Menu
UGM Kembangkan Aplikasi Informasi Pengungsi Korban Bencana

UGM Kembangkan Aplikasi Informasi P…

Sleman-KoPi | Pusat Studi...

Tim Peneliti UGM ciptakan alat pendeteksi dini bencana longsor bernama SIPENDIL.

Tim Peneliti UGM ciptakan alat pend…

Sleman-KoPi | Tim penelit...

Bagaimana menjaga pola makan yang baik dan benar selama bulan Puasa.

Bagaimana menjaga pola makan yang b…

Inggris-KoPi| Inilah saat...

8 Mahasiswa di Yogyakarta ditangkap gunakan Narkoba.

8 Mahasiswa di Yogyakarta ditangkap…

Sleman-KoPi| Direktorat R...

Korut tunda pertemuan KTT bersama Korea Selatan.

Korut tunda pertemuan KTT bersama K…

Pyongyang-KoPi | Korea ut...

Protes Keras Tanoni :Australia Bebaskan Nelayan Yang Ditangkap.

Protes Keras Tanoni :Australia Beba…

Kupang-KoPi | Pemerintah ...

Jelang Puasa, Stok Barang Kebutuhan Pokok di Jatim Dipastikan Aman

Jelang Puasa, Stok Barang Kebutuhan…

Surabaya-KoPi|Menjelang b...

Pemerintah Bantul Siap Dukung Kontes Robot Indonesia di UMY

Pemerintah Bantul Siap Dukung Konte…

Sleman-KoPi| Menjelang pe...

Tahun Politik, Akun Buzzer di Media Sosial Bermunculan

Tahun Politik, Akun Buzzer di Media…

Sleman-KoPi| Menjelang pi...

Prev Next

Surat Kartini: Kepada Nyonya Abendanon Mandri #9

Surat Kartini: Kepada Nyonya Abendanon Mandri #9

21 Januari 1901

Tadi sore kami pergi ke pantai dan kami mandi di laut. Lautnya tenang menyenangkan dan sama warnanya. Saya duduk di atas batu karang dengan kaki terjuntai ke dalam air dan mata memandang jauh ke kaki langit. Aduhai! Alangkah indah jelitanya bumi ini. Kedamaian, rasa bahagia, rasa terima kasih meresap ke dalam hati saya. Alam tidak pernah membiarkan kami pergi sebelum dihiburnya, apabila kami datang kepadanya untuk minta dihibur.

 

Telah lama dan telah banyak saya memikirkan perkara pendidikan, terutama akhir-akhir ini. Saya pandang pendidikan itu sebagai kewajiban yang demikian mulia dan suci, sehingga saya anggap suatu kejahatan apabila tanpa kecakapan yang sempurna saya berani menyerahkan tenaga untuk perkara itu. Sebelumnya harus dibuktikan apakah saya mampu menjadi pendidik. Bagi saya pendidikan itu merupakan pembentukan budi dan jiwa.

Aduh, saya sama sekali tidak akan dapat berpuas diri apabila sebagai guru saya merasa tidak dapat menjalankan tugas seperti yang saya wajibkan sendiri kepada pendidik yang baik. Dengan mengembangkan pikiran saja tugas pendidikan belum selesai, belum boleh selesai. Seorang pendidik harus juga memelihara pembentukan budi pekerti, walaupun tidak ada hukum yang secara pasti mewajibkannya melakukan tugas itu. Namun, secara moril ia wajib berbuat demikian.

Dan saya bertanya pada diri saya sendiri: dapatkah kiranya saya menjalankan tugas itu? Saya, yang masih perlu juga dididik ini? Sering saya mendengar orang mengatakan bahwa dari yang satu dengan sendirinya akan timbul yang lain. Oleh perkembangan akal dengan sendirinya budi itu menjadi halus, luhur.

Tapi, dari pengamatan saya, saya berpendapat bahwa hal itu sama sekali tidak selamanya demikian. Peradaban, kecerdasan pikiran, belumlah merupakan jaminan bagi kesusilaan. Dan orang tidak boleh terlalu menyalahkan mereka yang budi pekertinya tetap jelek meskipun pikirannya cerdas benar. Sebab dalam kebanyakan hal, kesalahannya tidak terletak pada mereka sendiri melainkan pada pendidikan mereka. Aduh, telah sangat banyaknya mereka yang mengusahakan kecerdasan pikiran. Tapi, apa yang telah diperbuatnya untuk pembentukan budi pekerti mereka?

Aduhai, dengan gembira saya benarkan pikiran suami nyonya yang demikian jelas terbaca dalam surat edaran tentang pengajaran untuk anak-anak perempuan Bumiputera: perempuan sebagai pendukung peradaban! Bukan, bukan karena perempuan yang dianggap cakap untuk itu, melainkan karena saya sendiri juga yakin sungguh-sungguh bahwa dari perempuan mungkin akan timbul pengaruh yang besar, yang baik atau buruk akan berakibat besar bagi kehidupan: bahwa dialah yang paling banyak dapat membantu meninggikan kadar kesusilaan manusia.

Dan, bagaimanakah ibu-ibu Bumiputera dapat mendidik anak-anaknya, kalau mereka sendiri tidak berpendidikan?
Karena itulah maka saya amat sangat gembira atas maksud yang mulia hendak memberikan pendidikan dan pengajaran kepada gadis-gadis Bumiputera itu. Sudah lama saya mengerti bahwa hanya itulah yang dapat membawa perubahan dalam kehidupan perempuan Bumiputera yang menyedihkan ini. Pengajaran kepada anak-anak perempuan akan merupakan rahmat, bukan hanya untuk perempuan saja melainkan untuk seluruh masyarakat.

Di mana-mana kami mendengar orang membicarakan sekolah-sekolah yang akan didirikan untuk anak perempuan Bumiputera. Betapa bersinar-sinar mata kami. Dan hati kami menjadi gembira kalau kami mendengar rancana itu dibicarakan dengan penghargaan dan persetujuan yang begitu banyak. Kerap kali kami harus menggigit bibir untuk tidak bersorak-sorak kegirangan; menggenggam tangan kami erat-erat untuk tidak menyatakan kegembiraan kami dengan keras.

Di kalangan perempuan Bumiputera sendiri, sepanjang pengetahuan kami, sangat gembira akan hal ini. Semua yang kami ajak bicara tentang perkara itu ingin menjadi anak lagi untuk dapat turun mengenyam pengajaran itu. Alangkah bagusnya! Sekolah-sekolah Bumiputera di Pati, Kudus, Jepara dan di distrik-distrik dapat menunjukkan bukti-bukti nyata kepada nyonya mengenai keberhasilan pekerjaan yang mulia itu; anak-anak perempuan dari kalangan rakyat yang bersekolah di situ jumlahnya semakin bertambah.

back to top