Menu
Pakde Karwo: Antara Operator dan Regulator Transportasi Tidak Bisa Dipisahkan

Pakde Karwo: Antara Operator dan Re…

Surabaya-KoPi| Gubernur J...

Nertalitas TNI dalam Pemilu Capres dan Cawapres

Nertalitas TNI dalam Pemilu Capres …

Lembah Tidar-KoPi| Senin ...

Reuni Adem Akabri '86, Ibu ibu melaksanakan Out Bound

Reuni Adem Akabri '86, Ibu ibu mela…

Lembah Tidar-KoPi| Minggu...

Teknik Mesin SV UGM Dukung Program Kampus Sehat dan Bebas Asap Rokok

Teknik Mesin SV UGM Dukung Program …

Jogja-KoPi| Departemen Te...

Teknologi RFID Bantu Lacak Legalitas Kayu

Teknologi RFID Bantu Lacak Legalita…

Bantul-KoPi| Tim Pengabdi...

Pakar UGM Ajak Masyarakat Memanen Air Hujan

Pakar UGM Ajak Masyarakat Memanen A…

Jogja-KoPi| Pakar Hidrolo...

BKP: Indonesia Fokus Pada Peningkatan Kompetitifitas Produk Agrikultur

BKP: Indonesia Fokus Pada Peningkat…

Bantul-KoPI|Pada tahun 20...

UNIVERSITAS MENYAMBUT R.I KEEMPAT

UNIVERSITAS MENYAMBUT R.I KEEMPAT

Oleh Moh. Mudzakkir(Dosen...

Pakde Karwo : 2/3 Perguruan Tinggi Swasta Sumbangkan Kaum Intelektual di Jatim

Pakde Karwo : 2/3 Perguruan Tinggi …

Surabaya-KoPi| Sebanyak 2...

Pengungsi Korban Gempa di Gumantar Banyak Terserang Ispa

Pengungsi Korban Gempa di Gumantar …

Lombok-KoPi| Sebanyak 30 ...

Prev Next

Jokowi di antara busana dan kritik Michael

Jokowi di antara busana dan kritik Michael

KoPi| Penampilan busana Presiden Jokowi saat sesi foto resmi bersama Sultan Hassanal Bolkiah di Brunai pekan lalu mendapatkan kritik keras warga masyarakat. Netizen dan masyarakat menggambarkan cara berbusana Presiden RI ke 7 sebagai hal memalukan.

Perancang busana kondang dari Jogja Michael, misalnya, berpendapat cara busana Bapak dan Ibu Negara RI ini harus lebih diperhatikan sisi estetikanya. Menurutnya penampilan seorang menjadi simbol hati. Baik buruk penampilan bisa mencerminkan kepribadian seseorang. Meskipun juga, penampilan, di sisi lain merupakan cara artifisial karena kebutuhan tertentu seperti orang-orang di bidang marketing.

“Penampilan itu bisa dibilang memiliki dua arti; yang pertama mendukung menjadi karakter yang baik atau yang kedua membuat karakter untuk menutup dirinya sendiri.  Penampilan itu seperti casing, orang melihat dari penampilannya terlebih dahulu. Padahal kita kalau mau melihat orang baik itu dari cara berbicara,” ujarnya.

Dalam pandangan Michael, sebenarnya penampilan Jokowi tidak terlalu buruk, hanya kurang modis. Ia lebih suka penampilan Presiden Soeharto di masa lalu. Soeharto dinilai lebih bisa menempatkan diri dan terlihat modis pada setiap acara kenegaraan. Penampilan Jokowi yang tampak tidak rapi dalam sesi foto resmi itu menjadi tanda tanya. Bukankah ada pengarah fotografinya di sana.

“Menurut saya sebagai kepala negara seharusnya mencerminkan diri kita siapa, karena ada penata busana di dalam setiap kegiatan kenegaraan, yang menata busana presiden dan ada dana yang dianggarkan untuk keperluan busana.

Jas ada etikanya, jas internasional itu harus dikancing, karena itu pakaian yang formal dan resmi sekali. Kecuali kita bertemu dengan sesama teman, tapi kalau kita sebagai pejabat Negara, kunjungan kenegaraan itu harus dikancing semuanya. Kecuali jas blazer ya pakai kaos itu gak dikancing gak masalah.

“Menanggapi kesan merakyat dari penampilan Jokowi, Michael mengatakan boleh saja, tetapi penampilan yang modis dan rapi tidak harus mahal. Kesan merakyat juga terbantahkan ketika Jokowi menggunakan mobil Mercy.

“Itu bukan sederhana menurut saya, kalau sederhana ya harusnya tidak naik Mercy tapi naik saja Camry atau mungkin yang merakyat lah. Itu sudah merupakan tanda kutip.”

Michael kemudian menceritkan ketika acara penganten di Jogja yang kebetulan dia menjadi perancang busana Gubenur Riau, ia melihat Jokowi dan Iriana Widodo kurang berpenampilan menarik dan kalah dengan Megawati atau bahkan ibu-ibu biasa.

“Sederhana boleh tetapi sampai batas mana kesederahaannya itu? Yang saya sayangkan Bu Iriana ketika kampanye mengenakan hijab kenapa sekarang dibuka? Maksudnya apa?| Wulan

back to top