Menu
Konsekuensi Pembangunan Infrastruktur

Konsekuensi Pembangunan Infrastrukt…

Oleh: Novri Susan (Sosiol...

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu Evakuasi Korban Bencana di Sulteng

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu …

Sulawesi Tengah-KoPi|&nbs...

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar Tiban karya Anne Avantie

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar …

Surabaya-KoPi| Ketua Umum...

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi dalam Tantangan Kemajuan Ekonomi Digital

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi…

Jogja-KoPi| Fakultas Ekon...

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mulai Makan Korban

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mula…

Jogja-KoPi| Lembaga Konsu...

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Thailand

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Tha…

Bantul-KoPi| Universitas ...

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo Serukan Damai dan Berbudaya di Ranah Maya

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo S…

Jogja-KoPi|  – Selas...

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Politik Bahas Perkembangan Politik Nasional

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Po…

Jogja-KoPi| Fakultas Ilmu...

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan Solusi​ Online​ untuk UKM

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan …

Jogja-KoPi| Setelah sukse...

Prev Next

5 Arsitektur Masjid Gedhe Kauman

5 Arsitektur Masjid Gedhe Kauman

Yogyakarta-KoPi, Masjid Gedhe Kauman lahir dari perpecahan Mataram Islam menjadi wilayah Jogja dan Solo. Pangeran Mangkubumi bergelar Sri Sultan Hamengkubuwono I memimpin kerajaan Mataram di wilayah Ngayogyakarto/ Jogja. (16/6).

Sesuai syarat pendirian kerajaan, pada tahun 1773 Masjid Gede Kauman di bangun atas prakarsa pemuka agama tertinggi Kyai H. Faqih Ibrahim yang telah diamanati oleh Sri Sultan HB I.

Ruang dalam Masjid disangga 36 buah kayu jati dan empat diantaranya berusia lebih dari 500 tahun. Dinding masjid dari jenis batu karas. Batu putih, diletakan tanpa semen dengan sistem kosot (digosokan sangat lama dengan direndam dengan air).

Gaya arsitektur masjid mengkolaborasikan lima unsur dari gaya Jawa, Cina, Timur-tengah, Hindhu dan Budha. Buah dari tangan arsitek pribumi asli Ki Wiryo Kusumo.

Hal itu terlihat di serambi ada tiangnya dikenal ukiran putri mirong. Tiang memanjang dihiasi dengan kaligrafi tulisan Allah dan Muhammad. Dibawahnya ada simbol teratai budha, dan tiga bentuk segitiga lancip lambang Tri Murti Hindhu.


Gaya Cina diwakili pada bentuk atap atas yang menyerupai klentheng. Khusus gaya Jawa pada bagian ruang utama.



Reporter : Winda Efanur FS

 

 

 

back to top