Menu
Pakde Karwo: Antara Operator dan Regulator Transportasi Tidak Bisa Dipisahkan

Pakde Karwo: Antara Operator dan Re…

Surabaya-KoPi| Gubernur J...

Nertalitas TNI dalam Pemilu Capres dan Cawapres

Nertalitas TNI dalam Pemilu Capres …

Lembah Tidar-KoPi| Senin ...

Reuni Adem Akabri '86, Ibu ibu melaksanakan Out Bound

Reuni Adem Akabri '86, Ibu ibu mela…

Lembah Tidar-KoPi| Minggu...

Teknik Mesin SV UGM Dukung Program Kampus Sehat dan Bebas Asap Rokok

Teknik Mesin SV UGM Dukung Program …

Jogja-KoPi| Departemen Te...

Teknologi RFID Bantu Lacak Legalitas Kayu

Teknologi RFID Bantu Lacak Legalita…

Bantul-KoPi| Tim Pengabdi...

Pakar UGM Ajak Masyarakat Memanen Air Hujan

Pakar UGM Ajak Masyarakat Memanen A…

Jogja-KoPi| Pakar Hidrolo...

BKP: Indonesia Fokus Pada Peningkatan Kompetitifitas Produk Agrikultur

BKP: Indonesia Fokus Pada Peningkat…

Bantul-KoPI|Pada tahun 20...

UNIVERSITAS MENYAMBUT R.I KEEMPAT

UNIVERSITAS MENYAMBUT R.I KEEMPAT

Oleh Moh. Mudzakkir(Dosen...

Pakde Karwo : 2/3 Perguruan Tinggi Swasta Sumbangkan Kaum Intelektual di Jatim

Pakde Karwo : 2/3 Perguruan Tinggi …

Surabaya-KoPi| Sebanyak 2...

Pengungsi Korban Gempa di Gumantar Banyak Terserang Ispa

Pengungsi Korban Gempa di Gumantar …

Lombok-KoPi| Sebanyak 30 ...

Prev Next

Bidan itu rela tak dibayar demi menyelamatkan pasien

Bidan itu rela tak dibayar demi menyelamatkan pasien

Pernahkah kalian menonton film Ayat-Ayat Cinta? Di film itu, kita diajarkan bahwa ikhlas dan sabar itu Islam. Mungkin itu yang dipakai salah seorang bidan di desaku. Aku sering melihat beliau menolong tanpa dibayar, bukankah itu bukti ke ikhlasannya? Bagiku iya.

Seorang bidan itu bernama Dini Sugihartini, S.S.T, beliau bukan hanya bidan di desaku, beliau juga tanteku. Selain membantu persalinan, beliau juga dapat mengobati penyakit umum lainnya. Aku mengenalnya sudah seumur hidupku. Dengan jarak rumah yang begitu dekat, aku selalu menemui bibiku. Beliau begitu baik, selalu memberiku uang jajan. Selalu memberiku obat gratis kapan pun aku minta. Beliau sungguh manusia yang dapat dicontoh.

Aku membantu dengan menjadi asisten beliau saat praktik. Beliau membuka praktik di rumahnya. Pasien beliau selalu ramai setiap harinya, dari pagi, bahkan subuh, sampai malam. Pasien beliau selalu mengatakan bahwa obat dari beliau lebih baik dari yang lain. Selalu lebih ingin berobat ke beliau daripada berobat ke tempat lain. Aku yakin bukan hanya karena obat pasien beliau tidak berpaling. Aku yakin karena keramahan dan keikhlasan yang diberikan oleh beliau juga merupakan alasannya.

Dalam membantu beliau praktik sebagai asisten, aku sering melihat ia membiarkan pasien yang tidak memiliki uang untuk bayar di lain waktu atau bahkan tidak usah membayar biaya pengobatan. Menurutku beliau adalah bidan, di zaman modern ini, yang masih menarik tarif pengobatan dengan harga murah. Meski karena itu, banyak juga yang menyepelehkan beliau dengan kabur tanpa membayar persalinan atau terus berkata “nanti” saat ditanya soal biaya persalinan. Sampai sekarang, pasien-pasien seperti itu masih ada. Sungguh, tidak mudah menemukan bidan seperti beliau.

Di kehidupannya, beliau pernah menderita penyakit ganas yang sulit sembuh, hampir mustahil sembuh. Sekitar 10 tahun lalu (2006), beliau divonis menderita Adeno Carcinoma Bronchus atau kanker paru stadium IIIB. Saat itu, beliau divonis dokter hanya bertahan selama 6 bulan. Berbagai pengobatan pun beliau lakukan, dari mulai kemoterapi sebanyak 6 kali. Rutin mengkonsumsi obat medis, dan segala macam pengobatan yang dilakukan penderita kanker pada umumnya.

Beliau tidak hanya berobat medis, beliau juga melakukan pengobatan rutin di 2 tempat lainnya. Beliau berobat ke Alternatif Pak Haji Junaedi, Sukabumi, dan melakukan pengobatan Akupresur Ny. Yuli Susianti, Jl. Buah Batu No.142 C, Bandung. Beliau rutin melakukan pengobatan setiap 1 bulan sekali. Jarak yang cukup jauh dari rumah ke tempat berobatnya tidak pernah menjadi masalah baginya.

Bukan hanya itu, beliau pun mengkonsumsi berbagai minuman herbal demi kesembuhannya. Obat herbal yang ia konsumsi adalah Keladi Tikus, Rumput Mutiara, Temu Putih, Tapak Dadar, Cakar Ayam, dan Sambiloto. Dengan berbagai cara itu, beliau akhirnya berhasil sembuh dan tetap bersama kami sampai sekarang.

Dulunya, beliau adalah seorang asisten dokter spesial kandungan. Beliau berhenti sejak mulai pengobatan penyakit kankernya. Saat penyakit mendesaknya mengeluarkan dana yang sangat besar, beliau harus rela melepas pekerjaannya.

Nasihat yang selalu beliau tanam kepadaku adalah ikhlas, sabar, dan terus berdoa. Itu juga yang selalu beliau tanamkan kepada para pasiennya. Aku belajar bahwa yang paling utama adalah mengambil sisi positif kehidupan tanpa perlu menghakimi.

Tanteku bilang, “Harus sadar bukan hanya kita yang mengalami masalah, banyak, bahkan banyak yang lebih buruk.” |Eronika Dwi Pinara

 

back to top