Menu
RUU Permusikan dan Kebrutalan Spirit Kapitalisme

RUU Permusikan dan Kebrutalan Spiri…

Anang Hermansyah, anggota...

Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Perda Trantibmumlinmas

Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Per…

Surabaya-KoPi| Gubernur J...

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Indonesia Kian Hari Kian Memprihatinkan

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Ind…

Bantul-KoPi| Di dalam eko...

Masih Banyak Kekeliruan Informasi Dalam Sikapi Bencana

Masih Banyak Kekeliruan Informasi D…

Bantul-KoPi| Bencana alam...

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang Olahraga ke UGM

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang…

Jogja-KoPi| Kementerian P...

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan Baru

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan B…

Jogja-KoPi| Fakultas Kedo...

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Bekas Untuk Tingkatkan Mutu Jalan Rel Kereta Api di Indonesia

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Be…

Bantul-KoPi| Mengacu dari...

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancangan Mahasiswa UGM Raih Penghargaan di Seoul

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancanga…

Jogja-KoPi| Sepatu buatan...

Konsekuensi Pembangunan Infrastruktur

Konsekuensi Pembangunan Infrastrukt…

Oleh: Novri Susan (Sosiol...

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Prev Next

Surat Kartini: Kepada Tuan Prof. Dr. GK Anton dan Nyonya di Jena #11

Surat Kartini: Kepada Tuan Prof. Dr. GK Anton dan Nyonya di Jena #11

10 Juli 1901

Seharusnya saya lahir sebagai anak laki-laki.

Bila itu yang terjadi mungkin akan ada dari rencana-rencana saya yang melambung tinggi itu yang dapat terwujud. Kini, sebagai anak perempuan dalam masyarakat Bumiputera, hal itu hampir tidak mungkin.

Dapatkah kita mengharapkan dengan sungguh-sungguh, bahwa di Hindia --Hindia yang biadab, terbelakang, terkantuk-kantuk-- dengan murah hati akan mengizinkan anak gadisnya memandang dirinya manusia? Makhluk yang berhak atas kesadaran batin yang merdeka, berhak berpikir bebas, merasa dan berbuat.

Timbul perasaan pada saya, seolah-olah pintu surga terbuka secara tiba-tiba. Hal itu terjadi ketika beberapa waktu lalu saya membaca berita di koran bahwa pemerintah akan membuka kesempatan bagi anak perempuan bupati untuk belajar menjadi guru. Usaha siapa itu, tentu tidak perlu saya terangkan kepada tuan.

Kami hampir seperti gila karena gembira. Hal itu sudah merupakan kemajuan besar. Peribahasa menyatakan dengan nyata sekali, "Soalnya hanyalah mengayunkan langkah yang pertama." Kami mengharapkan sangat banyak dari rencana pemerintah yang bagus itu. Tapi itu akan sia-sia saja, karena kebanyakan kepala Bumiputera yang dimintai pendapat mengenai hal itu tidak setuju.

Telah berulang saya katakan kepada diri sendiri, saya berseru keras, bahwa impian dan cita-cita itu beban tak berguna dalam masyarakat Bumiputera kita, kemewahan yang berlebihan dan berbahaya. Tapi yang mengatakan demikian itu hanya mulut, yang dikarenakan bisikan otak yang dingin dan tak acuh.

Hati, benda yang bodoh-tolol itu, tidak dapat memisahkan diri dari mimpi dan cita-cita. Sedemikian dalamnya mimpi tentang kebebasan dan cita-cita lain yang berakar di hati kami, sehingga kedua hal itu tidak dapat dimusnahkan tanpa sama sekali merusak dasarnya tempat mimpi itu. Dan cita-cita itu tumbuh dengan suburnya.

Tuan baik sekali telah mengkhawatirkan masa depan saya. Saya sungguh-sungguh berterima kasi. Tapi, ah, jangan lagi bersedih memikirkan saya, atau lebih baik kami tahu apa yang menunggu kami. Kami bertiga bergandengan tangan menempuh hidup yang bagi kami akan penuh dengan perjuangan, kekecewaan, dan duka.

Yang disebarkan di atas jalan yang kami pilih tentunya bukan bunga mawar. Benar jalan itu penuh duri, tapi kami sendirilah yang memilihnya karena cinta. Dan dengan cinta dan gembira pulalah kami akan menempuh jalan itu. Untuk turut merintis jalan yang mengantarkan beribu-ribu jiwa saudara-saudara perempuan kami yang papa, tertindas dan terinjak-injak ke arah kebebasan dan kebahagiaan.

Itulah mimpi "Tiga Saudara", tiga gadis kakak-beradik di tanah Matahari yang jauh!

back to top