Menu
Fatma Saifullah Yusuf Raih Penghargaan Certified Public Speaker Kehormatan

Fatma Saifullah Yusuf Raih Pengharg…

Surabaya-KoPi| Istri Waki...

Dari yang tersimpan

Dari yang tersimpan

Catatan Ugo Untoro atas P...

Petugas pingsan, Gus Ipul ikut panik

Petugas pingsan, Gus Ipul ikut pani…

Tuban-KoPi| Wakil Gubernu...

Muhammadiyah mendukung proses penegakkan hukum terhadap Setya Novanto

Muhammadiyah mendukung proses peneg…

Jogja-KoPi|Ketua umum PP ...

Peneliti : Mayoritas usaha persusuan dikelola secara tradisional

Peneliti : Mayoritas usaha persusua…

Jogja-KoPi| Peneliti Bida...

Gus Ipul : Industri pariwisata memerlukan infrastruktur yang memadai

Gus Ipul : Industri pariwisata meme…

Surabaya-KoPi| Pembanguna...

Alumni UAJY Raih Piala Citra FFI 2017

Alumni UAJY Raih Piala Citra FFI 20…

Jogja-KoPi| Bayu Prihanto...

Australia kabulkan gugatan Petani Rumput Laut

Australia kabulkan gugatan Petani R…

Kupang-KoPi|Pengadilan Fe...

Sektor pekerja informal tantangan terbesar target BPJS Kesehatan di 2019

Sektor pekerja informal tantangan t…

Jogja-KoPi|Pakar Jaminan ...

Prev Next

Syekh Siti Jenar: Sufi, Syiah, atau korban salah paham?

Syekh Siti Jenar: Sufi, Syiah, atau korban salah paham?
Identitas asli Syekh Siti Jenar diungkap lewat pendekatan sejarah
 

Surabaya – KoPi | Di antara Wali Songo, sosok Syekh Siti Jenar merupakan sosok yang paling misterius dan penuh kontroversi. Ia disebut-sebut sebagai wali dengan ajaran sesat. Salah satunya adalah Manunggaling Kawula Gusti, yang menyatakan Tuhan berada di dalam diri manusia. Namun banyak juga yang mengaguminya karena kedalaman ilmu sufisme-nya. Siapa sebenarnya Syekh Siti Jenar?

Ustadz Oky Rachmatullah mengakui sosok Syekh Siti Jenar sangat sulit dibuktikan secara ilmiah karena hanya ada satu sumber tertulis saja yang menyatakan keberadaannya. Karena itu muncul berbagai hipotesa atau pendapat mengenai identitas Syekh Siti Jenar. Hal itu dikatakan Ustadz Oky ketika menjadi pembicara dalam “Kajian Sejarah Islam: Melacak Jejak Syekh Siti Jenar” yang diadakan di Surabaya. 

Ada beberapa hipotesa mengenai identitas asli Hasan Ali, nama kecil Syekh Siti Jenar. Salah satu yang disoroti Ustadz adalah nama lain Syekh Siti Jenar, yaitu Syekh Lemah Abang atau tanah merah. Konon nama itu didapat Hasan Ali karena selalu menjalankan sholat di atas tanah yang berwarna merah. 

“Tanah merah melambangkan tanah tempat cucu Nabi, Husein, tewas bersimbah darah, yaitu Karbala. Karena itu muncul dugaan bahwa Syekh Siti Jenar merupakan penganut Syiah. Dan itu menjelaskan perseteruan antara Wali Songo dengan Syekh Siti Jenar, karena Wali Songo adalah Sunni,” tutur Ustadz Oky. Ustadz Oky mengatakan pendapat itu bisa menjelaskan mengapa ada cerita yang menyebut Syekh Siti Jenar punya anjing peliharaan yang diberi nama Umar dan Abu Bakar.

Ada juga hipotesa lain yang mengatakan Syekh Siti Jenar adalah sebutan untuk Sunan Kalijaga ketika belum menjalankan Islam secara kaffah. Konon sebelum masuk Islam, Sunan Kalijaga adalah seorang perampok. 

