Menu
Konsekuensi Pembangunan Infrastruktur

Konsekuensi Pembangunan Infrastrukt…

Oleh: Novri Susan (Sosiol...

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu Evakuasi Korban Bencana di Sulteng

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu …

Sulawesi Tengah-KoPi|&nbs...

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar Tiban karya Anne Avantie

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar …

Surabaya-KoPi| Ketua Umum...

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi dalam Tantangan Kemajuan Ekonomi Digital

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi…

Jogja-KoPi| Fakultas Ekon...

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mulai Makan Korban

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mula…

Jogja-KoPi| Lembaga Konsu...

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Thailand

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Tha…

Bantul-KoPi| Universitas ...

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo Serukan Damai dan Berbudaya di Ranah Maya

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo S…

Jogja-KoPi|  – Selas...

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Politik Bahas Perkembangan Politik Nasional

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Po…

Jogja-KoPi| Fakultas Ilmu...

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan Solusi​ Online​ untuk UKM

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan …

Jogja-KoPi| Setelah sukse...

Prev Next

Bidan itu rela tak dibayar demi menyelamatkan pasien

Bidan itu rela tak dibayar demi menyelamatkan pasien

Pernahkah kalian menonton film Ayat-Ayat Cinta? Di film itu, kita diajarkan bahwa ikhlas dan sabar itu Islam. Mungkin itu yang dipakai salah seorang bidan di desaku. Aku sering melihat beliau menolong tanpa dibayar, bukankah itu bukti ke ikhlasannya? Bagiku iya.

Seorang bidan itu bernama Dini Sugihartini, S.S.T, beliau bukan hanya bidan di desaku, beliau juga tanteku. Selain membantu persalinan, beliau juga dapat mengobati penyakit umum lainnya. Aku mengenalnya sudah seumur hidupku. Dengan jarak rumah yang begitu dekat, aku selalu menemui bibiku. Beliau begitu baik, selalu memberiku uang jajan. Selalu memberiku obat gratis kapan pun aku minta. Beliau sungguh manusia yang dapat dicontoh.

Aku membantu dengan menjadi asisten beliau saat praktik. Beliau membuka praktik di rumahnya. Pasien beliau selalu ramai setiap harinya, dari pagi, bahkan subuh, sampai malam. Pasien beliau selalu mengatakan bahwa obat dari beliau lebih baik dari yang lain. Selalu lebih ingin berobat ke beliau daripada berobat ke tempat lain. Aku yakin bukan hanya karena obat pasien beliau tidak berpaling. Aku yakin karena keramahan dan keikhlasan yang diberikan oleh beliau juga merupakan alasannya.

Dalam membantu beliau praktik sebagai asisten, aku sering melihat ia membiarkan pasien yang tidak memiliki uang untuk bayar di lain waktu atau bahkan tidak usah membayar biaya pengobatan. Menurutku beliau adalah bidan, di zaman modern ini, yang masih menarik tarif pengobatan dengan harga murah. Meski karena itu, banyak juga yang menyepelehkan beliau dengan kabur tanpa membayar persalinan atau terus berkata “nanti” saat ditanya soal biaya persalinan. Sampai sekarang, pasien-pasien seperti itu masih ada. Sungguh, tidak mudah menemukan bidan seperti beliau.

Di kehidupannya, beliau pernah menderita penyakit ganas yang sulit sembuh, hampir mustahil sembuh. Sekitar 10 tahun lalu (2006), beliau divonis menderita Adeno Carcinoma Bronchus atau kanker paru stadium IIIB. Saat itu, beliau divonis dokter hanya bertahan selama 6 bulan. Berbagai pengobatan pun beliau lakukan, dari mulai kemoterapi sebanyak 6 kali. Rutin mengkonsumsi obat medis, dan segala macam pengobatan yang dilakukan penderita kanker pada umumnya.

Beliau tidak hanya berobat medis, beliau juga melakukan pengobatan rutin di 2 tempat lainnya. Beliau berobat ke Alternatif Pak Haji Junaedi, Sukabumi, dan melakukan pengobatan Akupresur Ny. Yuli Susianti, Jl. Buah Batu No.142 C, Bandung. Beliau rutin melakukan pengobatan setiap 1 bulan sekali. Jarak yang cukup jauh dari rumah ke tempat berobatnya tidak pernah menjadi masalah baginya.

Bukan hanya itu, beliau pun mengkonsumsi berbagai minuman herbal demi kesembuhannya. Obat herbal yang ia konsumsi adalah Keladi Tikus, Rumput Mutiara, Temu Putih, Tapak Dadar, Cakar Ayam, dan Sambiloto. Dengan berbagai cara itu, beliau akhirnya berhasil sembuh dan tetap bersama kami sampai sekarang.

Dulunya, beliau adalah seorang asisten dokter spesial kandungan. Beliau berhenti sejak mulai pengobatan penyakit kankernya. Saat penyakit mendesaknya mengeluarkan dana yang sangat besar, beliau harus rela melepas pekerjaannya.

Nasihat yang selalu beliau tanam kepadaku adalah ikhlas, sabar, dan terus berdoa. Itu juga yang selalu beliau tanamkan kepada para pasiennya. Aku belajar bahwa yang paling utama adalah mengambil sisi positif kehidupan tanpa perlu menghakimi.

Tanteku bilang, “Harus sadar bukan hanya kita yang mengalami masalah, banyak, bahkan banyak yang lebih buruk.” |Eronika Dwi Pinara

 

back to top