Menu
Mendesa RI bersama Rektor UGM melepas 5.992 Peserta KKN PPM 2018 ke 34 Provinsi.

Mendesa RI bersama Rektor UGM melep…

 Sleman-KoPi| Rektor UG...

Basarnas Fokuskan Pengamanan Wisata Pantai Selatan

Basarnas Fokuskan Pengamanan Wisata…

Jogja-KoPi| Tim Search An...

PBB:Serangan Lanjut ke Hudaida Yaman berdampak ke Bencana Kemanusiaan yang Lebih Besar

PBB:Serangan Lanjut ke Hudaida Yama…

Yaman-KoPi| Persatuan Ban...

Tahun 2018 Kasus Demam Berdarah Cenderung Turun.

Tahun 2018 Kasus Demam Berdarah Cen…

Sleman-KoPi| Memasuki per...

Mahasiswa UGM Inovasikan Limbah Cangkang Udang Menjadi Closet Sanitizer Berbahan 100% non Alkohol.

Mahasiswa UGM Inovasikan Limbah Can…

Sleman-KoPi| Lima Mahasis...

Gubernur DIY: Jalan Alternatif Gunung Merapi tidak di tutup Tapi kalau naik Gunung harap Waspada

Gubernur DIY: Jalan Alternatif Gunu…

Sleman-KoPi| Gubernur Dae...

Operasi Ketupat 2018, Polda DIY Berfokus Pada 4 Potensi Kerawanan saat Lebaran.

Operasi Ketupat 2018, Polda DIY Ber…

Sleman-KoPi| Kepolisian D...

Tamu di Yogyakarta Lebih Gemar Menghabiskan Malam di  Hotel Berbintang Ketimbang di Hotel Melati.

Tamu di Yogyakarta Lebih Gemar Meng…

Bantul-KoPi| Badan Pusat ...

Donald Trump Pastikan Tanggal Gelaran Pertemuan Dengan Kim Jong.

Donald Trump Pastikan Tanggal Gelar…

Washington-KoPi| Presid...

Polda DIY Gagalkan Operasi Peredaran Tembakau Gorila di Yogyakarta.

Polda DIY Gagalkan Operasi Peredara…

Sleman-kopi| Direktorat R...

Prev Next

Surat Kartini: Kepada Nyonya Ovink-Soer #6

simmonot.com simmonot.com

Awal tahun 1900

Bila orang hendak sungguh-sungguh memajukan peradaban, maka kecerdasan pikiran dan pertumbuhan budi harus sama-sama dimajukan.

Dan, siapa yang bisa paling banyak berbuat untuk yang terakhir itu, yang paling banyak membantu mempertinggi kadar budi manusia? Perempuan. Karena, di pangkuan perempuan lah pertama-tama manusia menerima pendidikannya. Di sana anak mula-mula belajar merasa, berpikir, berbicara.

Bangsa kami tidak terlalu cepat bergerak untuk cita-cita tinggi. Kami harus membuat mereka tercengang melalui contoh, yang berbicara dan membuat mereka terpaksa menerimanya, jika kami mau mencapai cita-cita untuk mempelopori dan memberi penerangan. Dan, karenanya, pergi ke Belanda dengan tujuan utama untuk belajar, bagi kami baik, kalau kami pergi. Ibu tercinta, tolong mengusahakan kami pergi!

Kalau kami tamat belajar dan kembali ke Jawa, kami akan membuka asrama untuk putera-puteri bangsawan; kalau mungkin atas biaya pemerintah. Kalau tidak, kami akan mendirikannya dengan bantuan swasta, dengan cara lotere uang atau yang semacamnya.

Akan ada jalan juga kalau sudah tiba waktunya. Untuk sementara, halangan yang terutama yang ada di rumah kami sendirilah yang harus kami hilangkan. Kami akan merasa girang segirang-girangnya jika mendapat izin dari ayah. Aduh, alangkah pedihnya, sedihnya rasa hati. Sengsara betul menjadi gadis Jawa dan berperasaan halus. Kasihan ayah dan ibu kami, nasib celaka manakah yang memberi mereka anak-anak perempuan serupa kami?

Bantulah mengusahakan kami pergi dari sini untuk bekerja mewujudkan cita-cita kami. Akan tiba saat permulaan untuk mengakhiri ketidakadilan yang besar, yang menyebabkan ribuan hati perempuan dan anak hancur luluh.

"Kasihan anak-anak sinting," demikian mungkin Ibu bergumam. "Kamu berdua hendak menggoncangkan gedung raksasa itu, hendak menghancurkannya?" saya bisa mendengar Ibu bertanya seperti itu.

Kami akan menggoncangkannya, Ibu sayang, dengan segala kekuatan walaupun yang akan runtuh hanya satu butir batu saja, maka kami akan merasa bahwa hidup kami tidak sia-sia. Senang sekali mempunyai cita-cita dan tujuan hidup. Sebut kami orang gila, sinting, semua saja yang Ibu kehendaki; kami tak akan berbuat lain, itu sudah tabiat kami. Kakek merintis jalan, ketika beliau setengah abad yang lalu memberi putera-puterinya pendidikan Eropa. Kami tidak berhak bodoh, tidak berhak tak berarti. Kebangsawanan menanggung kewajiban! Terus-menerus makin tinggi.

back to top