Menu
Pakde Karwo : Terima Kasih Atas Empati dan Duka Cita AS kepada Korban dan Dampak Terorisme di Jatim

Pakde Karwo : Terima Kasih Atas Emp…

Jatim-KoPi| Gubernur Jati...

Pemerintah Bangun Industri Digital untuk Kurangi Kesenjangan Ekonomi

Pemerintah Bangun Industri Digital …

Sleman-KoPi| Pemerintah s...

Pakde Karwo: Dual Track Pendidikan Strategi Jatim Songsong Bonus Demografi  2019

Pakde Karwo: Dual Track Pendidikan …

Jatim-KoPi| Berbagai lang...

BPPTKG: Merapi Belum Menunjukkan Adanya Gejala Erupsi Seperti di Tahun 2010 dan 2006.

BPPTKG: Merapi Belum Menunjukkan Ad…

Jogja-KoPi| Balai Pen...

UGM Mewisuda 1354 Lulusan Sarjana dan Diploma

UGM Mewisuda 1354 Lulusan Sarjana d…

Sleman-KoPi| Universitas ...

Peneliti Gula UGM Soroti Penyimpangan Distribusi Gula Rafinasi

Peneliti Gula UGM Soroti Penyimpang…

Sleman-KoPi| Pasar gula d...

Gerakan Filantropi Islam Sebagai Deradikalisasi

Gerakan Filantropi Islam Sebagai De…

Sleman-KoPi| Dewasa ini, ...

Pakde Karwo: Kunci Perjuangan adalah Persatuan dan Kesatuan

Pakde Karwo: Kunci Perjuangan adala…

Jatim-KoPi| Salah satu ku...

Jaminan Kemerdekaan Kekuasaan Kehakiman Masih Berpusat Pada Institusi Bukan Hakim Secara Personal

Jaminan Kemerdekaan Kekuasaan Kehak…

Sleman-KoPi|Kemerdekaan k...

Prev Next

10 perspektif Islam tentang toleransi

www.lastmiracle.com www.lastmiracle.com

KoPi| Lahir dalam negara multikultural seperti Indonesia, membuat kita mudah menemukan berbagai perbedaan di kehidupan bermasyarakat, baik dalam konteks sosial, budaya maupun beragama. Untuk itulah betapa toleransi sangat dibutuhkan agar kesatuan suatu bangsa tetap terjaga.

Sebagai makhluk sosial, setiap manusia dituntut untuk dapat berinteraksi dengan individu lain dalam rangka memenuhi kebutuhan hidupnya. Tak bisa dipungkiri, dalam interaksi-interaksi tersebut akan muncul beberapa gesekan. Sikap toleransi inilah yang nantinya akan menjaga masyarakat tetap dalam lingkup yang damai.

Toleransi dalam hal beragama menjadi topik yang selalu hangat dari waktu ke waktu. Di Indonesia sendiri, terdapat 5 agama dengan agama Islam sebagai agama berpenganut terbanyak. Berikut beberapa pandangan islam mengenai toleransi yang tercakup dalam al-Qur’an maupun hadist Nabi:

1. Islam tidak memaksa

Islam sangat memahami bahwa tidak semua manusia yang di bumi akan mudah saja tunduk dalam ajarannya. Untuk itu islam tidak pernah memaksa seseorang agar memeluk agama Allah. Karena dalam agama islam, setiap pilihan terdapat konsekwensinya masing masing. Hal inilah yang dijelaskan dalam surat  Al-Baqarah ayat 256 yang artinya: “Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”


Sebenarnya ayat di atas diturunkan kepada seorang lelaki yang bernama al-Hushayn. Dia mempunyai dua anak lelaki yang memeluk Nasrani, sementara al-Hushayn sendiri beragama Islam. Dia lalu bertanya kepada Nabi SAW mengenai perlu tidaknya ia memaksa anak-anaknya untuk masuk agama Islam, sedangkan kedua anaknya tetap berpegang teguh pada ajaran Nasrani. Kemudian Allah menurunkan ayat tersebut yang mengindikasikan bahwa Islam tidak mengenal paksaan, karena paksaan hanya akan melahirkan ketidak-setiaan bahkan ketidak-ikhlasan. Oleh karenanya Islam hanya mengenal ajakan.

