Menu
Pakde Karwo: Antara Operator dan Regulator Transportasi Tidak Bisa Dipisahkan

Pakde Karwo: Antara Operator dan Re…

Surabaya-KoPi| Gubernur J...

Nertalitas TNI dalam Pemilu Capres dan Cawapres

Nertalitas TNI dalam Pemilu Capres …

Lembah Tidar-KoPi| Senin ...

Reuni Adem Akabri '86, Ibu ibu melaksanakan Out Bound

Reuni Adem Akabri '86, Ibu ibu mela…

Lembah Tidar-KoPi| Minggu...

Teknik Mesin SV UGM Dukung Program Kampus Sehat dan Bebas Asap Rokok

Teknik Mesin SV UGM Dukung Program …

Jogja-KoPi| Departemen Te...

Teknologi RFID Bantu Lacak Legalitas Kayu

Teknologi RFID Bantu Lacak Legalita…

Bantul-KoPi| Tim Pengabdi...

Pakar UGM Ajak Masyarakat Memanen Air Hujan

Pakar UGM Ajak Masyarakat Memanen A…

Jogja-KoPi| Pakar Hidrolo...

BKP: Indonesia Fokus Pada Peningkatan Kompetitifitas Produk Agrikultur

BKP: Indonesia Fokus Pada Peningkat…

Bantul-KoPI|Pada tahun 20...

UNIVERSITAS MENYAMBUT R.I KEEMPAT

UNIVERSITAS MENYAMBUT R.I KEEMPAT

Oleh Moh. Mudzakkir(Dosen...

Pakde Karwo : 2/3 Perguruan Tinggi Swasta Sumbangkan Kaum Intelektual di Jatim

Pakde Karwo : 2/3 Perguruan Tinggi …

Surabaya-KoPi| Sebanyak 2...

Pengungsi Korban Gempa di Gumantar Banyak Terserang Ispa

Pengungsi Korban Gempa di Gumantar …

Lombok-KoPi| Sebanyak 30 ...

Prev Next

Surat Kartini: Kepada Nona Estella Zeehandelaar #10

Surat Kartini: Kepada Nona Estella Zeehandelaar #10

20 Mei 1910
Sudah amat banyak yang saya tanggung dalam masa muda saya, tetapi itu semuanya bukan apa-apa dibandingkan dengan penanggungan saya pada hari-hari yang mengkhawatirkan selama ayah sakit. Ada jam-jam dimana saya tidak berkemauan. Saya meringkuk dengan gemetar karena sakit batiniah. Bibir yang dengan sombong menyatakan, "apa yang terjadi, terjadilah!" kini bergetar dan gagap: Ya Tuhan, kasihanilah!

Hari ulangtahun saya merupakan perayaan meriah yang berlipat, sambil mensyukuri kesehatan ayah yang telah pulih kembali. Saya memperlihatkan hadiahmu kepada ayah dan mengatakan betapa gembira kamu dengan potretnya. Ayah berbaring di kursi panjang, saya duduk di dekatnya di lantai, tangannya terletak di atas kepala saya, demikianlah ketika saya berbincang dengan beliau tentang kamu.

Ayah tersenyum ketika saya bercerita tentang pernyataan isi hatimu yang penuh semangat dan simpatik terhadap ayah. Dengan senyum seperti itu di bibirnya, dan pasti dengan kenangan atas sanjungan dari teman anaknya tercinta yang jauh itu, ayah saya yangs edang sakit tertidur. Demikian dekat kamu pada saya, pada kami, Stella. Biarlah saya memelukmu dalam angan-angan.

Stella, Stella-ku...ingin sekali saya membuat kamu bahagia dengan surat yang gembira ini. Membuatmu bahagia dengan berita bahwa kami bahagia, bahwa kami telah mencapai tujuan kami! Sayang, yang seharusnya kabar gembira itu akan menjadi satu nyanyian ratapan belaka. Saya tidak suka mengeluh, namun kenyataannya toh harus mengatakannya juga. Secara tiba-tiba terjadi perubahan dalam persoalan kami.

Sekarang persoalannya lebih muskil dari yang pernah terjadi. Bertindak secara cepat sangat perlu sekali, ini soal berdiri atau jatuh, soal kemenangan atau kebinasaan total dan...tangan kami terbelenggu. Ada kewajiban yang suci mulia, yang bernama cinta anak, dan ada pula kejahatan yang hina, menjijikkan, yang disebut egoisme.

Aduh, kadang-kadang sulit menentukan di mana yang baik berakhir dan di mana yang jahat dimulai. Garis batas antara dua hal yang sebenarnya sangat berjauhan itu hampir tidak tampak. Kesehatan ayah adalah segalanya, sehingga segala yang bisa melemahkan hatinya secara hebat, harus disingkirkan. Tahukah kamu, apa itu artinya? Kami tiada berdaya, terserah kepada pengampunan nasib yang buta!

Kami sudah sedemikian dekat pada perwujudan cita-cita kami, dan sekarang kami terpisah lagi teramat jauh, dan ditambah lagi ada sesuatu yang mengerikan yang mengancam kami. Setelah bermimpi yang yang demikian indah tentang keberhasilan menyingkirkan segala rintangan, rasanya terlalu pahit untuk terjaga. Aduhai, dan tentu untuk menghibur dan menggembirakan hati kami, kami harus mendengar bahwa maksud mulia pemerintah akan mendidik anak perempuan bupati-bupati menjadi guru sama sekali tidak akan terjadi.

Kebanyakan bupati yang dimintai pertimbangan mengenai hal itu menyatakan tidak setuju karena berlawanan dengan adat apabila anak-anak perempuan dididik di luar rumah. Hal itu merupakan pukulan keras bagi kami. Semua harapan kami, kami taruhkan pada cita-cita itu.

Selamat jalan sekarang angan-angan hampa! Selamat jalan impian hari depan yang keemasan! Sungguh, itu terlalu indah untuk menjadi kenyataan! Aduh, seadainya mereka tahu apa yang mereka tolak! Tapi sudahlah, tak perlu menyalahkan mereka, yang sama sekali tidak bisa menghargai maksud pemerintah yang bertujuan memajukan anak perempuan mereka sendiri.

Untuk dapat menghargai, orang harus mengerti dulu. Tapi, bagaimana mereka bisa mengerti keinginan dan hasrat hati angkatan muda kami yang modern, jika mereka tidak pernah mengetahui sesuatu yang lain?
Sedangkan di Eropa saja yang sudah maju, pusat peradaban, sumber cahaya, perjuangan merebut hak perempuan masih sehebat dan sesengit itu!

Sekarang saya harus menutup mulut, atau tidak mengangkat pena. Saya tidak boleh mengatakan pendapat saya mengenai perkara-perkara yang penting itu, minimal tidak boleh melalui surat kabar.

Apa yang selama ini saya tulis untuk umum hanyalah sekedar yang bukan-bukan, kesan-kesan tentang kejadian yang satu atau yang lain. Persoalan-persoalan yang penting tidak boleh saya singgung! Nanti, di kemudian hari bila kami telah memperjuangkan diri lepas sama sekali dari cengkeraman besi adat kebiasaan yang berabad-abad lamanya, (adat ini kami patuhi hanya karena cinta kami kepada orangtua kami), keadaannya akan menjadi lain. Ayah tidak suka anak-anak perempuannya menjadi buah bibir orang. apabila saya sudah merdeka sama sekali, boleh saya menyatakan pendapat saya.

back to top