Menu
Mahasiswa UGM Inovasikan Produk Senyawa Atasi Limbah Tambang

Mahasiswa UGM Inovasikan Produk Sen…

Sleman-KoPi| Tim mahasisw...

Gunung Merapi Berpeluang Alami Letusan Efusif Yang Aman.

Gunung Merapi Berpeluang Alami Letu…

Jogja-KoPi| Kepala Balai ...

BPPTKG: Merapi Masih Sangat Awal di Proses Magmatisnya.

BPPTKG: Merapi Masih Sangat Awal di…

Jogja-KoPi| Balai Penyeli...

Pakde Karwo : Terima Kasih Atas Empati dan Duka Cita AS kepada Korban dan Dampak Terorisme di Jatim

Pakde Karwo : Terima Kasih Atas Emp…

Jatim-KoPi| Gubernur Jati...

Pemerintah Bangun Industri Digital untuk Kurangi Kesenjangan Ekonomi

Pemerintah Bangun Industri Digital …

Sleman-KoPi| Pemerintah s...

Pakde Karwo: Dual Track Pendidikan Strategi Jatim Songsong Bonus Demografi  2019

Pakde Karwo: Dual Track Pendidikan …

Jatim-KoPi| Berbagai lang...

BPPTKG: Merapi Belum Menunjukkan Adanya Gejala Erupsi Seperti di Tahun 2010 dan 2006.

BPPTKG: Merapi Belum Menunjukkan Ad…

Jogja-KoPi| Balai Pen...

UGM Mewisuda 1354 Lulusan Sarjana dan Diploma

UGM Mewisuda 1354 Lulusan Sarjana d…

Sleman-KoPi| Universitas ...

Peneliti Gula UGM Soroti Penyimpangan Distribusi Gula Rafinasi

Peneliti Gula UGM Soroti Penyimpang…

Sleman-KoPi| Pasar gula d...

Prev Next

Jend Nasution: "Selalu ingat kepentingan orang lain

pasukanazan.blogspot.com pasukanazan.blogspot.com

“Janganlah kau tinggalkan shalatmu... Bersikaplah adil pada sesamamu... Hiduplah sederhana... Berhati jujur... Selalu ingat kepentingan orang lain...” Wasiat Pak Nas kepada keluarga dan bangsa Indonesia.

Kenalkah kita kepada Jenderal Besar DR. A. H. Nasution  yang lolos dari peristiwa G30SPKI? Bila ditanyakan kepada anak-anak muda pasti banyak yang tidak mengenal sosok Pak Nas. Sesungguhnya museum yang mengenalkan sosok beliau telah lama berdiri sejak 2008, diresmikan oleh mantan presiden RI DR. H. Susilo Bambang Yudhoyono pada 03 Desember 2008. Bertempat di Jalan Teuku Umar No. 40, Kelurahan Gondangdia, Kecamatan Menteng, Jakarta Pusat.

Jenderal Besar TNI (Purn.) DR. H. Abdul Haris Nasution lahir di Kotanopan, Sumatra Utara, 03 Desember 1918. Dia meninggal di Jakarta, 06 September 2000 pada umur 81 tahun. Biarpun telah meninggal 14 tahun yang lalu, beliau menjadi sosok yang berpengaruh besar terhadap revolusi bangsa Indonesia.  Beliau adalah jendral yang lolos dari pasukan Cakrabirawa dalam peristiwa G30SPKI pada 01 Oktober 1965 silam.

Setiap sudut rumah Pak Nas memilki makna tersendiri. Itu dikarenakan museum ini awalnya adalah rumah pribadi beliau. Melangkahkan kaki di depan rumah akan terlihat patung Pak Nas yang gagah berdiri, relief perjalanan hidup dan prestasi Pak Nas. Masuk ke ruang tamu dari rumah sang Jenderal Besar, terpampang foto bersejarah Pak Nasution, yaitu: foto sebagai Panglima Divisi Siliwangi, KSAD, Menkohankam/Kasad, Ketua MPRS dan foto ketika hari jadi ABRI ke-52. Ruangan ini juga memperlihatkan cinderamata kenang-kenangan dari dalam maupun luarnegeri, antara lain dari Bapak Tongju, Akademik Teknik Wajskawej Warsawa, Odecca Rusia dan Komandan Brigade Garuda III/Kongo  serta Satuan Tempur Jajaran Komandan III/Slw. Di samping itu, terdapat meja kursi favorit Jendral Besar DR. H. A. H. Nasution dan beberapa miniatur senjata militer.

Maju beberapa langkah lagi ke depan kita akan disambut oleh ruang kerja Jenderal Besar DR. H. A. H. Nasution. Di ruangan ini Pak Nas menuangkan ide dan buah pikiran, baik dalam militer maupun non militer. Di sana juga Pak Nas menghasilkan beberapa karya juang unutk dipersembahkan kepada bangsa dan negara (70 buah judul buku). Semua buku-buku itu tersusun rapi dalam etalase yang terdapat di ruangan kerjanya. Sebagai bentuk penghormatan dan penghargaan atas prestasi yang telah dicapai Pak Nasution kepada bangsa dan negara, maka beliau memperoleh berbagai penghargaan bintang jasa dan kehormatan baik dalam dan luar negeri.