2. Tetap berbuat baik

Disebut sebagai agama rahmatan lil a’lamin, atau agama yang membawa berkah bagi seluruh alam, Islam membuktikan kebenarannya dengan menurunkan surat Al-Mumtahanah ayat 8 yang artinya: “Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tidak memerangimu karena agama dan tidak juga mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil.” Dalam ayat ini umat Islam diperintahkan untuk berbuat baik serta adil terhadap orang non-muslim, termasuk memberikan hak-hak mereka. Berbuat baik dan adil yang dimaksud hanya dalam tataran hubungan antar manusia, bukan dalam hal aqidah atau kepercayaan.  Dengan catatan, orang non-muslim tersebut tidak memerangi atau menjajah kaum muslimin.

3. Pluralitas adalah kehendak-Nya

Pluralitas, kemajemukan, keberagaman, dan perbedaan adalah hal yang diakui dan dihargai dalam Islam. Karena Allah sendirilah yang telah menciptakan pluralitas tersebut. Hal ini dijelaskan dalam surat Yunus ayat 99 yang artinya: Dan (bukanlah tanggungjawabmu wahai Muhammad menjadikan seluruh umat manusia beriman), jika Tuhanmu menghendaki, niscaya berimanlah sekalian manusia yang ada di bumi. (Janganlah engkau bersedih hati tentang kedengkian orang-orang yang ingkar tersebut, kecuali Tuhanmu menghendaki) maka patutkah engkau hendak memaksa seluruh manusia supaya mereka menjadi orang-orang yang beriman?”
Ayat ini telah dengan lugas menjelaskan bahwa seorang non-muslim berhak untuk tetap dalam agamanya, karena mereka sendirilah yang akan mempertanggungjawabkan keyakinannya tersebut di akhirat nanti. Sedang kaum muslimin hanya wajib untuk mengajak mereka kepada Islam.

4. Hak untuk menyembah

Kembali ke pribadi masing-masing. Itulah yang coba diungkapkan ayat al-Qur’an surat Al-Kafirun ayat 1-6 yang artinya: “Katakanlah: wahai orang-orang kafir, aku tidak menyembah apa yang kamu sembah dan kalian tidak menyembah apa yang aku sembah dan aku tidak menyembah apa yang kalian sembah dan kalian tidak menyembah apa yang aku sembah, bagimu agamamu dan bagiku agamaku”. Toleransi merupakan sikap terbuka dalam menghadapi perbedaan. Didalamnya terkandung sikap saling menghargai dan menghormati eksistensi masing-masing pihak agar tetap hidup dalam keharmonisan. Ayat inilah yang secara ringkas memuat hukum-hukum penting yang berkaitan dengan pemeliharaan keharmonisan dalam masyarakat tersebut.

5. Menjauhi konflik

Islam mengajarkan pada pemeluknya untuk dapat menekankan persamaan dan menghindari perbedaan, demi merengkuh rasa saling menghargai dan menghormati. Dengan amat jelas Islam menyuguhkan suatu konsep toleransi antar umat beragama. Untuk menjauhi konflik, Islam melarang umatnya untuk berdebat dengan para ahli kitab (orang-orang non muslim), kecuali dengan cara yang paling baik. Surat An-Nahl ayat 125 dan surat Al-‘Ankabut ayat 46 telah menjelaskannya: “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik” “Dan janganlah kamu berdebat dengan Ahli Kitab, melainkan dengan cara yang paling baik.”

6. Persaudaran universal

Persaudaran universal adalah bentuk dari toleransi yang diajarkan Islam. Persaudaraan ini akan membuat terlindungnya hak-hak diri dan orang lain. Dalam urusan duniawi, Islam membolehkan adanya persaudaraan universal yang di dalamnya juga terlibat konsep keadilan, perdamaian, dan kerja sama yang saling menguntungkan. Hadist Nabi tentang persaudaraan universal dinyatakan dalam: “Irhamuu man fil ardhi yarhamukum man fil samā” yang artinya sayangilah orang yang ada di bumi maka mereka yang ada di langit juga akan sayang kepadamu.

