Menu
Mahasiswa UGM ikutkan mobil balap rakitan sendiri ke Kompetisi Internasional

Mahasiswa UGM ikutkan mobil balap r…

Sleman-KoPi|Tim Bimasakti...

Peringati HUT RI ke 72 Resto Madam Tan buat ketan merah putih 17 meter

Peringati HUT RI ke 72 Resto Madam …

Jogja-KoPi|Untuk memperin...

Daging Kurban Disembelih Tidak Benar, Hukumnya Haram

Daging Kurban Disembelih Tidak Bena…

YOGYAKARTA, 15 AGUSTUS 20...

Serah Terima Jabatan Kepala Kantor SAR Yogyakarta

Serah Terima Jabatan Kepala Kantor …

YOGYAKARTA - Senin (14/08...

Penyadang disabilitas merasa diperlakukan tidak adil oleh pemerintah

Penyadang disabilitas merasa diperl…

Sleman-KoPi| Organisasi P...

Organisasi Penyandang Difabel ajak masyarakat kawal PP penyandang Difabel

Organisasi Penyandang Difabel ajak …

Sleman-KoPi| Organisasi P...

PCNU Sleman gelar aksi selamatkan Madrasah Diniyah dari Full Day School

PCNU Sleman gelar aksi selamatkan M…

Sleman-KoPi|Koalisi Masya...

Paket umrah 15-17 juta berpotensi tipu calon jemaah

Paket umrah 15-17 juta berpotensi t…

Jogja-KoPi|Kepala Kanwil ...

First Travel Jakarta yang bermasalah belum ditemukan di Yogyakarta

First Travel Jakarta yang bermasala…

Jogja-KoPi|Kementrian Aga...

674 Warga binaan Lapas DIY mendapat remisi Umum HUT RI 2017

674 Warga binaan Lapas DIY mendapat…

Jogja-KoPi|Kementrian Huk...

Prev Next

WARISAN AFI YANG TERCEMAR: MENGENCINGI AIR ZAM-ZAM

WARISAN AFI YANG TERCEMAR: MENGENCINGI AIR ZAM-ZAM

Terlepas dari adanya skenario massif, sistematis, dan terstruktur oleh kubu politik tertentu, mencuatnya nama Afi, perempuan kelahiran Banyuwangi, tidak pantas disandingkan dengan sosok Malala Yousafzai. Usia keduanya memang tidak terpaut jauh. Bulan kelahirannya sama: Juli. Sama persis dengan bulan kelahiran Saya. Malala lahir pada 12 juli 1997. Sedangkan, Afi lahir pada 23 juli 1998.

Perjalanan hidup Malala dipenuhi tragedi. Ia hidup dihantui kekejaman rezim teror Taliban. Anak-anak dilarang bersekolah, termasuk Malala dan anak perempuan lainnya. Jika ada sekolah yang memaksa mengadakan kegiatan pendidikan akan ditutup paksa oleh rezim Taliban. Latar belakang sosial inilah yang membuat Malala kritis terhadap kebiadaban rezim Taliban. Karena kritik kerasnya, Malala menjadi korban penembakan oleh anggota Taliban, sehingga, membuatnya harus dilarikan ke rumah sakit di Birmingham.

 

Sejak saat itulah, Malala tidak pernah berkompromi dengan dominasi politik yang dianggap mengekang dan membunuh masa depan pendidikan anak-anak, terutama anak-anak perempuan. Di saat menerima nobel perdamaian, Malala dengan tegas mengatakan: “Dengan senjata kita mampu membunuh teroris. Tapi, dengan pendidikan kita mampu menumpas terorisme”.

Berbeda halnya Afi asal Banyuwangi. Dia hidup di tengah zaman demokrasi yang jauh dari pahit getirnya situasi perang, apalagi, hidup tertindas di bawah kendali negara teror rezim orde baru (orba). Bahkan, pada saat peristiwa pembunuhan dukun santet yang merebak di Jawa Timur di penghujung periode kekuasaan rezim orba, Afi barangkali baru saja lahir ke bumi pertiwi ini.

Karena itu, proses pendidikan Afi boleh dibilang mulus. Bahkan, dia bisa menikmati indahnya melihat jendela dunia dari beragam buku bacaan dari bilik kamar rumahnya. Dengan kecanggihan teknologi dan perangkat komunikasi yang dia miliki, hasil refleksi bacaannya pun bisa dengan mudah diunggah melalui kelincahan ujung jari tangannya. Afi sepertinya tak pernah terlibat dengan praktik anomali kehidupan politik di sekitarnya.