Masuk ke tempat yang unik dari museum ini, tedapat ruang kuning yang didesain dengan warna kuning yang mendominasi ruangan tersebut. Dari kursi, meja, cat tembok, karpet maupun gorden semua menggunakan warna kuning. Ruangan ini digunakan Jendral Besar DR. H. A. H. Nasution untuk menerima tamu khusus (VVIP). Koleksi yang disajikan adalah meja kursi tamu yang berwarna kuning, miniatur Monumen Siliwangi kenang-kenangan dari Pangdam III/Slw, dua buah guci tabung (dari Bapak Tongju), miniatur Panglima Perang dari Mentri Pertahanan Burma dan beberapa koleksi cinderamata yang tersaji di kanan maupun kiri pintu masuk ruang kuning.

Ruang senjata yang awalnya merupakan ruang tidur putri pertama Jenderal Besar  DR. H. A. H. Nasution yang bernama Hendrianti Sahara Nasution. Dinamakan ruang senjata karena digunakan untuk menyajikan beberapa jenis senjata koleksi beliau. Senjata tradisional yang tersaji disana berasal dari bebagai daerah Indonesia, seperti keris, mandau, dan lain-lain yang diterima beliau sebagai kenang-kenangan. Sedangkan koleksi senjata api merupakan pemberian dari beberapa negara sewaktu beliau memimpin misi pembelian senjata ke Amerika Serikat dan negara-negara Blok Timur tahun 1961 dalam rangka operasi pembebasan Irian Barat.    

Ruang yang menjadi saksi bisu dari kekejaman G30S/PKI yang berupaya menculik dan membunuh Pak Nas. Ruang tidur ini mengingatkan kita terhadap peristiwa 01 Oktober 1965, peristiwa tragis yang menewaskan putri kedua beliau, yaitu Ade Irma Suryani Nasution berusia 5 tahun oleh pasukan Cakrabirawa. Diruangan ini terdapat bekas tembakan yang mengenai pintu, tembok serta meja keluarga Pak Nas. Benda-benda pribadi serta beberapa koleksi pakaian dan alat-alat kesehatan yang digunakan Pak Nas semasa hidupnnya.

Ruang Ade Irma Suryani Nasution merupakan kamar tidur Ade Irma. Diruangan itu dimemperlihatkan benda-benda pribadi kesayangan Ade Irma, yaitu sebuah baju seragam Kowad mini, sepatu, tas kecil, tempat minum dan boneka. Benda bersejarah lainnya seperti seperti baju yang dipakai oleh Ade Irma pada saat tragedi dan baju PDH II serta tongkat yang digunakan Pak Nas pada waktu upacara pelepasan jenazah para Pahlawan Revolusi di Markas Besar Angkatan Darat di Jakarta 05 Oktober 1965. Dan diruang Ade Irma juga disajikan beberapa tongkat kenang-kenangan dari Filipina, Pemda DKI Jakarta, HKBP dan PT. ALS.

Ruang Seragam Angkatan Darat atau ruang Gamad ini awalnya merupakan ruang tidur keluarga Pak Nasution. Dinamakan ruang Gamad karena didalamnya disajikan beberap koleksi seragam dan perlengkapan TNI. Didalam ruang ini juga mempamerkan Pedang Pati Angkatan Darat dan Angkatan Laut serta baret Kopassus. Koleksi lainnya adalah beberapa pisau dan tongkat komado. Diruangan Gamad ini pula digambarkan diorama dialog antara Ibu Nasution saat berusaha menyelamatkan diri dari upaya pembunuhan oleh pasukan Cakrabirawa.

Pada ruang makan disajikan diorama yang menggambarkan kejadian setelah Pak Nas berhasil menyelamatkan diri dari upaya pembunuhan itu. Sesaat setelah Pak Nas berhasil menyelamatkan diri, Ibu Nasution kemudian menghubungi Mayor Jenderal Umar Wirahadikusuma yang saat itu menjabat sebagai Panglima Kodam Jaya. Namun usaha itu gagal karena hubungan telepon sudah terputus. Pada saat yang bersamaan, muncul lima prajurit Cakrabirawa dengan menodongkan senapan dan menggertak Ibu Nasution. Diruangan ini terdapat meja makan yang digunakan Pak Nas untuk berkumpul dan makan bersama keluarga, serta album foto dan film dokumen milik Jenderal Besar DR. H. A.H. Nasution.

Berbagai plakat kenang-kenagan dari berbagai kesatuan TNI dan 3 buah panji serta sebuah bendera Merah Putih menjadi koleksi ruang Heraldika. Panji-panji tersebut adalah Panji Divisi Siliwangi, Panji Angkatan Darat atas jabatan KSAD selama 2 kali, Panji Hankam dan bendera Merah Putih saat menjabat sebagai Ketua MPRS. Koleksi lainnya berupa piagam penghargaan dan mendali yang diterima Pak Nas dari dalam maupun luar negeri.

Sosok yang memiliki berbagai gagasan inovatif dalam rangka membangun dan mengembangkan bidang militer maupun karya umumnya dibidang politik, sosial, dan keagaman membuat sang Jenderal Besar memiliki tempat dimata rakyat Indonesia. Terlebih Pak Nas dikenal sebagai Pahlawan Revolusi Republik Indonesia.

Bangsa yang hebat adalah bangsa yang tidak melupakan sejarah. Kiranya anak-anak muda memiliki rasa ingin tahu terhadap sejarah bangsanya, dan menimbulkan rasa cinta tanah air melalui Museum Jenderal Besar DR. A. H. Nasution ini.

back to top