Menu
Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Perda Trantibmumlinmas

Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Per…

Surabaya-KoPi| Gubernur J...

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Indonesia Kian Hari Kian Memprihatinkan

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Ind…

Bantul-KoPi| Di dalam eko...

Masih Banyak Kekeliruan Informasi Dalam Sikapi Bencana

Masih Banyak Kekeliruan Informasi D…

Bantul-KoPi| Bencana alam...

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang Olahraga ke UGM

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang…

Jogja-KoPi| Kementerian P...

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan Baru

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan B…

Jogja-KoPi| Fakultas Kedo...

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Bekas Untuk Tingkatkan Mutu Jalan Rel Kereta Api di Indonesia

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Be…

Bantul-KoPi| Mengacu dari...

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancangan Mahasiswa UGM Raih Penghargaan di Seoul

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancanga…

Jogja-KoPi| Sepatu buatan...

Konsekuensi Pembangunan Infrastruktur

Konsekuensi Pembangunan Infrastrukt…

Oleh: Novri Susan (Sosiol...

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu Evakuasi Korban Bencana di Sulteng

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu …

Sulawesi Tengah-KoPi|&nbs...

Prev Next

Surat Kartini: Kepada Nyonya RM Abendanon-Mandri #7

Surat Kartini: Kepada Nyonya RM Abendanon-Mandri #7

7 Oktober 1900

Saya menunggu waktu saya dengan tenang. Kalau waktu itu tiba, maka orang akan melihat bahwa saya bukan benda mati, tetapi manusia. Dengan kepala dan hati yang dapat berpikir dan merasa.

Saya terlalu memikirkan diri sendiri sehingga melibatkan Nyonya dalam segala sesuatu yang saya pikirkan dan rasakan. Hal itu meringankan hati saya, tapi bagi nyonya...menyusahkan! Lihatlah, apa yang saya berikan kepada nyonya yang mengasihi saya. Aduh, saya ingin berseru kepada nyonya...lepaskan saya, jauhilah saya! Lenyapkan saya dari pikiran dan hati nyonya. Lupakan saya! Biarkan saya bergulat seorang diri.

Biarkan saya seorang diri saja. Biarkan saja saya bersyukur bahwa saya telah mendapat simpati nyonya yang begitu besar. Nyonya telah menyilang jalan hidup saya dan di situ menjatuhkan cahaya dan bunga. Biarkan perjumpaan kita seperti perjumpaan kapal di samudera luas yang silang-menyilang dalam malam gelap. Berjumpa, memberi salam gembira, sebentar membekas pada permukaan air dan sesudah itu habis. Tapi saya khawatir. Saya tahu bahwa nyonya tidak dapat berbuat demikian, walaupun nyonya barangkali mau. Baiklah saya tidak membicarakannya lagi.

Belum lama ini saya bercakap-cakap dengan ibu tentang hal ikhwal perempuan. Ketika itu untuk kesekian kalinya saya menyatakan, bahwa tidak ada suatu apapun lagi bagi saya yang menimbulkan rasa indah dan menarik hati saya. Tak ada suatu apapun yang lebih sungguh-sungguh saya dambakan dan inginkan kecuali diperbolehkan berdiri sendiri. Kata ibu, "Tapi, masih belum ada seorang pun di antara kita yang berbuat demikian.'

"Maka tibalah waktunya bahwa seseorang suatu ketika akan berbuat begitu," kata saya.

"Tapi tahukah kamu bahwa segala permulaan itu sukar, bahwa setiap orang yang merintis jalan selalu bernasib susah? Bahwa ketiadaan pengakuan, rasa kecewa yang bertubi-tubi, cemooh yang menantimu; apakah kamu tahu semua hal itu?" tanya ibu.

"Saya tahu! Bukan hari ini atau kemarin saja buah pikiran itu timbul pada saya, telah bertahun-tahun hal itu terkandung dalam hati saya," kata saya.

"Dan, apakah kebaikannya bagi dirimu sendiri? Akan puaskah hatimu, akan berbahagiakah kamu?" tanya ibu.

"Saya tahu, jalan yang hendak saya tempuh itu sukar, penuh duri, onak dan lubang; jalan itu berbatu-batu, terjal, licin....belum dirintis! Dan walaupun saya tidak beruntung sampai ke ujung jalan itu, walaupun saya sudah akan patah di tengah jalan, saya akan mati dengan bahagia.

 

Sebab jalan tersebut sudah terbuka dan saya turun membantu menerabas jalan yang menuju kebebasan dan kemerdekaan perempuan Bumiputera. Saya sudah akan sangat puas apabila orangtua anak-anak perempuan lain yang juga hendak berdiri sendiri, tidak akan lagi bisa mengatakan: masih belum ada seorang pun di antara kita yang berbuat demikian."

 

Aneh. Tetapi saya sekali-kali tidak merasa ngeri, takut ataupun gentar. Saya tenang dan benar-benar berani. Hanya hati yang bodoh dan gila ini yang teramat pedih.

back to top