Menu
Mendesa RI bersama Rektor UGM melepas 5.992 Peserta KKN PPM 2018 ke 34 Provinsi.

Mendesa RI bersama Rektor UGM melep…

 Sleman-KoPi| Rektor UG...

Basarnas Fokuskan Pengamanan Wisata Pantai Selatan

Basarnas Fokuskan Pengamanan Wisata…

Jogja-KoPi| Tim Search An...

PBB:Serangan Lanjut ke Hudaida Yaman berdampak ke Bencana Kemanusiaan yang Lebih Besar

PBB:Serangan Lanjut ke Hudaida Yama…

Yaman-KoPi| Persatuan Ban...

Tahun 2018 Kasus Demam Berdarah Cenderung Turun.

Tahun 2018 Kasus Demam Berdarah Cen…

Sleman-KoPi| Memasuki per...

Mahasiswa UGM Inovasikan Limbah Cangkang Udang Menjadi Closet Sanitizer Berbahan 100% non Alkohol.

Mahasiswa UGM Inovasikan Limbah Can…

Sleman-KoPi| Lima Mahasis...

Gubernur DIY: Jalan Alternatif Gunung Merapi tidak di tutup Tapi kalau naik Gunung harap Waspada

Gubernur DIY: Jalan Alternatif Gunu…

Sleman-KoPi| Gubernur Dae...

Operasi Ketupat 2018, Polda DIY Berfokus Pada 4 Potensi Kerawanan saat Lebaran.

Operasi Ketupat 2018, Polda DIY Ber…

Sleman-KoPi| Kepolisian D...

Tamu di Yogyakarta Lebih Gemar Menghabiskan Malam di  Hotel Berbintang Ketimbang di Hotel Melati.

Tamu di Yogyakarta Lebih Gemar Meng…

Bantul-KoPi| Badan Pusat ...

Donald Trump Pastikan Tanggal Gelaran Pertemuan Dengan Kim Jong.

Donald Trump Pastikan Tanggal Gelar…

Washington-KoPi| Presid...

Polda DIY Gagalkan Operasi Peredaran Tembakau Gorila di Yogyakarta.

Polda DIY Gagalkan Operasi Peredara…

Sleman-kopi| Direktorat R...

Prev Next

"Aku menemukan tempat nyaman dan mengobati"

"Aku menemukan tempat nyaman dan mengobati"

“Zahra, cobalah kau ke Surabaya Skin Centre. Kau kan akan kuliah di Surabaya. Siapa tahu dokter di sana bisa bisa menangani tanda lahirmu,” ucap ayahku suatu hari.

Ketika itu, aku sedang bersiap-siap untuk mulai kuliah di Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga Surabaya.

Dalam hati aku merasa enggan. Mungkin karena sudah terbiasa dengan kondisiku. Sudah sejak SMP aku pasrah dan menerima tanda lahir yang ada di wajahku ini. Sehingga ketika ayahku menyarankan untuk memeriksakannya di sebuah klinik di Surabaya, aku merasa ragu.

“Klinik apa itu, Yah?”

“Klinik spesialis kulit dan kelamin. Ayah dengar dari teman-teman ayah, mereka memakai teknologi laser. Cobalah,” jawab ayahku.

Laser. Aku belum pernah tahu bagaimana wujudnya, karena memang teknologi itu masih baru di Indonesia. Di Malang sendiri belum ada klinik atau rumah sakit yang memiliki teknologi tersebut. Ayahku seorang dokter spesialis penyakit dalam, tapi nampaknya ia sendiri belum pernah melihat secara langsung dampak teknologi itu.

“Iya, Yah, nanti biar Zahra coba,” jawabku.

Namun ucapan tetap saja hanya di mulut. Begitu masuk kuliah, kesibukanku ternyata meningkat. Mulai dari mempersiapkan diri mengikuti orientasi, menyiapkan mata kuliah, beradaptasi dengan pelajaran dan lingkungan baru, hingga tugas-tugas kuliah. Tak pelak, janjiku pada ayah untuk mengunjungi Surabaya Skin Centre mulai terlupakan.

“Zahra, katanya mau periksa ke klinik yang disarankan ayah. Kapan kamu ke sana?” tegur ayahku setiap kali aku pulang ke Malang.

“Iya, Yah, Zahra masih sibuk. Masih belum sempat ke mana-mana,” tukasku.

“Sempatkan lah. Kan sayang dengan wajahmu kalau terus ada tanda lahir itu. Nanti ayah temani,” pinta ayah.

Sepertinya aku memang tak bisa mengelak lagi, sehingga ketika masuk semester tiga kuliah, kuputuskan untuk pergi klinik kesehatan kulit tersebut bersama ayahku. Bersambung ke "Aku kini menjadi diri yang percaya diri"

back to top