Menu
Pakde Karwo: Dual Track Pendidikan Strategi Jatim Songsong Bonus Demografi  2019

Pakde Karwo: Dual Track Pendidikan …

Jatim-KoPi| Berbagai lang...

BPPTKG: Merapi Belum Menunjukkan Adanya Gejala Erupsi Seperti di Tahun 2010 dan 2006.

BPPTKG: Merapi Belum Menunjukkan Ad…

Jogja-KoPi | Balai Penyel...

UGM Mewisuda 1354 Lulusan Sarjana dan Diploma

UGM Mewisuda 1354 Lulusan Sarjana d…

Sleman-KoPi| Universitas ...

Peneliti Gula UGM Soroti Penyimpangan Distribusi Gula Rafinasi

Peneliti Gula UGM Soroti Penyimpang…

Sleman-KoPi| Pasar gula d...

Gerakan Filantropi Islam Sebagai Deradikalisasi

Gerakan Filantropi Islam Sebagai De…

Sleman-KoPi| Dewasa ini, ...

Pakde Karwo: Kunci Perjuangan adalah Persatuan dan Kesatuan

Pakde Karwo: Kunci Perjuangan adala…

Jatim-KoPi| Salah satu ku...

Jaminan Kemerdekaan Kekuasaan Kehakiman Masih Berpusat Pada Institusi Bukan Hakim Secara Personal

Jaminan Kemerdekaan Kekuasaan Kehak…

Sleman-KoPi|Kemerdekaan k...

Merapi Naik ke Status Waspada, Gempa Tremor dan Vulkanik Sempat Muncul Saat Letusan Freaktif.

Merapi Naik ke Status Waspada, Gemp…

Jogja-KoPi|Setelah Gunung...

Merapi Kembali Meletus Dua Kali Dalam Sehari, BPPTKG: Ini Memang Karakter Merapi.

Merapi Kembali Meletus Dua Kali Dal…

Jogja-KoPi | Gunung Merap...

Prev Next

Apa gunanya mengeluh?

www.churchleader.co.kr www.churchleader.co.kr

Dalam KBBI, “mengeluh” memiliki arti ungkapan yang keluar karena perasaan susah (karena menderita sesuatu yang berat, kesakitan, dsb). Ungkapan yang dimaksud bukan hanya dari kata-kata dan dapat diidentifikasi dari sikap dan raut wajah seseorang. Penyebab mengeluh bisa berlatar oleh kekecewaan, beban, kesalahan, tidak setuju kepada kebijakan pemerintah atau gagasan orang lain, dll.

Mengeluh memang sudah lekat pada diri manusia. Sejak bangun tidur hingga kembali beristirahat ada saja keluhan yang terlontar. Baik secara sadar maupun tidak. Tidak sulit untuk mengidentifikasi keluhan baik yang secara sadar maupun keluhan  spontan.
Keluhan biasanya diungkapkan melalui kata-kata baik lisan maupun tulisan. Ungkapan lisan misalnya, “Aduh, mengapa seperti ini?”, “Harusnya seperti ini, bukan seperti itu.”

Ungkapan tulisan tidak sulit ditemui, dalam media sosial misalnya. Beranda Facebook atau  kicauan Twitter pasti terdapat keluhan seseorang. Media sosial yang semula berfungsi untuk media komunikasi kini beralihfungsi menjadi tempat curahan hati.

Namun berhati-hatilah, keluhan yang dituangkan ke media sosial bisa sesekali membawa kerugian tersendiri karena media sosial yang sifatnya transparan alias dapat dilihat oleh siapa saja. Dari beraneka ragam keluhan, mengeluh yang dilengkapi dengan “bumbu-bumbu sindiran” baik sarkastik maupun sinism yang bisa memicu timbulnya cekcok.

Mengeluh bisa menjadi sindiran bagi orang yang merasa bahwa ungkapan tersebut ditujukan kepadanya.  Sensitivitas seseorang kadang terhasut oleh kalimat keluhan yang cenderung subyektif. Inilah yang membuat keluhan kadang disebut sebagai hal yang negatif. Sebenarnya mengeluh adalah hal relatif dan mendasar yang bisa saja terjadi pada semua orang. Dan pada akhirnya, keluhan subyektif bisa menimbulkan dampak dimana orang yang merasa disindir menjadi menyesal atau mungkin geram.

Satu hal yang harus dipahami, mengeluh tidak akan menyelesaikan masalah. Apa lagi jika keluhan itu dibarengi oleh emosi. Fatalnya, apabila subyek yang mengeluarkan keluhan tidak dapat mengontrol emosi, bisa memicu timbulnya ucapan yang tidak sepantasnya keluar.

Selain itu, mengeluh membuat seseorang cenderung berpikiran negatif. Hal ini menyebabkan dampak buruk, salah satunya akan sulit menerima pendapat orang lain atau hal baru, sulit bersosialisasi, menyalahkan orang lain, dsb.

Mengeluh sebenarnya memiliki sisi positif jika keluhan itu dijadikan acuan untuk berubah. Mengeluh tidak selamanya negatif karena mengeluh berarti menyadari terdapat sesuatu yang salah atau keberanian untuk berterus terang menyatakan kebenaran yang ada. Setelah mengeluh, semestinya dilanjutkan dengan tindakan riil yang memberikan hasil baru atau yang lebih baik.

Menghindari keluhan itu mudah. Melihat kepada sisi baik dari masalah tersebut salah satunya. Tidak mungkin suatu kejadian hanya memiliki dampak merugikan. Cari dan ketahui apa sisi lain dari suatu kejadian.

Keluhan bisa bersifat positif dan negatif, tergantung bagaimana cara seseorang menghadapi kejadian yang membuat kesabarannya di uji. Jika keluhan disampaikan dengan bijak, maka kekecewaan atau rasa kesal akan memudar. Misalnya, jika Anda merasa tugas kelompok anda lebih berat dalam kelompok, Anda bisa membicarakan baik-baik dalam kelompok untuk membagi tugas dengan adil.

Boleh mengeluh, tetapi ada baiknya jika keluhan itu tidak sampai merugikan diri kita karena mengeluh berkepanjangan. Keluhkan semua kesah dalam hati dan berpikirlah positif. Lihat sisi baik yang dapat diambil. Jika sudah mampu mengendalikan diri sendiri, maka otak akan terbiasa memikirkan hal yang positif.
Masih maukah Anda mengeluh?

back to top