“Pada awal ia memeluk Islam, ia belum menjalankan rukun Islam secara sempurna, tidak sholat, tidak zakat, dan tidak puasa. Baru setelah bertemu Sunan Kalijaga, ia bertobat dan menjalankan Islam secara kaffah. Ini menjelaskan mengapa Syekh Siti Jenar disebut tidak menjalankan sholat dan puasa,” ungkap Ustadz Oky.

Ustadz Oky menambahkan hipotesa ini diperkuat fakta sejarah penting yang tidak pernah terungkap sebelumnya. Selama ini masyarakat mempercayai Wali Songo merupakan keturunan pedagang Timur Tengah, bangsawan Jawa, atau keturunan ulama asal Jawa. Namun tak banyak yang mengetahui bahwa ada versi yang menyebutkan Wali Songo kemungkinan berasal dari Turki. 

Berdasarkan catatan yang ditulis Ibnu Batutah, Sultan Turki Muhammad I mendengar sebuah tempat yang bernama Jawa. Sultan Muhammad kemudian mengutus 9 orang untuk berdakwah di tempat tersebut. Masing-masing memiliki keahlian sendiri, seperti ahli tata negara, ahli pengobatan, ahli fiqih, ahli rukyah, dan lain-lain. Berdasarkan tulisan Ibnu Batutah itu, sembilan pendakwah tersebut dipimpin oleh Maulana Malik Israil. Dalam versi tersebut Sunan Kalijaga tidak termasuk dalam kelompok sembilan pendakwah itu.

“Versi ini masih sedikit yang mengetahuinya, lantaran catatan Ibnu Batutah tersebut disimpan di Belanda. Catatan tersebut sengaja disembunyikan pihak Belanda agar umat Islam tetap tercerai berai dan tetap dapat dijajah,” ucap Ustadz Oky.

Ustadz asal Bandung ini juga menyebutkan ada hipotesa lain yang menyatakan bahwa Syekh Siti Jenar adalah tokoh fiktif. Konon tokoh karismatik ini diciptakan sebagai upaya perlawanan penganut Hindu, Buddha, dan animisme Jawa ketika Islam mengambil alih kekuasaan Majapahit. Mereka sadar tidak bisa melawan kekuasaan dan pengaruh Islam yang mulai masuk. 

“Mereka lalu menciptakan anekdot dan kisah-kisah mengenai para ulama dan wali. Dari situ muncullah berbagai kisah seperti Dharmogandul, Gatholoco, dan Sabdo Palon, termasuk di dalamnya ada kisah-kisah mengenai Syekh Siti Jenar,” tukas Ustadz Oky.

Ustadz kelahiran Ponorogo ini mengatakan semua itu sementara masih berupa hipotesa. Ia mengatakan masih sulit melacak jejak Syekh Siti Jenar karena kurangnya bukti-bukti. Selama ini kisah mengenai Syekh Siti Jenar lebih banyak diungkapkan lewat mulut ke mulut, sehingga tidak dapat dipercaya keabsahannya.

Karena itu Ustadz Oky mengingatkan umat Islam agar tidak begitu saja terjebak pada ilmu irasional dari kisah-kisah Wali Songo. Wali Songo memang orang-orang yang berilmu lebih pada jamannya, tapi bukan berarti ilmu mereka di luar akal. Media, terutama sinetron, seringkali melebih-lebihkan sosok para Wali, terutama Syekh Siti Jenar, yang sering digambarkan menguasai ilmu sihirdan bisa berubah wujud.

“Itu kan menghina para wali, terutama Syekh Siti Jenar sendiri. Mereka memang orang-orang yang punya karohmah, tapi jangan fokus di situ. Fokuslah pada dakwahnya. Para wali itu orang-orang yang masuk akal, semua yang mereka lakukan tidak lepas dari unsur realitas,” pungkasnya.

Wallahu a’lam bisshoowab

 

back to top