dinilai lebih efektif dalam mempengaruhi hati dan jiwanya, karena otoritas Tuhan langsung didedahkan.

"Setidaknya, dengan kajian yang difokuskan tentang hari kiamat, kematian, siksa neraka dan surga akan lebih mudah mempengaruhi jiwa mereka. Dengan cara ini mungkin ego para lansia ini bisa ditekan. Toh, tujuan Ponpes Lansia Daruss Syifa adalah membimbing para lansia mendapatkan akhir yang khusnul khotimah," demikian saran Ranang Aji SP. Mungkin, Anda juga bisa memberi masukan. Silakan. |Winda Efanur FS|Frenda Yentin M|Andi Setyaji NP


Bagi masyarakat yang ingin berhubungan dengan Ponpes Lansia Darrus Syifa, baik untuk kepentingan membantu memberi masukan dan lain-lain silakan menghubungi Maslichah 0321 872 424, Tel 0321 861 665


 

back to top