Menu
Basarnas Fokuskan Pengamanan Wisata Pantai Selatan

Basarnas Fokuskan Pengamanan Wisata…

Jogja-KoPi| Tim Search An...

PBB:Serangan Lanjut ke Hudaida Yaman berdampak ke Bencana Kemanusiaan yang Lebih Besar

PBB:Serangan Lanjut ke Hudaida Yama…

Yaman-KoPi| Persatuan Ban...

Tahun 2018 Kasus Demam Berdarah Cenderung Turun.

Tahun 2018 Kasus Demam Berdarah Cen…

Sleman-KoPi| Memasuki per...

Mahasiswa UGM Inovasikan Limbah Cangkang Udang Menjadi Closet Sanitizer Berbahan 100% non Alkohol.

Mahasiswa UGM Inovasikan Limbah Can…

Sleman-KoPi| Lima Mahasis...

Gubernur DIY: Jalan Alternatif Gunung Merapi tidak di tutup Tapi kalau naik Gunung harap Waspada

Gubernur DIY: Jalan Alternatif Gunu…

Sleman-KoPi| Gubernur Dae...

Operasi Ketupat 2018, Polda DIY Berfokus Pada 4 Potensi Kerawanan saat Lebaran.

Operasi Ketupat 2018, Polda DIY Ber…

Sleman-KoPi| Kepolisian D...

Tamu di Yogyakarta Lebih Gemar Menghabiskan Malam di  Hotel Berbintang Ketimbang di Hotel Melati.

Tamu di Yogyakarta Lebih Gemar Meng…

Bantul-KoPi| Badan Pusat ...

Donald Trump Pastikan Tanggal Gelaran Pertemuan Dengan Kim Jong.

Donald Trump Pastikan Tanggal Gelar…

Washington-KoPi| Presid...

Polda DIY Gagalkan Operasi Peredaran Tembakau Gorila di Yogyakarta.

Polda DIY Gagalkan Operasi Peredara…

Sleman-kopi| Direktorat R...

Keamanan di Bandara Adi Sutjipto Ketat Dengan Terjunnya 29 Ekor Anjing Pelacak dan Body Scanner.

Keamanan di Bandara Adi Sutjipto Ke…

Sleman-KoPi| Komandan sat...

Prev Next

Film, perempuan dan stereotipe

Film, perempuan dan stereotipe

Jogjakarta-KoPi| Dalam dunia perfilman perempuan menjadi istilah yang sangat penting. Istilah perempuan merujuk pada peran perempuan di dalam layar maupun di luar film. Hal inilah yang menarik bagi antropolog asal Belanda, Felicia Hughes Freeland meneliti film perempuan di Indonesia.

Dalam dialog bersama “Women’s Creativity in Indonesian Cinema di Pusat Studi Kebudayaan UGM, Felicia memaparkan makna perempuan dalam film. Menurutnya ada perubahan positif dari perkembangan film Indonesia. Selama masa orde Baru kebanyakan film menampilkan subordinat perempuan.

“Selama orde baru, film menampilkan dua stereotipe tentang perempuan. Pertama, posisi perempuan yang selalu menerima, seringkali menjadi korban. Kedua menggambarkan perempuan yang rewel. Keduanya menggambarkan perempuan biasa dalam kehidupan sehari-hari. Namun setelah reformasi terdapat eksplorasi lebih dalam film perempuan. Bukan lagi sebatas cerita antara laki-laki dan perempuan“, papar Felicia.

Terlepas dari tema perempuan, Felicia sangat apresiatif dengan film- film saat ini. Film setelah reformasi tidak hanya mencerminkan kondisi sosial namun mengandung nilai-nilai kehidupan yang dalam. Seperti film Arisan dan film ‘Tanah Mama’ yang menceritakan perjuangan perempuan Papua.

Meskipun perkembangan film Indonesia terbilang sukses namun Felicia menyayangkan kontribusi perempuan dalam film relatif sedikit. “Saat ini masih sangat sedikit perempuan yang menjadi sutradara film bahkan di dunia sekalipun. Pemenang Oscar kemarin saja, perempuan itu sebagai writer, dan itu untuk film maskulin tentang perang Irak bukan film bertema perempuan”.|Winda Efanur FS|

back to top