Menu
RUU Permusikan dan Kebrutalan Spirit Kapitalisme

RUU Permusikan dan Kebrutalan Spiri…

Anang Hermansyah, anggota...

Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Perda Trantibmumlinmas

Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Per…

Surabaya-KoPi| Gubernur J...

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Indonesia Kian Hari Kian Memprihatinkan

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Ind…

Bantul-KoPi| Di dalam eko...

Masih Banyak Kekeliruan Informasi Dalam Sikapi Bencana

Masih Banyak Kekeliruan Informasi D…

Bantul-KoPi| Bencana alam...

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang Olahraga ke UGM

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang…

Jogja-KoPi| Kementerian P...

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan Baru

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan B…

Jogja-KoPi| Fakultas Kedo...

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Bekas Untuk Tingkatkan Mutu Jalan Rel Kereta Api di Indonesia

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Be…

Bantul-KoPi| Mengacu dari...

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancangan Mahasiswa UGM Raih Penghargaan di Seoul

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancanga…

Jogja-KoPi| Sepatu buatan...

Konsekuensi Pembangunan Infrastruktur

Konsekuensi Pembangunan Infrastrukt…

Oleh: Novri Susan (Sosiol...

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Prev Next

Jokowi di antara busana dan kritik Michael

Jokowi di antara busana dan kritik Michael

KoPi| Penampilan busana Presiden Jokowi saat sesi foto resmi bersama Sultan Hassanal Bolkiah di Brunai pekan lalu mendapatkan kritik keras warga masyarakat. Netizen dan masyarakat menggambarkan cara berbusana Presiden RI ke 7 sebagai hal memalukan.

Perancang busana kondang dari Jogja Michael, misalnya, berpendapat cara busana Bapak dan Ibu Negara RI ini harus lebih diperhatikan sisi estetikanya. Menurutnya penampilan seorang menjadi simbol hati. Baik buruk penampilan bisa mencerminkan kepribadian seseorang. Meskipun juga, penampilan, di sisi lain merupakan cara artifisial karena kebutuhan tertentu seperti orang-orang di bidang marketing.

“Penampilan itu bisa dibilang memiliki dua arti; yang pertama mendukung menjadi karakter yang baik atau yang kedua membuat karakter untuk menutup dirinya sendiri.  Penampilan itu seperti casing, orang melihat dari penampilannya terlebih dahulu. Padahal kita kalau mau melihat orang baik itu dari cara berbicara,” ujarnya.

Dalam pandangan Michael, sebenarnya penampilan Jokowi tidak terlalu buruk, hanya kurang modis. Ia lebih suka penampilan Presiden Soeharto di masa lalu. Soeharto dinilai lebih bisa menempatkan diri dan terlihat modis pada setiap acara kenegaraan. Penampilan Jokowi yang tampak tidak rapi dalam sesi foto resmi itu menjadi tanda tanya. Bukankah ada pengarah fotografinya di sana.

“Menurut saya sebagai kepala negara seharusnya mencerminkan diri kita siapa, karena ada penata busana di dalam setiap kegiatan kenegaraan, yang menata busana presiden dan ada dana yang dianggarkan untuk keperluan busana.

Jas ada etikanya, jas internasional itu harus dikancing, karena itu pakaian yang formal dan resmi sekali. Kecuali kita bertemu dengan sesama teman, tapi kalau kita sebagai pejabat Negara, kunjungan kenegaraan itu harus dikancing semuanya. Kecuali jas blazer ya pakai kaos itu gak dikancing gak masalah.

“Menanggapi kesan merakyat dari penampilan Jokowi, Michael mengatakan boleh saja, tetapi penampilan yang modis dan rapi tidak harus mahal. Kesan merakyat juga terbantahkan ketika Jokowi menggunakan mobil Mercy.

“Itu bukan sederhana menurut saya, kalau sederhana ya harusnya tidak naik Mercy tapi naik saja Camry atau mungkin yang merakyat lah. Itu sudah merupakan tanda kutip.”

Michael kemudian menceritkan ketika acara penganten di Jogja yang kebetulan dia menjadi perancang busana Gubenur Riau, ia melihat Jokowi dan Iriana Widodo kurang berpenampilan menarik dan kalah dengan Megawati atau bahkan ibu-ibu biasa.

“Sederhana boleh tetapi sampai batas mana kesederahaannya itu? Yang saya sayangkan Bu Iriana ketika kampanye mengenakan hijab kenapa sekarang dibuka? Maksudnya apa?| Wulan

back to top