Meskipun sebagian orang, termasuk sejumlah media massa, memposisikan Afi sebagai kelas proletar, tetapi spirit proletariatnya terkesan tidak melekat kuat di dalam kesadarannya. Seandainya, dia tidak hanya sebatas berkenalan dengan gagasan Freud, tetapi diperkaya juga dengan karya Marx (sang nabi kaum proletar), maka Afi akan sadar bahwa hidup tidak seindah drama korea.

Jika kita mencoba kilas balik sejenak, beberapa tahun lalu sudah ada seorang siswi asal kota Surabaya yang tulisannya jauh lebih kritis dan berani daripada Afi. Siswi itu dikenal dengan nama Nurmilaty Abadiah. Siswi SMA Khodijah ini pernah mengkritik Mendikbud karena program Unas yang begitu rumit dan pelik. Salah satu penggalan isi surat terbukanya adalah:

“Saya tantang Bapak untuk duduk dan mengerjakan soal Matematika yang kami dapat di UNAS kemarin selama dua jam tanpa melihat buku maupun internet. Jika Bapak bisa menjawab benar lima puluh persen saja, Bapak saya akui pantas menjadi Menteri. Kalau Bapak berdalih 'ah, ini bukan bidang saya', lantas Bapak anggap kami ini apa ? Apa Bapak kira kami semua ini anak OSN ? Apa Bapak kira kami semua pintar di Matematika, Fisika, Biologi, Kimia, Bahasa Indonesia, dan Bahasa Inggris sekaligus ? Teganya Bapak menyuruh kami untuk lulus di semua bidang itu ? Sudah sepercaya itukah Bapak pada kecerdasan kami?”

Saya yakin kesadaran Afi belum semendalam itu. Jangankan itu, kemampuannya menyimak suara hati orang lain perlu dikoreksi. Ketika diundang di kampus ternama di Indonesia yang berada di Jogjakarta, Afi selalu menyela pembicaraan beberapa peserta yang sedang serius bertanya. Mungkin kejadian ini bisa dimaklumi karena Afi belum terbiasa berdiskusi dalam mimbar akademik. Tetapi hal yang perlu diingat bahwa awal mula lahirnya tragedi ketika manusia dimabuk kepayang. Sehingga, kehendak untuk menjinakkan (will to taming) melenyapkan kemampuan mengkritik diri sendiri (self-critisism) (Nietzche, 1886).

Lain Afi lain pula Amelia. Lengkapnya, Amelia Nasution. Seorang siswi di Sumatera Utara ini bunuh diri setelah diintimidasi gurunya. Pasalnya, Amelia memposting terjadinya praktik kecurangan UNBK di akun media sosialnya. Atas insiden ini, sang guru memarahinya sambil mengancam Amelia dengan denda ratusan juta rupiah. Ancaman gurunya membuat Amelia gelisah. Dia akhirnya bunuh diri dengan cara menenggak racun dan menjemput ajalnya seketika. Jika berbicara warisan sebagai sarana membangun spirit kebangsaan, maka ungkapan kekecewaan Amelia melalui media sosialnya punya bobot yang sama dengan Afi.

Tetapi, mengapa tidak ada lilin, karangan bunga, ataupun ungkapan bela sungkawa nasional yang ditujukan pada Amelia ? Mengapa Afi lebih tenar hingga berhari-hari daripada Nurmilaty yang berani menyingkap silang-sengkarut kebijakan pendidikan di negeri ini ? Karena, sebagaimana yang dikatakan Richard Fenn (2001) bahwa dalam kondisi masyarakat yang penuh pemujaan, ketenaran seseorang tidak dibangun atas kharisma atau kesucian. Melainkan, melalui permainan kesan-kesan yang dibalik itu semua kegagalan kekuasaan didaur ulang.

Dengan demikian, ketenaran yang direngkuh Afi serupa epilepsi yang membuat pengidapnya berada di antara kesadaran dan ketidaksadaran yang terus diproduksi untuk menciptakan fantasi keberagama(a)n. Sadarlah Afi. Jalanmu masih panjang. Tuntaskan belajarmu terlebih dahulu. Agar, ketenaranmu tidak seperti kata pepatah: mengencingi air zam-zam.

 

 







back to top