Menu
Mendesa RI bersama Rektor UGM melepas 5.992 Peserta KKN PPM 2018 ke 34 Provinsi.

Mendesa RI bersama Rektor UGM melep…

 Sleman-KoPi| Rektor UG...

Basarnas Fokuskan Pengamanan Wisata Pantai Selatan

Basarnas Fokuskan Pengamanan Wisata…

Jogja-KoPi| Tim Search An...

PBB:Serangan Lanjut ke Hudaida Yaman berdampak ke Bencana Kemanusiaan yang Lebih Besar

PBB:Serangan Lanjut ke Hudaida Yama…

Yaman-KoPi| Persatuan Ban...

Tahun 2018 Kasus Demam Berdarah Cenderung Turun.

Tahun 2018 Kasus Demam Berdarah Cen…

Sleman-KoPi| Memasuki per...

Mahasiswa UGM Inovasikan Limbah Cangkang Udang Menjadi Closet Sanitizer Berbahan 100% non Alkohol.

Mahasiswa UGM Inovasikan Limbah Can…

Sleman-KoPi| Lima Mahasis...

Gubernur DIY: Jalan Alternatif Gunung Merapi tidak di tutup Tapi kalau naik Gunung harap Waspada

Gubernur DIY: Jalan Alternatif Gunu…

Sleman-KoPi| Gubernur Dae...

Operasi Ketupat 2018, Polda DIY Berfokus Pada 4 Potensi Kerawanan saat Lebaran.

Operasi Ketupat 2018, Polda DIY Ber…

Sleman-KoPi| Kepolisian D...

Tamu di Yogyakarta Lebih Gemar Menghabiskan Malam di  Hotel Berbintang Ketimbang di Hotel Melati.

Tamu di Yogyakarta Lebih Gemar Meng…

Bantul-KoPi| Badan Pusat ...

Donald Trump Pastikan Tanggal Gelaran Pertemuan Dengan Kim Jong.

Donald Trump Pastikan Tanggal Gelar…

Washington-KoPi| Presid...

Prev Next

Surat Kartini: Kepada Nyonya Abendanon-Mandri #14

Surat Kartini: Kepada Nyonya Abendanon-Mandri #14

8 April 1902

Belajar pada usia yang sudah matang ada pulalah keuntungannya. Kami sekarang mengerti jauh lebih baik dan memahami segala sesuatu. Dan, banyak hal yang dulu bagi kami mati sekarang menjadi hidup. Kami tertarik terhadap sangat banyak hal yang dulu tidak kami pedulikan, semata-mata hanyalah karena: kami tidak mengerti.

Alangkah bahagia kami apabila sekarang ada seseorang yang dapat menerangkan hal-hal yang sangat menarik itu kepada kami! Guru-guru yang diam itu sekarang harus menjawab semua pertanyaan kami.

Saya telah banyak memikirkan hal yang dikatakan orang: "hidup senang". Pada banyak hal yang saya lihat hari-hari terakhir, dengan tidak sengaja terpikir oleh saya ungkapan itu. Dan saya tersenyum mengejek. Aduhai, nyonya sayang! Bukan sekali ini dan tidak akan sekali ini saja, bahwa ada sesuatu yang ditutup-tutupi, dipungkiri! Dunia ini masih senantiasa teramat sopan. Tidak mau melihat kenyataan yang telanjang bulat. Memalingkan muka dengan penuh rasa jijik dari kenyataan....

Tadi siang kami demikian terharu oleh suatu contoh kesengsaraan hidup. Seorang anak berumur 6 tahun menjual rumput. Anak itu tidak lebih besar daripada kemenakan kami yang kecil.Bocah itu sama sekali tidak tampak, seolah-olah hanya ada dua gundukan rumput berjalan. Ayah menyuruhnya datang dan di situ kami mendengar cerita.

Seperti ratusan, kalau tidak ribuan lainnya, anak itu tidak berayah. Ibunya pergi bekerja. Di rumah masih ada dua orang adik. Ia anak sulung. Kami bertanya apakah ia sudah makan. "Belum."

Mereka hanya makan nasi sehari satu kali, yakni pada waktu malam ketika ibunya datang. Sore mereka makan kue tepung aren sehargas sepeser. Dari penjual kecil itu, saya melihat kepada kemenakan saya, sebesar dia. Saya ingat apa yang kami makan tiga kali sehari. Dan hal itu bagi saya sangat asing, sangat aneh rasanya! Kami memberinya makan, tapi tidak dimakannya; nasi itu dia bawa pulang.

Pandangan saya membututi si buyung yang bersenjatakan pikulan dan pisau rumput, sampai akhirnya dia tidak tampak lagi. Sungguh suatu hal yang tidak terpikirkan dalam benak dan hati saya!

Saya malu sekali memikirkan kepentingan pribadi. Saya berpikir-pikir dan melamun tentang keadaan saya sendiri dan di luar, di sekeliling saya demikian banyaknya orang yang hidup menderita dan sengsara. Seolah-olah udara tiba-tiba bergetar disebabkan oleh suara orang-orang menderita di sekeliling saya yang menjerit, mengerang dan mengeluh.

Lebih keras dari suara mengerang dan mengeluh, terdengar bunyi mendesing dan menderau dalam telinga saya: Bekerja! Bekerja! Bekerja!

Berjuanglah membebaskan diri! Baru setelah kamu bekerja membebaskan diri, akan dapatlah kamu menolong orang lain. Bekerja! Suara itu saya dengar nyaring sekali, tampak tersurat di hadapan saya sehingga harus saya tulis untuk nyonya, karena nyonya sungguh-sungguh turut merasakan dan turut menghayati suka-duka kami.

back to top