Menu
Pakde Karwo: Antara Operator dan Regulator Transportasi Tidak Bisa Dipisahkan

Pakde Karwo: Antara Operator dan Re…

Surabaya-KoPi| Gubernur J...

Nertalitas TNI dalam Pemilu Capres dan Cawapres

Nertalitas TNI dalam Pemilu Capres …

Lembah Tidar-KoPi| Senin ...

Reuni Adem Akabri '86, Ibu ibu melaksanakan Out Bound

Reuni Adem Akabri '86, Ibu ibu mela…

Lembah Tidar-KoPi| Minggu...

Teknik Mesin SV UGM Dukung Program Kampus Sehat dan Bebas Asap Rokok

Teknik Mesin SV UGM Dukung Program …

Jogja-KoPi| Departemen Te...

Teknologi RFID Bantu Lacak Legalitas Kayu

Teknologi RFID Bantu Lacak Legalita…

Bantul-KoPi| Tim Pengabdi...

Pakar UGM Ajak Masyarakat Memanen Air Hujan

Pakar UGM Ajak Masyarakat Memanen A…

Jogja-KoPi| Pakar Hidrolo...

BKP: Indonesia Fokus Pada Peningkatan Kompetitifitas Produk Agrikultur

BKP: Indonesia Fokus Pada Peningkat…

Bantul-KoPI|Pada tahun 20...

UNIVERSITAS MENYAMBUT R.I KEEMPAT

UNIVERSITAS MENYAMBUT R.I KEEMPAT

Oleh Moh. Mudzakkir(Dosen...

Pakde Karwo : 2/3 Perguruan Tinggi Swasta Sumbangkan Kaum Intelektual di Jatim

Pakde Karwo : 2/3 Perguruan Tinggi …

Surabaya-KoPi| Sebanyak 2...

Pengungsi Korban Gempa di Gumantar Banyak Terserang Ispa

Pengungsi Korban Gempa di Gumantar …

Lombok-KoPi| Sebanyak 30 ...

Prev Next

"Aku menemukan tempat nyaman dan mengobati"

"Aku menemukan tempat nyaman dan mengobati"

“Zahra, cobalah kau ke Surabaya Skin Centre. Kau kan akan kuliah di Surabaya. Siapa tahu dokter di sana bisa bisa menangani tanda lahirmu,” ucap ayahku suatu hari.

Ketika itu, aku sedang bersiap-siap untuk mulai kuliah di Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga Surabaya.

Dalam hati aku merasa enggan. Mungkin karena sudah terbiasa dengan kondisiku. Sudah sejak SMP aku pasrah dan menerima tanda lahir yang ada di wajahku ini. Sehingga ketika ayahku menyarankan untuk memeriksakannya di sebuah klinik di Surabaya, aku merasa ragu.

“Klinik apa itu, Yah?”

“Klinik spesialis kulit dan kelamin. Ayah dengar dari teman-teman ayah, mereka memakai teknologi laser. Cobalah,” jawab ayahku.

Laser. Aku belum pernah tahu bagaimana wujudnya, karena memang teknologi itu masih baru di Indonesia. Di Malang sendiri belum ada klinik atau rumah sakit yang memiliki teknologi tersebut. Ayahku seorang dokter spesialis penyakit dalam, tapi nampaknya ia sendiri belum pernah melihat secara langsung dampak teknologi itu.

“Iya, Yah, nanti biar Zahra coba,” jawabku.

Namun ucapan tetap saja hanya di mulut. Begitu masuk kuliah, kesibukanku ternyata meningkat. Mulai dari mempersiapkan diri mengikuti orientasi, menyiapkan mata kuliah, beradaptasi dengan pelajaran dan lingkungan baru, hingga tugas-tugas kuliah. Tak pelak, janjiku pada ayah untuk mengunjungi Surabaya Skin Centre mulai terlupakan.

“Zahra, katanya mau periksa ke klinik yang disarankan ayah. Kapan kamu ke sana?” tegur ayahku setiap kali aku pulang ke Malang.

“Iya, Yah, Zahra masih sibuk. Masih belum sempat ke mana-mana,” tukasku.

“Sempatkan lah. Kan sayang dengan wajahmu kalau terus ada tanda lahir itu. Nanti ayah temani,” pinta ayah.

Sepertinya aku memang tak bisa mengelak lagi, sehingga ketika masuk semester tiga kuliah, kuputuskan untuk pergi klinik kesehatan kulit tersebut bersama ayahku. Bersambung ke "Aku kini menjadi diri yang percaya diri"

back to top