Menu
Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu Evakuasi Korban Bencana di Sulteng

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu …

Sulawesi Tengah-KoPi|&nbs...

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar Tiban karya Anne Avantie

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar …

Surabaya-KoPi| Ketua Umum...

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi dalam Tantangan Kemajuan Ekonomi Digital

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi…

Jogja-KoPi| Fakultas Ekon...

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mulai Makan Korban

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mula…

Jogja-KoPi| Lembaga Konsu...

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Thailand

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Tha…

Bantul-KoPi| Universitas ...

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo Serukan Damai dan Berbudaya di Ranah Maya

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo S…

Jogja-KoPi|  – Selas...

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Politik Bahas Perkembangan Politik Nasional

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Po…

Jogja-KoPi| Fakultas Ilmu...

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan Solusi​ Online​ untuk UKM

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan …

Jogja-KoPi| Setelah sukse...

Doa bersama Memperingati Hari Kesaktian Pancasila di Masjid Al-Jihad Akmil Magelang

Doa bersama Memperingati Hari Kesak…

KoPi-Lembah Tidar. Minggu...

Prev Next

"Aku menemukan tempat nyaman dan mengobati"

"Aku menemukan tempat nyaman dan mengobati"

“Zahra, cobalah kau ke Surabaya Skin Centre. Kau kan akan kuliah di Surabaya. Siapa tahu dokter di sana bisa bisa menangani tanda lahirmu,” ucap ayahku suatu hari.

Ketika itu, aku sedang bersiap-siap untuk mulai kuliah di Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga Surabaya.

Dalam hati aku merasa enggan. Mungkin karena sudah terbiasa dengan kondisiku. Sudah sejak SMP aku pasrah dan menerima tanda lahir yang ada di wajahku ini. Sehingga ketika ayahku menyarankan untuk memeriksakannya di sebuah klinik di Surabaya, aku merasa ragu.

“Klinik apa itu, Yah?”

“Klinik spesialis kulit dan kelamin. Ayah dengar dari teman-teman ayah, mereka memakai teknologi laser. Cobalah,” jawab ayahku.

Laser. Aku belum pernah tahu bagaimana wujudnya, karena memang teknologi itu masih baru di Indonesia. Di Malang sendiri belum ada klinik atau rumah sakit yang memiliki teknologi tersebut. Ayahku seorang dokter spesialis penyakit dalam, tapi nampaknya ia sendiri belum pernah melihat secara langsung dampak teknologi itu.

“Iya, Yah, nanti biar Zahra coba,” jawabku.

Namun ucapan tetap saja hanya di mulut. Begitu masuk kuliah, kesibukanku ternyata meningkat. Mulai dari mempersiapkan diri mengikuti orientasi, menyiapkan mata kuliah, beradaptasi dengan pelajaran dan lingkungan baru, hingga tugas-tugas kuliah. Tak pelak, janjiku pada ayah untuk mengunjungi Surabaya Skin Centre mulai terlupakan.

“Zahra, katanya mau periksa ke klinik yang disarankan ayah. Kapan kamu ke sana?” tegur ayahku setiap kali aku pulang ke Malang.

“Iya, Yah, Zahra masih sibuk. Masih belum sempat ke mana-mana,” tukasku.

“Sempatkan lah. Kan sayang dengan wajahmu kalau terus ada tanda lahir itu. Nanti ayah temani,” pinta ayah.

Sepertinya aku memang tak bisa mengelak lagi, sehingga ketika masuk semester tiga kuliah, kuputuskan untuk pergi klinik kesehatan kulit tersebut bersama ayahku. Bersambung ke "Aku kini menjadi diri yang percaya diri"

back to top