Menu
Mendesa RI bersama Rektor UGM melepas 5.992 Peserta KKN PPM 2018 ke 34 Provinsi.

Mendesa RI bersama Rektor UGM melep…

 Sleman-KoPi| Rektor UG...

Basarnas Fokuskan Pengamanan Wisata Pantai Selatan

Basarnas Fokuskan Pengamanan Wisata…

Jogja-KoPi| Tim Search An...

PBB:Serangan Lanjut ke Hudaida Yaman berdampak ke Bencana Kemanusiaan yang Lebih Besar

PBB:Serangan Lanjut ke Hudaida Yama…

Yaman-KoPi| Persatuan Ban...

Tahun 2018 Kasus Demam Berdarah Cenderung Turun.

Tahun 2018 Kasus Demam Berdarah Cen…

Sleman-KoPi| Memasuki per...

Mahasiswa UGM Inovasikan Limbah Cangkang Udang Menjadi Closet Sanitizer Berbahan 100% non Alkohol.

Mahasiswa UGM Inovasikan Limbah Can…

Sleman-KoPi| Lima Mahasis...

Gubernur DIY: Jalan Alternatif Gunung Merapi tidak di tutup Tapi kalau naik Gunung harap Waspada

Gubernur DIY: Jalan Alternatif Gunu…

Sleman-KoPi| Gubernur Dae...

Operasi Ketupat 2018, Polda DIY Berfokus Pada 4 Potensi Kerawanan saat Lebaran.

Operasi Ketupat 2018, Polda DIY Ber…

Sleman-KoPi| Kepolisian D...

Tamu di Yogyakarta Lebih Gemar Menghabiskan Malam di  Hotel Berbintang Ketimbang di Hotel Melati.

Tamu di Yogyakarta Lebih Gemar Meng…

Bantul-KoPi| Badan Pusat ...

Donald Trump Pastikan Tanggal Gelaran Pertemuan Dengan Kim Jong.

Donald Trump Pastikan Tanggal Gelar…

Washington-KoPi| Presid...

Polda DIY Gagalkan Operasi Peredaran Tembakau Gorila di Yogyakarta.

Polda DIY Gagalkan Operasi Peredara…

Sleman-kopi| Direktorat R...

Prev Next

Surat Kartini: Kepada Nyonya Abendanon-Mandri #13

Surat Kartini: Kepada Nyonya Abendanon-Mandri #13

18 Februari 1902

Datang sajalah nyonya dan tuan untuk melepas lelah di sini dari kesibukan kota Betawi yang ramai itu. Kami akan menggembirakan nyonya, mengajak nyonya menikmati kehidupan desa yang asli, sangat sejuk, sangat sunyi, tenang dan damai.

Mengenai perkawinan adik, akan saya ceritakan saja. Sungguh, doa adalah mempelai yang manis.

Ia kawin dalam pakaian wayang dan kelihatan cantik sekali. Malam hari pada waktu menerima tamu ia tampil seperti puteri dalam dongeng seribu satu malam. Ia mengenakan cadar dan mahkota emas. Seperti dongeng! Sesuatu yang baru pasti akan ditiru orang. Residen Sijthoff menghadiri seluruh rangkaian upacara. Dia ingin sekali untuk terakhir kali melihat adik seperti masih sebagai gadis.

Dia dan yang lain-lain ingin sekali untuk terakhir kali berjabatan tangan dengan adik seperti masih sebagai gadis, tapi hal itu tidak mungkin. Mereka hanya bisa memberi salam kepadanya dengan mata. Bagaikan patung yang terpahat dari batu duduklah adik di sana di muka pelaminan yang bersinar-sinar keemasan.

Lurus tegak kepalanya terangkat dengan tegap. Pandangan mata lurus ke depan, merenungkan hari depan yang akan segera tersingkap. Lazimnya airmata mengalir, bahkan orang-orang lain terharu. Tapi, baik dia maupun kami berdua tetap tenang, dingin dan tiada bergerak dan tetap demikianlah keadaan kami. Gamelan, musik, dupa dan bau bunga-bungaan tidak mampu menimbulkan rasa haru sedikitpun pada kami. Membayangkan perpisahan di antara kami, orang-orang menjadi ngeri dan tercengang-cengang.

Mula-mula dan sekarang, perhatian orang masih selalu tertarik kepada kami. Orang ingin sekali tahu, bagaimana sikap kami menghadapi perpisahan itu.

Kami masih berbicara dengan residen mengenai rencana kami, malam itu juga. Bayangkan, di tengah-tengah keramaian perayaan kami berbicara tentang perkara yang amat pelik dan amat lembut. Tapi, itu satu-satunya kesempatan untuk berbicara dengan dia seorang diri.

Kami harus cepat-cepat melakukan hal itu. Dan di sekeliling kami banyak orang, sekali lagi banyak orang. Di tengah-tengah dedaunan dan bunga-bungaan, di tengah kilau-kemilau sutera, kecemerlangan emas dan permata, di tengah berdengungnya suara, dalam lautan cahaya, di sana kami duduk memegang gelas sampanye.

Waktu itu tengah malam kami membicarakan soal-soal pelik. Sebelumnya kami tahu bahwa ia akan menertawakan kami dan paling sedikit menganggap kami gila. Kami tidak takut. Mula-mula ia berbicara dengan saya, kemudian dengan Roekmini. Barangkali untuk mengetahui apakah kami saling membeo atau tidak. Kerap kali ia meninggalkan kami dengan perasaan yang tidak terlalu senang. Tapi berkali-kali kembali juga untuk memulai pembicaraannya dari permulaan lagi.

Ada pertanyaan yang hendak saya ajukan ke nyonya. Apabila nyonya bertemu dengan teman nyonya, Dr. Snouck Hurgronje, sudikah nyonya bertanya kepada beliau tentang hal berikut: apakah dalam agama Islam juga ada hukum akil-baliq seperti yang terdapat dalam undang-undang bangsa Barat?

Ataukah sebaiknya saya memberanikan diri langsung bertanya kepada beliau? Saya ingin sekali mengetahui tentang hak dan kewajiban perempuan Islam serta anak perempuannya.

Terakhir, sebagai penutup, saya sesalkan sedalam-dalamnya bahwa HBS Puteri ditutup. Hal itu sungguh keterlaluan.

back to top