7.Tidak diskriminatif

Islam juga sangat toleran terhadap setiap individu, tanpa memandang warna kulit, status sosial, maupun jenis kelamin. Bilal bin Rabah, seorang budak berkulit hitam dari Habsyah (sekarang Ethiopia), menjadi salah satu manusia paling mulia disisi Allah bukan karena apa yang tampak dari fisik. Bilal rela merasakan penganiayaan orang-orang musyrik, yang lebih berat dari siapa pun, demi menjaga keimanannya. Bagi Islam, pembeda antara seseorang dengan orang lainnya hanyalah ketaqwaan. Hadist Nabi menyebutkan: “Kamu semua adalah keturunan Adam sedang Adam diciptakan dari debu. Tidak ada perbedaan antara Arab dengan yang lainnya, kecuali dengan ketakwaan” (HR. Ahmad).

8. Penyayang

Banyak sekali riwayat yang menceritakan kasih sayang Nabi Muhammad SAW terhadap orang lain, termasuk mereka yang bukan Islam. Beliau pernah diludahi, dilempar kotoran dan batu serta di jelek-jelekkan oleh seorang Yahudi, namun ketika Yahudi tersebut sakit, Rasullullah lah orang pertama yang menjenguknya. Riwayat lain dari Bukhari menyebutkan bahwa: Jabir bin Abdullah berkata, “Suatu ketika lewat dihadapan kami orang-orang yang membawa jenazah seorang Yahudi. Nabi SAW lalu berdiri dan kamipun segera mengikutinya. Setelah itu kami berkata, ‘Wahai Rasulullah, yang lewat tadi adalah jenazah seorang Yahudi.’ Rasulullah kemudian menjawab, ‘Apakah aku ini juga tidak seorang manusia? Jika kamu sekalian melihat orang sedang lewat membawa jenazah, maka berdirilah! (memberi penghormatan)” Riwayat Bukhari lain menyebutkan: Dari Anas r.a: “Suatu ketika Nabi SAW pernah menjenguk seorang Yahudi. Nabi SAW kemudian menawarkan kepadanya untuk masuk Islam dan orang Yahudi tersebut menerimanya. Nabi SAW lalu keluar seraya berkata, “Segala puji bagi Allah yang telah menyelamatkannya dari api neraka.”

9. Mudah memafkan

Memafkan merupakan tuntunan dalam agama Islam. Nabi pernah memaafkan kesalahan orang kafir dan justru mendo’akan mereka. Hal ini terjadi setelah terjadinya peperangan melawan kaum musyrikin (paman Nabi Muhammad SAW dibunuh kaum musyrikin, dan badannya dicincang-cincang, Nabi sendiri giginya pecah dan wajah beliau terluka)  salah seorang sahabat Nabi meminta beliau untuk mendoakan keburukan bagi orang-orang musyrikin yang dzalim tersebut, namun Nabi sendiri justru berdo’a: “Ya Allah, ampunilah kaumku, sesungguhnya mereka tidak mengetahui.”

10. Melindungi

Perjanjian madinah merupakan bukti konkret betapa Islam sangat toleran terhadap umat agama lain. Perjanjian ini melindungi orang-orang non-muslim yang hidup di tengah-tengah komunitas umat Islam. Perjanjian madinah merupakan kontrak yang dirumuskan Nabi Muhammad sendiri. Nabi SAW bersabda: “Siapa yang membunuh orang kafir yang berada dalam perjanjian damai (dengan kaum muslim), maka tidak akan mencium bau surga, padahal harumnya surga itu sudah dapat tercium dari jarak empat puluh tahun perjalanan.” Dari paparan diatas dapat dilihat bahwa Islam bersikap sangat terbuka dengan kemajemukan. Bahkan, Islam memandangnya sebagai salah satu dari sunnatullah (kehendak Allah) di alam ini. Keanekaragaman yang telah menjadi kehendak Allah tersebut, tentu saja bukan untuk dipertentangkan dan membawa kepada perpecahan. Akan tetapi harus disikapi secara positif agar dapat membawa manfaat yang besar terhadap kemaslahatan kehidupan manusia. Secara singkat, toleransi dapat dikatakan sebagai jalan keluar yang dicetuskan Islam untuk dalam mensikapi pluralisme.

back to top