Menu
RUU Permusikan dan Kebrutalan Spirit Kapitalisme

RUU Permusikan dan Kebrutalan Spiri…

Anang Hermansyah, anggota...

Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Perda Trantibmumlinmas

Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Per…

Surabaya-KoPi| Gubernur J...

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Indonesia Kian Hari Kian Memprihatinkan

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Ind…

Bantul-KoPi| Di dalam eko...

Masih Banyak Kekeliruan Informasi Dalam Sikapi Bencana

Masih Banyak Kekeliruan Informasi D…

Bantul-KoPi| Bencana alam...

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang Olahraga ke UGM

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang…

Jogja-KoPi| Kementerian P...

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan Baru

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan B…

Jogja-KoPi| Fakultas Kedo...

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Bekas Untuk Tingkatkan Mutu Jalan Rel Kereta Api di Indonesia

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Be…

Bantul-KoPi| Mengacu dari...

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancangan Mahasiswa UGM Raih Penghargaan di Seoul

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancanga…

Jogja-KoPi| Sepatu buatan...

Konsekuensi Pembangunan Infrastruktur

Konsekuensi Pembangunan Infrastrukt…

Oleh: Novri Susan (Sosiol...

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Prev Next

"Aku menemukan tempat nyaman dan mengobati"

"Aku menemukan tempat nyaman dan mengobati"

“Zahra, cobalah kau ke Surabaya Skin Centre. Kau kan akan kuliah di Surabaya. Siapa tahu dokter di sana bisa bisa menangani tanda lahirmu,” ucap ayahku suatu hari.

Ketika itu, aku sedang bersiap-siap untuk mulai kuliah di Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga Surabaya.

Dalam hati aku merasa enggan. Mungkin karena sudah terbiasa dengan kondisiku. Sudah sejak SMP aku pasrah dan menerima tanda lahir yang ada di wajahku ini. Sehingga ketika ayahku menyarankan untuk memeriksakannya di sebuah klinik di Surabaya, aku merasa ragu.

“Klinik apa itu, Yah?”

“Klinik spesialis kulit dan kelamin. Ayah dengar dari teman-teman ayah, mereka memakai teknologi laser. Cobalah,” jawab ayahku.

Laser. Aku belum pernah tahu bagaimana wujudnya, karena memang teknologi itu masih baru di Indonesia. Di Malang sendiri belum ada klinik atau rumah sakit yang memiliki teknologi tersebut. Ayahku seorang dokter spesialis penyakit dalam, tapi nampaknya ia sendiri belum pernah melihat secara langsung dampak teknologi itu.

“Iya, Yah, nanti biar Zahra coba,” jawabku.

Namun ucapan tetap saja hanya di mulut. Begitu masuk kuliah, kesibukanku ternyata meningkat. Mulai dari mempersiapkan diri mengikuti orientasi, menyiapkan mata kuliah, beradaptasi dengan pelajaran dan lingkungan baru, hingga tugas-tugas kuliah. Tak pelak, janjiku pada ayah untuk mengunjungi Surabaya Skin Centre mulai terlupakan.

“Zahra, katanya mau periksa ke klinik yang disarankan ayah. Kapan kamu ke sana?” tegur ayahku setiap kali aku pulang ke Malang.

“Iya, Yah, Zahra masih sibuk. Masih belum sempat ke mana-mana,” tukasku.

“Sempatkan lah. Kan sayang dengan wajahmu kalau terus ada tanda lahir itu. Nanti ayah temani,” pinta ayah.

Sepertinya aku memang tak bisa mengelak lagi, sehingga ketika masuk semester tiga kuliah, kuputuskan untuk pergi klinik kesehatan kulit tersebut bersama ayahku. Bersambung ke "Aku kini menjadi diri yang percaya diri"

back to top