Menu
Pakde Karwo: Antara Operator dan Regulator Transportasi Tidak Bisa Dipisahkan

Pakde Karwo: Antara Operator dan Re…

Surabaya-KoPi| Gubernur J...

Nertalitas TNI dalam Pemilu Capres dan Cawapres

Nertalitas TNI dalam Pemilu Capres …

Lembah Tidar-KoPi| Senin ...

Reuni Adem Akabri '86, Ibu ibu melaksanakan Out Bound

Reuni Adem Akabri '86, Ibu ibu mela…

Lembah Tidar-KoPi| Minggu...

Teknik Mesin SV UGM Dukung Program Kampus Sehat dan Bebas Asap Rokok

Teknik Mesin SV UGM Dukung Program …

Jogja-KoPi| Departemen Te...

Teknologi RFID Bantu Lacak Legalitas Kayu

Teknologi RFID Bantu Lacak Legalita…

Bantul-KoPi| Tim Pengabdi...

Pakar UGM Ajak Masyarakat Memanen Air Hujan

Pakar UGM Ajak Masyarakat Memanen A…

Jogja-KoPi| Pakar Hidrolo...

BKP: Indonesia Fokus Pada Peningkatan Kompetitifitas Produk Agrikultur

BKP: Indonesia Fokus Pada Peningkat…

Bantul-KoPI|Pada tahun 20...

UNIVERSITAS MENYAMBUT R.I KEEMPAT

UNIVERSITAS MENYAMBUT R.I KEEMPAT

Oleh Moh. Mudzakkir(Dosen...

Pakde Karwo : 2/3 Perguruan Tinggi Swasta Sumbangkan Kaum Intelektual di Jatim

Pakde Karwo : 2/3 Perguruan Tinggi …

Surabaya-KoPi| Sebanyak 2...

Pengungsi Korban Gempa di Gumantar Banyak Terserang Ispa

Pengungsi Korban Gempa di Gumantar …

Lombok-KoPi| Sebanyak 30 ...

Prev Next

Surat Kartini: Kepada Tuan Prof. Dr. GK Anton dan Nyonya di Jena #11

Surat Kartini: Kepada Tuan Prof. Dr. GK Anton dan Nyonya di Jena #11

10 Juli 1901

Seharusnya saya lahir sebagai anak laki-laki.

Bila itu yang terjadi mungkin akan ada dari rencana-rencana saya yang melambung tinggi itu yang dapat terwujud. Kini, sebagai anak perempuan dalam masyarakat Bumiputera, hal itu hampir tidak mungkin.

Dapatkah kita mengharapkan dengan sungguh-sungguh, bahwa di Hindia --Hindia yang biadab, terbelakang, terkantuk-kantuk-- dengan murah hati akan mengizinkan anak gadisnya memandang dirinya manusia? Makhluk yang berhak atas kesadaran batin yang merdeka, berhak berpikir bebas, merasa dan berbuat.

Timbul perasaan pada saya, seolah-olah pintu surga terbuka secara tiba-tiba. Hal itu terjadi ketika beberapa waktu lalu saya membaca berita di koran bahwa pemerintah akan membuka kesempatan bagi anak perempuan bupati untuk belajar menjadi guru. Usaha siapa itu, tentu tidak perlu saya terangkan kepada tuan.

Kami hampir seperti gila karena gembira. Hal itu sudah merupakan kemajuan besar. Peribahasa menyatakan dengan nyata sekali, "Soalnya hanyalah mengayunkan langkah yang pertama." Kami mengharapkan sangat banyak dari rencana pemerintah yang bagus itu. Tapi itu akan sia-sia saja, karena kebanyakan kepala Bumiputera yang dimintai pendapat mengenai hal itu tidak setuju.

Telah berulang saya katakan kepada diri sendiri, saya berseru keras, bahwa impian dan cita-cita itu beban tak berguna dalam masyarakat Bumiputera kita, kemewahan yang berlebihan dan berbahaya. Tapi yang mengatakan demikian itu hanya mulut, yang dikarenakan bisikan otak yang dingin dan tak acuh.

Hati, benda yang bodoh-tolol itu, tidak dapat memisahkan diri dari mimpi dan cita-cita. Sedemikian dalamnya mimpi tentang kebebasan dan cita-cita lain yang berakar di hati kami, sehingga kedua hal itu tidak dapat dimusnahkan tanpa sama sekali merusak dasarnya tempat mimpi itu. Dan cita-cita itu tumbuh dengan suburnya.

Tuan baik sekali telah mengkhawatirkan masa depan saya. Saya sungguh-sungguh berterima kasi. Tapi, ah, jangan lagi bersedih memikirkan saya, atau lebih baik kami tahu apa yang menunggu kami. Kami bertiga bergandengan tangan menempuh hidup yang bagi kami akan penuh dengan perjuangan, kekecewaan, dan duka.

Yang disebarkan di atas jalan yang kami pilih tentunya bukan bunga mawar. Benar jalan itu penuh duri, tapi kami sendirilah yang memilihnya karena cinta. Dan dengan cinta dan gembira pulalah kami akan menempuh jalan itu. Untuk turut merintis jalan yang mengantarkan beribu-ribu jiwa saudara-saudara perempuan kami yang papa, tertindas dan terinjak-injak ke arah kebebasan dan kebahagiaan.

Itulah mimpi "Tiga Saudara", tiga gadis kakak-beradik di tanah Matahari yang jauh!

back to top