Menu
Pakde Karwo: Antara Operator dan Regulator Transportasi Tidak Bisa Dipisahkan

Pakde Karwo: Antara Operator dan Re…

Surabaya-KoPi| Gubernur J...

Nertalitas TNI dalam Pemilu Capres dan Cawapres

Nertalitas TNI dalam Pemilu Capres …

Lembah Tidar-KoPi| Senin ...

Reuni Adem Akabri '86, Ibu ibu melaksanakan Out Bound

Reuni Adem Akabri '86, Ibu ibu mela…

Lembah Tidar-KoPi| Minggu...

Teknik Mesin SV UGM Dukung Program Kampus Sehat dan Bebas Asap Rokok

Teknik Mesin SV UGM Dukung Program …

Jogja-KoPi| Departemen Te...

Teknologi RFID Bantu Lacak Legalitas Kayu

Teknologi RFID Bantu Lacak Legalita…

Bantul-KoPi| Tim Pengabdi...

Pakar UGM Ajak Masyarakat Memanen Air Hujan

Pakar UGM Ajak Masyarakat Memanen A…

Jogja-KoPi| Pakar Hidrolo...

BKP: Indonesia Fokus Pada Peningkatan Kompetitifitas Produk Agrikultur

BKP: Indonesia Fokus Pada Peningkat…

Bantul-KoPI|Pada tahun 20...

UNIVERSITAS MENYAMBUT R.I KEEMPAT

UNIVERSITAS MENYAMBUT R.I KEEMPAT

Oleh Moh. Mudzakkir(Dosen...

Pakde Karwo : 2/3 Perguruan Tinggi Swasta Sumbangkan Kaum Intelektual di Jatim

Pakde Karwo : 2/3 Perguruan Tinggi …

Surabaya-KoPi| Sebanyak 2...

Pengungsi Korban Gempa di Gumantar Banyak Terserang Ispa

Pengungsi Korban Gempa di Gumantar …

Lombok-KoPi| Sebanyak 30 ...

Prev Next

"Aku kini menjadi diriku yang percaya diri"

"Aku kini menjadi diriku yang percaya diri"

Nyaman.

Itu kesan pertama ketika aku memasuki Surabaya Skin Centre. Ruang tunggunya didesain seperti ruang tamu, dengan sofa berderet, sehingga pasien yang menunggu bisa duduk dengan nyaman. Aku dan ayahku yang menuju ke meja depan langsung disambut oleh resepsionis yang ramah. Setelah menjelaskan kondisiku, resepsionis membuatkan janji bertemu dengan Dr. M. Y. Listiawan.

Kesan pertama yang kutangkap dari pertemuan pertama dengan dokter senior tersebut adalah ramah. Dr. Listiawan tak hanya menerangkan terapi yang bisa dilakukan di Surabaya Skin Centre, tetapi juga menimpalinya dengan sedikit canda. Aku yang saat pertama masuk merasa takut dengan terapi baru tersebut dibuatnya merasa rileks.

Ayahku bertanya dengan detail berbagai hal mengenai teknologi laser, mulai dari manfaat, batasan, hingga efeknya. Maklum, sebagai seorang dokter ia harus tahu persis penanganan medis apa yang akan aku dapatkan. Dr. Listiawan tak keberatan dengan semua pertanyaan ayahku, bahkan ia menerangkannya dengan detail, sambil menyusupkan sedikit canda. Aku dan ayahku akhirnya memutuskan untuk mencoba terapi laser tersebut untuk mengatasi nevus melanositik di wajahku.

Tibalah saat terapi pertama. Aku sungguh takut, karena memang baru kali ini berhadapan dengan teknologi laser. Terbayang di benakku sinar laser di film-film fiksi ilmiah yang akan membakar kulitku. Hatiku semakin ciut ketika masuk ke ruang perawatan laser di Surabaya Skin Centre.

Tapi tampaknya Dr. Listiawan menyadari ketakutanku. Bukannya memintaku masuk ke ruang perawatan seorang diri, ia meminta ayah ikut masuk juga. Dr. Listiawan meminta agar ayahku mendampingiku agar aku merasa lebih rileks. Dr. Listiawan bahkan mengijinkan ayahku memegang tanganku untuk menguatkanku selama terapi. Berkat itu, aku jadi lebih tenang sewaktu menjalani terapi.

Ternyata peralatan laser yang dipakai Dr. Listiawan tidak semenyeramkan bayanganku. Alat itu sederhana, kecil, dan berwarna putih. Tidak nampak seperti peralatan atau senjata laser di film-film fiksi ilmiah. Sebaliknya, ada semacam senter yang tersambung dengan kabel sebagai tempat menyinarkan laser. Namun Dr. Listiawan mengatakan, alat itu mampu menghilangkan tanda lahir yang selama ini kualami.

Sesuai kata Dr. Listiawan, laser terapi yang aku jalani memang tidak serta merta menghilangkan tanda lahir di wajahku. Ia mengatakan, perlu setidaknya 20 kali terapi hingga tanda lahir tersebut memudar. “Pokoknya, targetnya supaya tanda lahir itu tidak hitam pekat,” begitu ucapnya.

Awal terapi dengan laser memang terasa sakit. Tapi hal itu lebih baik daripada penanganan konvensional. Sebelum ini, aku dan ayahku percaya satu-satunya cara untuk menghilangkan tanda lahir di wajahku hanyalah dengan pembedahan. Efeknya, tentu saja ada bekas luka di wajah. Dr. Listiawan meyakinkanku dan ayahku bahwa terapi laser tidak meninggalkan bekas luka.

Namun, tantangan yang paling berat kurasakan adalah pasca terapi. Area yang dilaser terasa panas dan perih setelah terapi. Untungnya Dr. Listiawan juga meresepkan obat untuk mengatasi persoalan itu. Ada obat yang diminum untuk menguatkan kulit setelah dilaser.

Hebatnya, Dr. Listiawan langsung tahu kalau aku tidak meminum obat itu. Namanya juga manusia, kadang terlupa atau malas meminum obat itu secara rutin. Jika aku lupa minum obat itu lalu datang untuk menjalani terapi, Dr. Listiawan langsung tahu. Menurutnya, kulitku jadi tidak kuat ketika menjalani terapi dan jadi mudah berdarah.

Tak terasa sudah hampir empat tahun sejak aku pertama kali menjalani terapi tersebut. Kini, kupu-kupu hitam di wajahku telah memudar. Ayahku yang awalnya masih khawatir dan selalu memantau perkembangan terapi dengan datang langsung ke klinik kini sudah benar-benar percaya dengan teknologi itu. Kini, ia hanya perlu mengecek keadaanku dan memintaku mengikuti perintah Dr. Listiawan.

Awal terapi yang terasa berat dapat kulalui, berkat dukungan keluargaku, dokter, dan seluruh staff di Surabaya Skin Centre. Keramahan mereka membuatku merasa Surabaya Skin Centre adalah bagian dari keluarga. Surabaya Skin Centre buatku tak lagi sekedar klinik tempatku menjalani terapi, tapi juga tempat mencurahkan hati. Saat aku sedang galau, tak jarang aku mendapat suntikan semangat dan dukungan moral dari staff dan dokter Surabaya Skin Centre. |A. Ginanjar|

back to top