Menu
Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu Evakuasi Korban Bencana di Sulteng

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu …

Sulawesi Tengah-KoPi|&nbs...

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar Tiban karya Anne Avantie

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar …

Surabaya-KoPi| Ketua Umum...

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi dalam Tantangan Kemajuan Ekonomi Digital

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi…

Jogja-KoPi| Fakultas Ekon...

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mulai Makan Korban

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mula…

Jogja-KoPi| Lembaga Konsu...

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Thailand

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Tha…

Bantul-KoPi| Universitas ...

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo Serukan Damai dan Berbudaya di Ranah Maya

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo S…

Jogja-KoPi|  – Selas...

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Politik Bahas Perkembangan Politik Nasional

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Po…

Jogja-KoPi| Fakultas Ilmu...

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan Solusi​ Online​ untuk UKM

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan …

Jogja-KoPi| Setelah sukse...

Doa bersama Memperingati Hari Kesaktian Pancasila di Masjid Al-Jihad Akmil Magelang

Doa bersama Memperingati Hari Kesak…

KoPi-Lembah Tidar. Minggu...

Prev Next

Penampakan Makam Peneleh Surabaya

foto: anindita foto: anindita
KoPi| Selain gedung-gedung bersejarah seperti Kantor Pos Kebon Rojo, kemudian Balai Pemuda, hingga Kantor Gubernur Jawa Timur. Salah satu peninggalan masa kolonial Belanda di Surabaya yang bernilai historis tinggi adalah De Begraafplaats Peneleh Soerabaja atau yang biasa disebut sebagai Makam Peneleh.  (27/11)

 Oleh: Anindita (mahasiswa Sosiologi Universitas Airlangga)


 

Itulah wajah dari Makam Peneleh Surabaya saat ini, terlihat sisa puing-puing  dari bekas kejayaan serta kekuasaan Kolonial Belanda di Indonesia pada masa lalu yang terwujud dalam tempat peristirahatan terakhir. Mulai dari para gubernur tinggi belanda yang menjabat saat itu hingga pendiri dari sekolah Santa Maria jasadnya turut bersemayam disana.

Terletak di Jl.Makam Peneleh Genteng Surabaya, Kompleks makam Belanda ini berdiri tepat dua abad yang lalu pada tahun 1814. Di dalam catatan National Archives of the Netherlands yang saya unduh, Makam Peneleh awalnya menempati area seluas 5,4 hektare namun saat ini luasnya hanya sekitar 4,5 hektare akibat dari semakin padatnya penduduk di Kota Surabaya.

Makam yang hanya berjarak 1,5 km dari pusat kota Surabaya ini tercatat sebagai salah satu pemakaman modern tertua di dunia, konon makam ini lebih tua dari Mount Auburn Cemeterydi Cambridge yang dibuat pada 1831 dan Arlington National Cemetery yang dibuat pada 1864 di Washington DC. Dengan catatan diantara makam-makam kuno di dunia Makam Penele inilah yang memiliki kondisi jauh berbalik dengan makam-makam tersebut. Bahkan di Jakarta, kompleks pemakaman Belanda Kebon Jahe Koberyang didirikan pada tahun 1795, sudah direstorasi sejak 1977 menjadi Museum terbuka Taman Prasasti.

Melihat akan tahun dimana kompleks pemakaman ini berdiri yaitu tepat dua abad yang lalu adapun arsiterktur yang khas dari tempat tersebut adalah adalah banguannya yang beraksitekturkan Eropa-Klasik dengan pahatan atu marmer baik untuk hiasan patungnya maupun pada atu nisan. Kesan klasik pun tak berhenti pada batu nisan serta hiasan-hiasan patung marmer saja. Keklasikan akan kompleks pemakaman tersebut paling jelas terlihat pada suatu bangunan yang cuku besar yang didampingi oleh menara setinggi kurang leih 2m.

Bangunan tersebut tidak lain adalah tempat untuk mengkremasi jenazah orang-orang belanda sesuai dengan pesan terakhir mereka atau yang lebih sering disebut krematoriaum. Sedangkan untuk menara setinggi 2 meter tepat berada di belakang gerbang pintu masuk makam merupakan menara yang berisi lonceng yang akan dibunyikan ketika jenazah mulai memasuki areal makam dengan ditarik oleh kereta kuda. Kereta kuda yang digunakan untuk menarik jenazahpun juga memiliki makna disini, semakin banyak jumlah yang digunakan untuk menarik peti jenazah maka semakin tinggi pula status sosial jenazah tersebut.

Kompleks pemakaman Belanda ini selain begitu tertata-nya pengaturan makam-makam yang ada di dalamnya, juga pada setiap makam memiliki nomor urut serta ditempatkan sesuai blok-nya. Masing-masing makam memiliki identitas jenazah, di beberapa makam juga dilengkapi dengan silsilah yang ditulis dalam bahasa Belanda

Namun sayang, keindahan akan bangunan peradaban abad 17 ini kondisinya saat ini sangat jauh memprihatinkan. Bagaimana tidak, mulai dari pintu gerbang makam yang dahuku tinggi, kokoh dan berdiri megah kini seolah hilang dimakan usia. Kemudian pada kondisi makam, anyak dijumpai makam berlubang. Lubangnya makam di kompleks pemakaman tersebut selain dikarenakan sudah diambilnya jenazah olh ahli waris untuk dipindahkan ke Belanda, lubang tersebut juga dikarenakan ulah maling makam yang sengaja merusak makam tersebut untuk diambil harta benda yang ikut terkubur di dalamnya. “Sejak ditutup tahun 1955 makam ini kondisinya ya sudah rusak seperti ini” ujar seorang juru kunci makam tersebut.  

Saat ini kompleks pemakaman tersebut memang sudah dijadikan cagar budaya oleh Pemerintah Kota Surabaya sejak tahun 2000, namun hal tersebut sama sekali tidak mengubah kondisi makam, tidak seperti makam belanda di Jakarta. Kini, kompleks pemakaman Belanda tersebut hanya dijadikan sebagai saksi sejarah diam, sepi, usang tanpa ada  yang mengetahui bahwa areal tersebut pernah menjadi saksi bisu dari kekuasaan kolonial belanda saat itu. 

back to top